Esuk tempe sore dele (pagi tempe, sore kedelai) merupakan kiasan atau peribahasa Jawa untuk orang yang mengambil keputusan tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan atau apa yang dikatakan itu tidak konsisten, berubah-ubah. Kiasan tersebut sering dipraktikkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Semua kepala negara dan diplomat di dunia ini akhirnya sangat paham atas kebiasaan serta karakter Trump ini. Karena itu, negara-negara seperti Rusia, Cina, dan sekarang Iran sangat hati-hati bahkan cenderung tidak percaya apa yang dikatakan dan dijanjikan sosok tersebut. Para pemimpin negara-negara di planet ini menyebutkan bahwa sikap Trump sulit diduga atau unpredictable.
Baru-baru ini pada Sabtu (21/3/2026) pukul 23.44 GMT, Trump mengultimatum Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Jika Iran tidak patuh, kata Trump, Washington akan menghancurkan berbagai pembangkit listrik Iran
"Jika Iran tidak sepenuhnya membuka, tanpa ancaman, Selat Hormuz dalam 48 jam sejak saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar!" kata Trump.
Artinya, Iran memiliki waktu hingga Senin (23/3/2026) pukul 23.44 GMT atau Selasa (24/3/2026) pukul 3.14 waktu Teheran untuk memenuhi tuntutan tersebut.
Seperti diketahui, dalam perang antara Israel-AS melawan Iran, Selat Hormuz yang merupakan choke point atau wilayah laut yang sempit di dekat wilayah negara Iran diancam ditutup oleh Iran. Padahal berdasarkan laporan Maret 2026, sebelum konflik rata-rata ada lebih dari 100-130 kapal tanker minyak setiap hari yang mengangkut sekitar 20 minyak atau lebih dari 20% kebutuhan minyak global. Iran mengancam akan menyerang kapal-kapal tanker minyak milik negara musuh utamanya, Amerika Serikat dan Israel, bila melewati selat itu.
Intelijen kedua negara memiliki data bahwa wilayah laut Hormuz sudah dipenuhi ranjau laut yang dipasang Iran, serta rudal-rudal canggihnya juga siap menggempur kapal-kapal tanker musuh. Selat yang penting bagi dunia ini merupakan laut penting bagi produsen minyak dunia yaitu Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.
Ancaman Trump di atas mendapat kecaman berbagai pihak terutama negara-negara yang sangat membutuhkan pasokan minyak seperti Cina, India, dan Jepang. Bahkan berbagai pihak di dalam negeri AS juga ikut mengkritik karena akan ancaman Trump berpotensi menyebabkan krisis ekonomi global yang berujung pada kelangkaan dan kenaikan harga minyak, gas, dan produk-produk petrokimia. Jika itu semua terjadi, perekonomian global bakal mandek, termasuk AS sendiri. Karena itulah hampir semua negara di dunia ini ketar-ketir akan ancaman Trump terhadap Iran.
Para politisi, kepala negara, dan akademisi dunia memperkirakan skenario yang akan terjadi. Pertama, Iran akan membuka Selat Hormuz sesuai ancaman Trump dan ini jelas merupakan kemenangan AS. Kedua, Iran membuka Selat Hormuz tapi hanya untuk negara-negara sahabat. Terakhir, di luar dugaan Trump, Iran melawan atau menantang Trump dengan tetap menutup Selat Hormuz dan melakukan serangan balasan. Bila seluruh tenaga pembangkit listriknya dihancurkan, maka Iran akan menyerang tenaga pembangkit listrik milik negara-negara sekutu AS di kawasan Timur Tengah. Serangan balasan itu juga menyasar fasilitas penyulingan air milik AS dan sekutunya itu seperti Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Yordania, Qatar, dan tentunya Israel.
Ternyata yang berlaku adalah skenario terakhir, yaitu Iran akan melawan segala bentuk serangan AS (dan Israel) dengan perlawanan yang sangat brutal. Dunia tegang menunggu apa yang akan terjadi.
Lalu tiba-tiba sebelum tenggat waktu ancaman, Trump mengatakan AS telah menggelar pembicaraan yang produktif dengan Iran mengenai penyelesaian lengkap dan total atas konflik di Timur Tengah. Trump mengatakan akan menunda segala serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama periode lima hari.
Dalam sebuah unggahan di TruthSocial, Trump menulis pesan berikut:
"Saya dengan senang hati melaporkan bahwa Amerika Serikat, dan negara Iran, telah selama dua hari terakhir melakukan pembicaraan yang sangat baik dan produktif terkait penyelesaian lengkap dan total atas permusuhan kita di Timur Tengah. Berdasarkan suasana dan nada dari pembicaraan mendalam, terperinci, dan konstruktif ini, yang akan berlanjut sepanjang pekan, saya telah memerintahkan departemen perang untuk menunda segala serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama periode lima hari, tergantung pada keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!"
Akan tetapi, Kementerian Luar Negeri Iran membantah telah terjadi perundingan antara Iran dan AS. Pihak berwenang menilai hal itu merupakan taktik psychological war AS saja. Iran sejak awal tidak akan menerima gencatan senjata yang ditawarkan AS karena merasa dibohongi oleh Trump (dan Netanyahu). Iran pun bersumpah untuk meneruskan perang, apalagi AS dan Israel telah melakukan pembunuhan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan para petinggi Iran lainnya termasuk lebih dari 160 gadis-gadis kecil murid sekolah.
Sebelumnya, inkonsistensi Trump lewat kebiasaannya berbicara isuk tempe, sore dele itu sudah dicatat dunia lewat perundingan yang sedang berlangsung soal peredaan senjata nuklir Iran. Perundingan yang dimediasi Oman dikabarkan berjalan dengan baik dan optimis, tetapi tiba-tiba AS (dan Israel) tanpa persetujuan Kongres melakukan pemboman di wilayah Iran dan membunuh para pemimpinnya. AS lalu berkilah bahwa serangan itu untuk membantu demonstran Iran yang menentang pemerintahnya, lalu alasannya berubah lagi bahwa serangan itu merupakan reaksi dari ancaman nuklir Iran yang akan menyasar AS dalam waktu dekat. Setelahnya, alasannya pun kembali berubah di mana kali ini klaimnya adalah serangan harus dilakukan untuk menggulingkan pemerintahan Iran (regime change), dan terakhir mengatakan bahwa AS sudah melakukan perundingan yang produktif dengan Iran untuk mengakhiri konflik di mana Iran membantah telah melakukan perundingan damai ini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


