candi kethek menelusuri jejak peruwatan terakhir majapahit di lereng lawu - News | Good News From Indonesia 2026

Candi Kethek, Menelusuri Jejak Peruwatan Terakhir Majapahit di Lereng Lawu

Candi Kethek, Menelusuri Jejak Peruwatan Terakhir Majapahit di Lereng Lawu
images info

Candi Kethek, Menelusuri Jejak Peruwatan Terakhir Majapahit di Lereng Lawu


 

Di antara barisan pinus yang menyelimuti lereng barat laut Gunung Lawu, berdiri sebuah struktur yang menolak tunduk pada waktu. Candi Kethek, yang terletak di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Karanganyar, memberikan keheningan yang berbeda dari kemegahan candi-candi di dataran rendah.

Berada pada ketinggian 1.486 mdpl, bangunan ini tidak memiliki relief rumit atau kemuncak yang menjulang, melainkan susunan batu kali yang membentuk piramida berundak, sebuah gaya arsitektur yang menghidupkan kembali tradisi megalitik di akhir masa Majapahit.

Nama "Kethek" yang berarti kera dalam bahasa Jawa. Bukanlah sebutan kuno dari prasasti, melainkan label yang diberikan masyarakat setempat. Sebutan ini lahir karena lokasi candi sering menjadi tempat berkumpulnya kawanan kera liar yang menghuni hutan di sekitar situs.

Untuk mencapainya, Kawan GNFI harus menempuh jalan setapak sejauh 300 meter dari arah timur laut Candi Cetho, menyeberangi sungai kecil yang hanya menyisakan air saat musim hujan, lalu memasuki kawasan hutan milik Perhutani.

 

Sekilas Mengenai Candi Kethek

Keberadaan situs ini sebenarnya sudah dilaporkan sejak tahun 1842, namun baru pada 2005 ekskavasi serius dilakukan oleh Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah bersama UGM.

Candi Kethek diperkirakan dibangun pada abad XV atau XVI Masehi, era di mana pengaruh Hindu mulai bercampur dengan kepercayaan asli nusantara di penghujung kejayaan Majapahit.

Berukuran sekitar 20 x 30 meter, struktur ini menghadap ke arah barat, mengikuti pola tata ruang yang serupa dengan Candi Cetho dan Candi Sukuh.

Landasan utama yang mengukuhkan Candi Kethek sebagai situs Hindu adalah temuan arca kura-kura di teras pertama.

Dalam mitologi Hindu, kura-kura merupakan jelmaan Dewa Wisnu (Akupa) yang menopang Gunung Mandara saat pengadukan samudra untuk mencari air keabadian atau Tirta Amerta. Keberadaan motif kura-kura memperkuat asumsi bahwa candi ini berfungsi sebagai tempat peruwatan, yakni ritual penyucian untuk membebaskan seseorang dari kesalahan atau dosa.

 

Daya Tarik dan Aktivitas di Candi Kethek

Struktur punden berundak di situs ini terdiri dari empat tingkatan yang saling terhubung oleh anak tangga di bagian tengah.

Teras pertama hingga ketiga merupakan pelataran terbuka yang dibatasi susunan batu kali, sementara pada teras ketiga terdapat sebuah pohon besar yang batangnya dibalut kain putih, sehingga menambah kesan sakral di tengah hutan.

Di puncak tertinggi atau teras keempat, kini berdiri sebuah stana kecil dengan kemuncak emas yang sering digunakan sebagai tempat upacara bagi umat Hindu yang berziarah.

Aktivitas utama yang kerap dilakukan di sini adalah pengamatan arkeologis dan meditasi di tengah alam. Karena lokasinya yang tersembunyi, Candi Kethek memberikan suasana yang jarang ditemukan di objek wisata sejarah lainnya.

Kawan GNFI dapat menyusuri setiap teras sambil membayangkan prosesi ritual kuno yang dilakukan ratusan tahun silam. Kesederhanaan bentuknya yang menyerupai piramida pun turut memberikan perspektif unik tentang bagaimana masyarakat masa lalu menyelaraskan bangunan suci dengan kontur alam pegunungan.

 

Akses dan Rute Perjalanan

Perjalanan menuju Candi Kethek dimulai dengan memasuki kawasan Candi Cetho terlebih dahulu. Dari teras keempat Candi Cetho, terdapat gerbang yang membuka jalan setapak menuju hutan. 

Jalurnya berupa jalanan berbukit yang landai namun cukup menguras tenaga bagi yang tidak terbiasa berjalan jauh. Kawan GNFI akan melintasi rimbunnya hutan pinus dan menyeberangi jembatan di atas sungai kecil yang mengering saat musim kemarau.

Secara administratif, situs ini berada di Kecamatan Jenawi, Karanganyar, Jawa Tengah. Jaraknya yang relatif dekat dengan Candi Cetho membuatnya menjadi destinasi tambahan yang wajib dikunjungi dalam satu rangkaian perjalanan.

Meskipun berada di tengah hutan, jalur menuju candi sudah tertata cukup jelas, namun kewaspadaan tetap diperlukan saat cuaca berkabut karena suhu di ketinggian 1.486 mdpl bisa turun cukup drastis di sore hari.

 

Harga Tiket dan Jam Operasional

Situs ini dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Harga tiket masuknya sangat terjangkau, yakni Rp1.000, yang biasanya dibayarkan sebagai bagian dari akses menuju kawasan situs Ceto.

Mengingat lokasinya yang berada di dalam hutan, disarankan untuk membawa bekal air minum dan makanan ringan sendiri karena tidak ada pedagang di area Candi Kethek.

Kawan GNFI juga diimbau untuk menjaga perilaku dan kebersihan, mengingat situs ini masih dianggap sebagai tempat suci dan sering digunakan untuk ritual keagamaan.

 

Ayo Menjelajahi Candi Kethek!

Menemukan Candi Kethek adalah upaya menghargai kesederhanaan di tengah megahnya sejarah Nusantara. Bangunan berundak ini membawa pesan soal penyucian diri dan keselarasan antara manusia, dewa, dan alam.

Berdiri di pelataran teratasnya, di bawah bayangan pinus yang berbisik, akan memberikan Kawan GNFI perspektif baru tentang ketenangan yang dicari para leluhur di puncak-puncak gunung.

Jadi, apakah Kawan tertarik berkunjung ke Candi Kethek?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.