Balakacida, atau yang dikenal secara ilmiah sebagai Chromolaena odorata, selama ini lebih sering dianggap sebagai gulma yang mengganggu. Tanaman dari keluarga Asteraceae ini tumbuh liar di berbagai wilayah tropis, termasuk Indonesia. Di sejumlah daerah, balakacida memiliki banyak nama lokal seperti kirinyuh, rumput putih, hingga komba-komba di Sulawesi.
Secara fisik, tanaman ini memiliki akar tunggang dan batang berwarna kekuningan. Tingginya umumnya sekitar satu meter, tetapi dalam kondisi tertentu dapat tumbuh lebih tinggi hingga beberapa meter. Balakacida juga dikenal sebagai tanaman yang mudah beradaptasi karena dapat tumbuh di tanah kering maupun lembap. Salah satu wilayah persebarannya adalah di kawasan Hutan Cagar Alam Napabalano, Sulawesi Tenggara.
Khasiat yang Sudah Lama Dimanfaatkan
Meski kerap dianggap sebagai tanaman pengganggu, balakacida sebenarnya telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat. Daunnya mengandung berbagai senyawa aktif seperti flavonoid, fenolik, saponin, tanin, dan terpenoid. Kandungan ini membuatnya digunakan dalam pengobatan tradisional.
Masyarakat biasanya memanfaatkan daun balakacida untuk mengobati luka luar dengan cara dilumatkan, lalu ditempelkan pada bagian yang terluka. Selain itu, ekstrak daun dan akar juga digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan seperti sakit maag atau muntah darah.
Tidak hanya di bidang kesehatan, tanaman ini juga dimanfaatkan sebagai pestisida nabati. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa balakacida efektif untuk mengendalikan hama seperti rayap, kecoa, hingga pencucuk buah kakao. Bahkan, terdapat temuan bahwa ekstraknya dapat bersifat racun bagi beberapa jenis nyamuk.
Dari Gulma Menjadi Material Baterai
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa balakacida memiliki potensi yang jauh lebih besar, yaitu sebagai bahan dalam teknologi energi. Penelitian yang dilakukan oleh tim dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang dipimpin oleh Abd Mujahid Hamdan berhasil mengolah tanaman ini menjadi material katoda baterai lithium-ion.
Penelitian tersebut tidak dilakukan sendiri, tetapi melibatkan kolaborasi dengan berbagai lembaga seperti Institut Teknologi Bandung, Badan Riset dan Inovasi Nasional, serta Universitas Syiah Kuala. Tujuannya adalah mengembangkan bahan baterai yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
Hasil riset menunjukkan bahwa material berbasis balakacida memiliki kapasitas penyimpanan energi yang 22,73 persen lebih tinggi dibandingkan grafit komersial. Selain itu, efisiensi coulombic-nya hampir mencapai 99 persen, yang menunjukkan kinerja yang sangat baik dalam proses pengisian dan pelepasan energi.
Dampak bagi Energi dan Lingkungan
Pemanfaatan balakacida sebagai material baterai memberikan dua keuntungan sekaligus. Di satu sisi, inovasi ini meningkatkan performa baterai lithium-ion yang banyak digunakan dalam kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi. Di sisi lain, penggunaan tanaman ini membantu mengurangi limbah biomassa serta menekan ketergantungan pada bahan baku impor.
Rektor UIN Ar-Raniry, Mujiburrahman, menyampaikan apresiasi terhadap penelitian tersebut. Ia mengatakan, “Inovasi ini menjadi bukti bahwa sumber daya lokal dapat diolah menjadi teknologi yang bernilai tinggi dan mendukung kemandirian energi nasional.”
Pendekatan ini juga sejalan dengan upaya global dalam mengembangkan teknologi energi yang lebih berkelanjutan. Dengan memanfaatkan bahan alami yang melimpah, produksi baterai dapat menjadi lebih ramah lingkungan.
Langkah Selanjutnya Menuju Aplikasi Nyata
Meski hasil penelitian menunjukkan potensi besar, pengembangan balakacida sebagai material baterai masih terus berlanjut. Tim peneliti berencana melakukan pengujian lebih lanjut untuk memastikan stabilitas material dalam jangka panjang serta kesesuaiannya dengan berbagai perangkat.
Selain itu, kerja sama dengan sektor industri mulai dijajaki agar inovasi ini dapat segera diterapkan secara luas. Jika berhasil dikembangkan dalam skala besar, balakacida tidak lagi hanya dikenal sebagai gulma, tetapi juga sebagai bagian dari solusi energi masa depan.
Transformasi ini menunjukkan bahwa tanaman yang selama ini diabaikan dapat memiliki nilai strategis ketika diteliti dan dikembangkan secara ilmiah. Dengan dukungan riset dan kolaborasi yang berkelanjutan, balakacida berpotensi menjadi salah satu sumber inovasi penting dalam pengembangan energi bersih di Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


