pulau enggano surga tersembunyi di ujung barat indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Pulau Enggano: Surga Tersembunyi di Ujung Barat Indonesia

Pulau Enggano: Surga Tersembunyi di Ujung Barat Indonesia
images info

Pulau Enggano: Surga Tersembunyi di Ujung Barat Indonesia


Indonesia memiliki ribuan pulau, tetapi tidak semuanya dikenal luas masyarakat. Salah satu yang masih jarang terekspos adalah Pulau Enggano, sebuah pulau terpencil di Samudra Hindia, barat daya Pulau Sumatera, Provinsi Bengkulu.

Pulau ini tidak hanya menonjol karena posisinya sebagai pulau terluar Indonesia, tetapi juga karena keindahan lautnya, ekosistem yang unik, dan keberadaan masyarakat adat yang masih memegang tradisi turun-temurun.

Pulau Enggano memiliki daya tarik tersendiri bagi mereka yang ingin menjelajahi alam Indonesia yang masih asli dan belum banyak dijamah wisatawan. Oleh karena itu, yuk Kawan GNFI simak penjelasannya berikut ini.

Pulau Terluar

Peta Pulau Enggano
info gambar

Peta Pulau Enggano | Wikimedia Commons | Geoethno


Pulau Enggano termasuk salah satu pulau terluar Indonesia di sebelah barat Sumatra. Dari daratan utama, jaraknya sekitar 100 kilometer ke Samudra Hindia, sehingga membuatnya relatif sepi dari kunjungan wisatawan. Posisi yang terpencil ini menjadikan Enggano memiliki keaslian alam yang masih terjaga dan suasana yang berbeda dibandingkan pulau-pulau lain di Indonesia.

Luas Pulau Enggano diperkirakan mencapai sekitar 40.000 hektare. Secara astronomis, pulau ini berada pada koordinat 05°31'13 Lintang Selatan dan 102°16'00 Bujur Timur. Garis pantainya membentang sepanjang kurang lebih 126,71 kilometer, dengan bentuk pulau yang memanjang sekitar 35,60 kilometer dari arah barat laut ke tenggara, serta memiliki lebar sekitar 12,95 kilometer dari timur laut ke barat.

Melansir dari Kompas.com akses ke pulau ini bisa ditempuh melalui jalur laut dan jalur udara. Jalur laut dapat ditempuh dengan menggunakan kapal dari Bengkulu ke pelabuhan Malakoni dan Kahyapu di Enggano. Sementara jalur udara dapat menggunakan penerbangan dari Bandara Fatmawati Soekarno menuju Bandar Udara Enggano menggunakan maskapai Susi Air.

baca juga

Ekosistem Terumbu Karang

Mengutip dari artikel berjudul “Manfaat Ekonomi Kelangsungan Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Pulau Enggano Provinsi Bengkulu: Sebuah Telaah Pustaka” oleh (Siregar et al., 2023), Pulau Enggano memiliki beragam potensi sumber daya hayati yang mampu mendukung perekonomian masyarakat sekitarnya, salah satunya adalah ekosistem terumbu karang yang menjadi rumah bagi ribuan spesies ikan dan biota laut lainnya. 

Sebaran terumbu karang di wilayah ini terdapat di sejumlah perairan, seperti Tanjung Lakoaha, Tanjung Kioyeh, Tanjung Keramai, Tanjung Labuha, Tanjung Kahabi, Teluk Harapan, Kaana, serta di sekitar Pulau Dua, Pulau Merbau, dan Pulau Satu.

Keberadaan ekosistem terumbu karang tersebut menjadi salah satu penopang utama kehidupan masyarakat lokal. Bagi para nelayan, kawasan ini dimanfaatkan sebagai daerah penangkapan ikan yang penting, sekaligus menjadi sumber penghidupan sehari-hari. Namun, ekosistem terumbu karang ini juga menghadapi tantangan, seperti perubahan iklim, dan potensi penangkapan ikan yang merusak.

baca juga

Masyarakat Adat Pulau Enggano

Tari Perang Suku Enggano
info gambar

Tari Perang Suku Enggano | Wikimedia Commons | Lentera Merah


Selain keunikannya sebagai salah satu pulau terluar di Indonesia dan kearifan ekosistem terumbu karangnya, Pulau Enggano juga istimewa karena keberadaan masyarakat adatnya yang masih menjaga tradisi secara turun-temurun.

Melansir dari brwa.or.id, masyarakat adat Pulau Enggano terdiri dari enam kelompok utama, yaitu Kaitora, Kaahoao, Kaarubi, Kaharuba, Kauno, dan Kaamay. Berdasarkan cerita yang ada, asal-usul mereka berawal dari sosok perempuan bernama Kimanipe yang diyakini sebagai manusia pertama di pulau tersebut.

Dari keturunannya kemudian berkembang menjadi beberapa kelompok suku yang membentuk struktur sosial masyarakat Enggano saat ini.

Dalam sejarahnya, masyarakat Enggano sempat mengalami konflik antarkelompok yang berlangsung hingga abad ke-18. Perdamaian kemudian tercapai pada tahun 1882 di wilayah Teluk Brahau, yang menjadi titik penting dalam menyatukan kembali hubungan antarsuku. Sejak saat itu, persatuan diperkuat melalui kesepakatan adat dan hubungan kekerabatan, termasuk melalui perkawinan antarsuku.

Masyarakat Enggano menganut sistem matrilineal, di mana garis keturunan ditarik dari pihak perempuan. Mereka juga memiliki struktur kepemimpinan adat yang dikenal sebagai Paabuk’i, serta sistem nilai leluhur yang menjadi pedoman dalam kehidupan sosial.

Selain itu, masyarakat adat Enggano masih menjaga kekayaan budaya yang diwariskan secara turun-temurun, seperti rumah adat, pakaian tradisional, serta berbagai kesenian dan upacara adat. Di tengah berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan akses hingga perubahan lingkungan, masyarakat tetap berupaya mempertahankan identitas dan kelestarian budaya mereka.

Jadi, bagaimana Kawan GNFI, tertarik untuk menjelajahi keindahan dan keunikan Pulau Enggano?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Amanda Jingga Rambadani lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Amanda Jingga Rambadani.

AJ
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.