Siapa di sini yang tidak menyukai musik? Kalaupun ada, mungkin itu perbandingannya satu dari sekian miliar manusia. Seperti dikutip dari kumparan.com (18/12/2023), musik telah menjadi bagian vital dari kehidupan manusia sepanjang sejarah peradaban.
Musik memberikan kedalaman maupun kekayaan makna yang sedemikian kompleks. Secara filosofis, musik dianggap sebagai bentuk ekspresi emosi, kreativitas dan ekspresi diri, harmoni dan ketidaksempurnaan, waktu dan perubahan, komunitas dan keterhubungan, refleksi atas maksud hidup, serta kebebasan dan keterbatasan. Bisa diketahui betapa peliknya esensi musik bagi manusia.
Pada kali ini, kita akan coba intensif mempelajari kekhasan musik dari Indonesia bagian Timur. Memang, seperti apa kekhasan yang dimaksud?
Proses Perkembangan
Melansir katadata.co.id (7/3/2026), salah satu lagu pop Indonesia Timur, yaitu Tabola-Bale dinilai sukses meraup popularitas secara nasional. Per 3 Maret 2026, disebutkan Tabola-Bale berhasil memperoleh jumlah kali ditonton sebesar 467 juta pada platform YouTube, disusul dengan Stecu Stecu sebesar 202 juta, Orang Baru Lebe Gacor sebesar 164 juta, dan Ngapain Repot sebesar 124 juta.
Ini kiranya menandakan animo masyarakat yang sangat tinggi terhadap kehadiran tipe musik demikian. Para pengamat berpendapat bahwa walaupun skalanya terasa lebih besar, namun komposisi pada musiknya sendiri tidak banyak mengalami perubahan yang signifikan.
Aris Setiawan selaku etnomusikolog dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mengemukakan formula musik Indonesia Timur yang berseliweran saat ini dalam algoritma media sosial sejatinya masih sama dengan periode yang lalu-lalu. Mulai dari lagu Poco-Poco milik Yopie Latul yang tenar pada dekade 2000-an awal hingga Gemu Fa Mi Re milik Nyong Franco yang populer sekitar dua lustrum silam.
“Yang berubah bukanlah musiknya, tetapi ruang edarnya,” terang beliau kepada media (9/2).
Selain itu, diketahui bahwa musik dari Indonesia Timur relatif berbunyi di sela ketukan kuat, baik melalui instrumen gitar, kibor, serta berbagai perkusi tambahan, sehingga membuat kesan keseluruhan musik terasa lebih cepat. Lazimnya, musik pop menggunakan birama 4/4. Birama ini mengharuskan empat ketuk di dalam sebuah bar, dengan nilai seperempat pada setiap ketukannya. Bunyi di sela ketukan kuat dapat diartikan bahwa tidak ada jeda atau ‘ruang kosong’ yang berada di antara ketukan utama.
Bunyi yang dimaksudkan mengisi ruang kosong itu selalu muncul berulang di sepanjang lagu, yang dikenal sebagai looping beat. Sirkulasi akor yang terus berulang dalam karakteristik musik pop dimanfaatkan pula oleh para musisi musik pop Indonesia Timur kiwari guna mengakomodasi aspek ritme tersebut.
Dengan demikian, fokus musik sudah bukan tentang eksplorasi melodi dan harmoni, tetapi soal pola ritme. Inilah yang menjadikan musik Indonesia Timur terasa akan nuansa ritmisnya dengan aspek perkusif yang padat.
Menelaah dari Intensitas Vokal: Dinilai ‘Berjodoh’ dengan TikTok
Menurut Aris, adanya perbedaan karakter vokalisasi pada setiap musik dapat dilacak dari konstruksi kebahasaan dan budaya tutur atau logat tempat musik tersebut berasal. Ciri vokal dalam musik berkebudayaan Jawa seperti halnya karawitan hingga campursari dianggap lebih mendayu. Dalam satu kata, bisa terkandung beberapa nada. Gaya semacam ini seringkali disebut juga dengan melismatis.
Ini cenderung kontras dalam banyak musik Indonesia Timur, yang mana setiap kata memiliki nada yang berbeda, sehingga menciptakan kesan ritmis yang ‘lebih bergerak’. Dilihat dari sisi kuantitatifnya, perubahan ritme vokal lagu “Pamer Bojo” dan “Renungkanlah” terjadi dengan rerata 1,04 kali per detik. Interval antarperubahannya pun sekitar 0,96 detik. Ini mengindikasikan bahwa hampir satu detik penuh dibutuhkan sebelum terjadi pergeseran ritme vokal berikutnya.
Dibandingkan dengan “Tabola-Bale” dan “Orang Baru Lebe Gacor”, perubahan ritme vokal kedua lagu tersebut mencapai rerata 2,08 kali per detik, dengan interval hanya sekitar 0,48 detik. Maka dengan kata lain, musik Indonesia Timur memproduksi perubahan ritme hampir dua kali lebih banyak ketimbang musik dangdut.
Adapun gaya vokal dalam musik Indonesia Timur juga tidak lepas dari pengaruh rap yang menekankan kecepatan dan permainan rima. Skema rap sendiri sudah jauh berkembang khususnya di wilayah NTT, Maluku, dan Papua. Ecko Show, rapper beken asal Gorontalo diketahui terlibat dalam kolaborasi lagu Orang Baru Lebe Gacor, yang mendapat penghargaan sebagai Penyanyi Solo Rap/Hip Hop Terbaik.
Lebih lanjut, Aris mengamati adanya kesinambungan antara karakter musikal khas Timur dengan kultur platform TikTok. Menurutnya, kebangkitan musik Indonesia Timur tak bisa dilepaskan dari perubahan upaya individu dalam menampilkan dirinya di media sosial. Platform ini berfokus pada video pendek—seringnya dengan durasi kurang dari 60 detik—yang mengedepankan konsumsi tontonan cepat. Penggunanya bukan hanya penonton semata, tetapi juga produsen: menonton video joget, lalu membuat versi pribadi dengan lagu yang sama.
Sebagai contoh, lagu Tabola-Bale banyak beredar dalam berbagai versi, yaitu orisinal, potongan berdurasi pendek, sampai model remix yang telah dimodifikasi. Adapun versi yang mayoritas digunakan justru yang berdurasi kurang dari satu menit atau yang telah digarap ulang supaya vibes-nya lebih ngena dalam waktu singkat.
Timurnesia: Konteks yang Menimbulkan Perdebatan bagi Berbagai Pihak
Melihat potensi dari musik Indonesia Timur, membuat pemerintah tidak tinggal diam. Seperti Menteri Kebudayaan, Fadli Zon yang mendorong penggunaan istilah “Timurnesia” sebagai penanda identitas budaya. Upaya ini dinilai sebagai proses pengakuan terhadap kontribusi wilayah Timur dalam lanskap kebudayaan nasional, yang memang selama ini masih Jawa-sentris.
Meskipun demikian, langkah pemerintah ini memicu polemik untuk sebagian pihak, terutama dari kalangan seniman Indonesia Timur itu sendiri. Mengutip tirto.id (11/2/2026: diperbarui), musisi asal Labuan Bajo, Aden Firman menganggap pencetusan Timurnesia terkesan terburu-buru untuk ditetapkan sebagai genre. Baginya, fenomena yang baru-baru ini disebut sebagai “lagu Timur” seharusnya diberi ruang waktu yang lebih panjang dan organik untuk bertumbuh. Apalagi musik ini telah lebih dulu viral secara alamiah, bahkan semenjak dipergunakan demi kepentingan hajatan atau pesta.
“Usulan Timurnesia tampaknya lebih memberi kesan menandai dirinya sebagai kumpulan dilema lama dari kawasan timur Indonesia yang serba terbatas, ketimbang benar-benar hadir sebagai sebuah genre,” tutur Aden ketika dihubungi Tirto (6/2).
Pada kesempatan lain, penyanyi asal NTT, Andmesh Kamaleng pun menyarankan supaya para penggagas Timurnesia kembali dipertemukan dengan melibatkan lebih banyak musisi Indonesia Timur dalam diskusi lanjutan.
“Ini sebenarnya hanya saran. Mungkin ada baiknya para pencetus “genre” bisa duduk lagi bersama dan mengajak musisi-musisi lain dari timur untuk berembuk bareng,” demikian sebagian tulisannya dari akun Instagram pribadi.
Bagaimanapun perkembangannya kini, musik dari Indonesia Timur layak mendapatkan apresiasi tinggi, karena boleh berperan menyeimbangkan dominasi kultur Jawa. Kiranya daerah-daerah lain bisa meniru semangat dan upaya dalam memperkenalkan budaya masing-masing kepada khalayak ramai.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


