awam prakoso tanggapi meningkatnya fenomena fatherless - News | Good News From Indonesia 2026

Awam Prakoso Tanggapi Meningkatnya Fenomena Fatherless

Awam Prakoso Tanggapi Meningkatnya Fenomena Fatherless
images info

Awam Prakoso Tanggapi Meningkatnya Fenomena Fatherless


Awam Prakoso merupakan pendiri Kampung Dongeng Indonesia, sebuah lembaga sosial yang berdedikasi memberikan kebahagiaan dan pendidikan kepada anak-anak melalui media cerita. Berkecimpung di dunia dongeng selama lebih dari dua dekade, Kak Awam telah berkeliling dari sabang sampai Merauke—bahkan hingga ke mancanegara—hanya untuk satu misi: menyebarkan virus keceriaan.

Awalnya, Awam memulai karier dengan kecintaan pada dunia seni peran dan suara. Namun, ia menyadari bahwa dunia anak-anak memiliki urgensi besar akan kehadiran sosok yang bisa membimbing mereka lewat cara yang menyenangkan. Dari sanalah, ia mulai memfokuskan diri menjadi pendongeng profesional.

Bahasa Ibu

Salah satu pencapaian terbesar Awam Prakoso adalah mendirikan Kampung Dongeng pada tahun 2009. Berpusat di Ciputat, Tangerang Selatan, kini komunitas ini telah memiliki 200 titik cabang yang tersebar di 28 provinsi.

Awam memahami adanya perbedaan budaya dan bahasa di banyak cabangnya, sehingga ia mengajak rekan pendongeng untuk menyusaikan diri ketika menyampaikan cerita ke anak-anak. Ia menegaskan bahwa sangat baik menggunakan bahasa ibu khususnya dalam mengambil hati anak.

“Kami punya bahasa Ibu, kan setiap pendongeng di daerah pasti beda-beda. Ada bahasa Bugis, Sunda, Jawa, kemudian Dayak, dan seterusnya. Ini adalah keberagaman dan Kampung Dongeng memang berfokus ke sana,” ujar Awam kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.

Menurut Awam sendiri bahasa memang menjadi kendala saat mendongeng. Maka dari itu pendekatan emosional ditonjolkan tatkala pendongeng bercerita dan mengekspresikan kisahnya di depan anak.

“Kalau Kak Awam pribadi pasti (terkendala). Kan justru Kampung Dongeng disiapkan di berbagai daerah itu sehingga teman-teman lebih mudah untuk menjadi sebuah ekosistem yang keterkaitannya dengan pendekatannya secara emosional, anak-anak satu daerah dengan daerah lain, kami punya pasukan-pasukan yang memang berada di titik-titik yang anak-anak pasti merasa nyaman berkomunikasi,” ujarnya.

Fenomena Fatherless

Peran ayah menjadi krusial dalam tumbuh kembang anak. Sayangnya, Indonesia mengalami fenomena fatherless yang nyata di mana menurut data Kemendukbangga/BKKBN pada 2025 sebanyak 25,8 persen anak di Indonesia mengalami kondisi tersebut. Awam sendiri melihat fenomena ini terjadi karena pola pikir ayah Indonesia yang cenderung mengedepankan prinsip bahwa tugas ayah ialah memenuhi nafkah keluarga.

“Fatherless itu ketidakhadiran seorang ayah yang tadi sudah kita bahas bahwa sesungguhnya seorang ayah Indonesia dikatakan fatherless karena faktornya mereka harus bekerja sangat kuat. Mereka menganggap bahwa tugas suami atau tugas seorang ayah adalah memenuhi nafkah saja,” ucap Awam.

Awam menilai fenomena fatherless bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan lewat pembekalan parenting. Ia mengharapkan dari situ tingkat pendampingan anak bisa terjadi sehingga keluarga harmonis bisa tercipta.

“Mendidik anak tidak boleh hanya dibebankan kepada ibu, tetapi juga ayah harus punya peran sehingga fatherless bisa dikurang bahkan dihilangkan. Ayah dan ibu ini pasangan yang memang sudah diberikan amanah oleh Allah untuk mengasuh buah hatinya. Jadi tidak ibu saja. Bahkan di dalam Al-Quran sendiri sudah banyak ayat lebih banyak disebutkan pengasuhan oleh ayah dan anak bukan ibu,” ujarnya lagi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dimas Wahyu Indrajaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dimas Wahyu Indrajaya.

DW
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.