mh thamrin pejuang betawi yang dermawan kooperatif dan setia membela rakyat kecil - News | Good News From Indonesia 2026

MH Thamrin: Pejuang Betawi yang Dermawan, Kooperatif, dan Setia Membela Rakyat Kecil

MH Thamrin: Pejuang Betawi yang Dermawan, Kooperatif, dan Setia Membela Rakyat Kecil
images info

MH Thamrin: Pejuang Betawi yang Dermawan, Kooperatif, dan Setia Membela Rakyat Kecil


Mohammad Husni Thamrin, atau lebih dikenal sebagai MH Thamrin, merupakan salah satu tokoh nasional yang lahir di Sawah Besar, Batavia (kini Jakarta) pada 16 Februari 1894. Beliau berasal dari keluarga terpandang di masa kolonial.

Ayahnya, Tabri Thamrin, adalah seorang wedana di Batavia yang memiliki darah campuran Eropa-Inggris, sementara ibunya, Nurchomah, merupakan perempuan asli Betawi. Perpaduan dua garis keturunan itu menjadikan Thamrin sosok yang berpikiran terbuka, berpendidikan, dan memiliki empati sosial yang tinggi terhadap rakyat kecil.

Meskipun lahir dari keluarga yang berkecukupan, MH Thamrin tidak hidup bermewah-mewahan. Ia justru menaruh perhatian besar terhadap penderitaan rakyat pribumi yang hidup di bawah tekanan pemerintah kolonial Belanda.

Sejak muda, semangat nasionalismenya sudah tampak jelas. Pendidikan menengahnya ditempuh di Gymnasium Koning Willem III Batavia sebuah sekolah elit yang biasanya diperuntukkan bagi kalangan atas namun hal itu tidak membuatnya melupakan akar Betawi dan perjuangan bangsanya.

baca juga

Awal Karier dan Langkah di Dunia Politik

Perjalanan karier MH Thamrin dikutip dari laman zenius.net dimulai di dunia pemerintahan kolonial dan perusahaan pelayaran Belanda, Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM). Dari sinilah ia mulai memahami cara kerja sistem kolonial dan ketimpangan sosial yang diakibatkannya. Berbekal pengetahuan itu, Thamrin memilih jalur politik sebagai sarana perjuangan.

Pada tahun 1919, MH Thamrin dipercaya menjadi anggota Gemeenteraad (Dewan Kota Batavia). Dari sini, langkahnya semakin luas hingga akhirnya terpilih sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat Hindia Belanda) pada 1927.

Ia menjadi salah satu tokoh Betawi pertama yang duduk di lembaga tersebut. Di forum itu, Thamrin menggunakan suaranya untuk membela kepentingan rakyat kecil, menyoroti masalah pajak tinggi, perumahan kumuh, dan kondisi buruh yang tertindas.

Berbeda dengan sebagian tokoh pergerakan yang memilih jalur non-kooperatif, MH Thamrin menempuh jalan kooperatif. Ia percaya bahwa perubahan bisa diperjuangkan dari dalam sistem, dengan catatan perjuangan itu tidak mengkhianati rakyat. Prinsipnya sederhana namun tegas: kerja sama dengan pemerintah kolonial hanya dilakukan sejauh bisa membawa manfaat bagi bangsa Indonesia.

Meskipun disebut sebagai tokoh kooperatif, MH Thamrin tidak pernah tunduk pada penjajahan. Ia tetap vokal menentang ketidakadilan. Salah satu langkah penting yang dilakukan ialah mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi pada 1 Januari 1923. Organisasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat Betawi agar lebih aktif dalam perjuangan sosial dan politik.

Di Volksraad, Thamrin berani memperjuangkan penghapusan poenale sanctie, yaitu sistem hukuman kejam bagi pekerja kontrak di perkebunan. Ia juga menolak keras istilah “Inlander” yang dianggap merendahkan pribumi.

Thamrin mengusulkan agar istilah tersebut diganti dengan “Indonesia” dan “Indonesisch” sebagai bentuk pengakuan terhadap identitas bangsa yang merdeka. Sikap ini menunjukkan bahwa perjuangannya bukan sekadar politik praktis, tetapi juga perjuangan simbolik untuk martabat bangsa.

Bagi MH Thamrin, nasionalisme tidak selalu diwujudkan lewat perlawanan bersenjata. Perubahan juga bisa dilakukan dengan kecerdasan, diplomasi, dan kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Pandangannya ini menjadikannya figur yang unik—seorang politisi yang kooperatif, namun tetap kritis dan berani menentang ketidakadilan kolonial.

Pejuang yang Dermawan dan Peduli Sosial

Di luar dunia politik sebagaimana dikutip dari laman vredeburg.id MH Thamrin dikenal sangat dermawan. Ia sering membantu masyarakat Betawi yang hidup dalam kesulitan. Salah satu kontribusi besarnya adalah memberikan lahan dan dana pribadi untuk membangun lapangan sepak bola di kawasan Petojo, Batavia. Dari lapangan inilah cikal bakal klub sepak bola legendaris Jakarta lahir.

Perhatiannya terhadap kondisi sosial juga terlihat ketika ia memperjuangkan perbaikan kampung-kampung di Batavia. Thamrin mengusulkan pembangunan kanal dan sistem drainase untuk mencegah banjir yang kerap melanda kawasan padat penduduk. Baginya, kesejahteraan rakyat kecil sama pentingnya dengan kemerdekaan bangsa.

Sikap dermawan itu membuat MH Thamrin dicintai masyarakat. Ia tidak hanya berbicara di ruang sidang, tetapi juga turun langsung membantu kebutuhan rakyat. Citra “pejuang rakyat” bukan sekadar julukan, melainkan bukti nyata dari dedikasinya terhadap kehidupan masyarakat Betawi.

Perjuangan MH Thamrin berakhir tragis. Pada 6 Januari 1941, pemerintah kolonial menuduhnya memiliki simpati terhadap Jepang. Rumahnya digeledah, dan ia dijadikan tahanan rumah. Beberapa hari kemudian, pada 11 Januari 1941, MH Thamrin meninggal dunia di kediamannya di Sawah Besar dalam keadaan sakit. Jenazahnya dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta, dan kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi bangsa Indonesia.

Sebagai bentuk penghormatan, pada tahun 1960 pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada MH Thamrin. Namanya diabadikan sebagai salah satu jalan utama di Jakarta Jalan MH Thamrin dan wajahnya tercetak di uang pecahan Rp2.000 yang beredar hingga kini. Semua itu menjadi simbol penghargaan atas jasa besar seorang putra Betawi yang memperjuangkan keadilan tanpa pamrih.

Warisan dan Teladan Bagi Generasi Masa Kini

Warisan perjuangan MH Thamrin tetap relevan hingga sekarang. Ada beberapa nilai penting yang bisa dipelajari dari sosoknya:

  1. Perjuangan Tidak Harus Melalui Senjata
    Thamrin menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai melalui diplomasi, kebijakan, dan keberanian berbicara di ruang kekuasaan.

  2. Kepedulian Sosial sebagai Wujud Nasionalisme
    Membela rakyat kecil, memperhatikan kesejahteraan buruh, dan memperjuangkan lingkungan yang layak adalah bentuk nyata cinta tanah air.

  • Identitas Lokal yang Menguatkan Nasionalisme
    Sebagai orang Betawi, Thamrin berhasil menggabungkan identitas lokal dan semangat nasional menjadi satu kekuatan moral dalam perjuangan.

  • Nama MH Thamrin tidak sekadar menghiasi papan jalan atau lembar uang kertas. Di balik itu, ada kisah perjuangan seorang bangsawan Betawi yang memilih berdiri di sisi rakyat. Ia menempuh jalan politik yang rumit, tapi tetap teguh memperjuangkan keadilan. Sikapnya yang sederhana, dermawan, dan berpihak pada kaum lemah menjadi teladan bagi generasi masa kini.

    baca juga

    MH Thamrin membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu tentang perang, melainkan tentang keberanian menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan harkat manusia. Sosoknya akan selalu dikenang sebagai pahlawan kooperatif yang tak pernah kehilangan idealisme dan kepedulian terhadap sesama.

    Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

    Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

    YP
    KG
    Tim Editorarrow

    Terima kasih telah membaca sampai di sini

    🚫 AdBlock Detected!
    Please disable it to support our free content.