Surabaya, 16 Maret 2026 - Bagi sebagian kawan, buka puasa bersama mungkin sekadar momen berkumpul dan menikmati hidangan setelah seharian berpuasa. Namun pada Sabtu, 7 Maret 2026, suasana di AADK Keputih Surabaya terasa sedikit berbeda. Kepengurusan periode 2026 dari AIESEC in Surabaya menggelar "Nirvana Bukber", sebuah agenda buka bersama yang tidak hanya menghadirkan kebersamaan Ramadhan, tetapi juga ruang berbagi cerita tentang pengalaman exchange lintas negara.
Acara dimulai dengan Local Committee President (LCP) AIESEC in Surabaya, Rozan Herdiwinata yang membagikan arah organisasi selama satu periode kedepan sekaligus mengapresiasi capaian AIESEC in Surabaya pada satu bulan pertama kepengurusan. Setelah itu, sesi dilanjutkan dengan penyampaian HR Tools oleh tim Talent Management (TM) yang memperkenalkan berbagai perangkat pengembangan anggota yang akan digunakan sepanjang masa kepengurusan.
Menjelang waktu berbuka, suasana berubah lebih santai. Anggota mulai berkumpul sambil berbincang dengan teman-teman dari departemen lain. Buka puasa pun menjadi momen sederhana untuk saling mengenal lebih dekat di luar rutinitas organisasi.
Usai berbuka, energi kebersamaan semakin terasa lewat engagement session yang dikemas dalam aktivitas ringan bernama ‘Velocity Challenge’. Para anggota membuat trend velocity singkat secara spontan bersama teman-teman di sekitarnya. Aktivitas ini dilakukan dengan santai dan penuh tawa, sekadar cara seru untuk mencairkan suasana sekaligus meninggalkan kenangan yang nantinya bisa dibagikan di media sosial.
Di tengah suasana hangat itu, Nirvana Bukber juga menghadirkan sesi berbagi cerita dari dua anggota AIESEC yang telah menjalani pengalaman exchange melalui program outgoing Global Volunteer.
Salah satu cerita datang dari Nickho, yang mengikuti proyek ‘On The Map’ di Taiwan selama 42 hari. Program ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDG) 8 tentang pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang layak. Selama disana, Nickho terlibat dalam aktivitas di sebuah mini farm yang juga berfungsi sebagai wisata edukasi. Ia membantu merawat hewan, menjaga area farm, hingga berinteraksi dengan para pengunjung yang datang.
Dari aktivitas sehari-hari itu, Nickho melihat langsung bagaimana usaha kecil dapat berjalan dan memberi nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar. Bagi Nickho, pengalaman tersebut membuka cara pandang baru tentang bagaimana komunitas lokal mengelola potensi mereka menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.
Cerita lain datang dari Azra, yang menjalani proyek ‘Global Classroom’ di Egypt selama kurang lebih lima minggu pada awal 2026. Proyek ini berfokus pada Sustainable Development Goals (SDG) 4: Quality Education.
Dalam program tersebut, Azra mengajar Bahasa Inggris kepada anak-anak usia 6–8 tahun di sebuah nursery school. Proses belajar berlangsung interaktif, dipadukan dengan aktivitas motorik, eksperimen sederhana, serta berbagai kegiatan yang mendorong rasa ingin tahu anak-anak di kelas.
Kawan, kisah dari Taiwan dan Egypt itu menunjukkan bahwa exchange bukan sekadar perjalanan ke luar negeri. Ada proses belajar, adaptasi, hingga pertemuan dengan cara pandang baru yang sering kali mengubah cara seseorang melihat dunia.
Lewat pengalaman seperti inilah AIESEC terus mendorong lahirnya ‘Leadership by exchange’, kepemimpinan yang tumbuh dari pengalaman nyata lintas budaya. Dan di sebuah ruangan sederhana di Keputih malam itu, cerita-cerita dari dunia terasa begitu dekat dengan anak muda.
Di balik buka puasa bersama malam itu, tersimpan cerita perjalanan yang menunjukkan bagaimana pengalaman lintas budaya membentuk cara kita melihat dunia.
Gimana, kawan? Penasaran bagaimana proses exchange bisa menjadi ruang belajar dan pembentukan kepemimpinan anak muda? Kawan dapat mengenal lebih jauh program dan inisiatif AIESEC melalui laman resmi AIESEC.org, serta mengikuti cerita kepemimpinan anak muda Surabaya di Instagram @aiesecsurabaya.
Grow beyond borders through exchange with AIESEC! (Marsha Nurrahmadina Muntahir)
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


