Pada pertengahan April 2026, umat Hindu di Bali akan kembali menemui salah satu hari yang dianggap sakral, yakni Kajeng Kliwon Uwudan. Hari ini bukan sekedar penanggalan biasa, melainkan momen yang diyakini memiliki kekuatan spiritual yang kuat.
Pada bulan ini, Kajeng Kliwon Uwudan jatuh pada 13 April 2026. Di hari tersebut, umat Hindu biasanya melakukan berbagai upacara sebagai bentuk penyucian diri sekaligus menjaga keseimbangan alam.
Lalu, apa sebenarnya Kajeng Kliwon Uwudan, apa maknanya, dan apa saja yang perlu diperhatikan saat hari ini berlangsung?
Apa Itu Kajeng Kliwon Uwudan
Kajeng Kliwon Uwudan merupakan bagian dari siklus Kajeng Kliwon yang datang setiap 15 hari sekali dalam kalender Bali. Hari ini termasuk dalam jenis Kajeng Kliwon yang terjadi setelah purnama.
Istilah uwudan sendiri berasal dari kata uwud atau suud yang berarti selesai. Dalam konteks ini, Uwudan menandai berakhirnya fase terang bulan setelah purnama, sekaligus menjadi penanda menuju fase gelap atau tilem.
Selain Uwudan, ada juga jenis lain seperti Kajeng Kliwon Enyitan yang terjadi setelah tilem. Namun, Kajeng Kliwon Uwudan memiliki makna tersendiri karena berada di fase peralihan energi alam.
Kapan Kajeng Kliwon Uwudan April 2026 Dilaksanakan
Untuk bulan April 2026, Kajeng Kliwon Uwudan berlangsung pada 13 April 2026. Tanggal ini berada setelah fase purnama dan menjadi bagian penting dalam siklus spiritual umat Hindu.
Momentum ini sering dimanfaatkan untuk melakukan persembahyangan, menghaturkan sesajen, serta menjalankan ritual yang bertujuan menjaga keharmonisan antara manusia dan alam.
Karena terjadi dalam siklus rutin, Kajeng Kliwon bukan hanya perayaan, tetapi juga pengingat berkala untuk kembali menata keseimbangan diri.
Makna Kajeng Kliwon Uwudan bagi Umat Hindu
Di balik pelaksanaannya, Kajeng Kliwon Uwudan memiliki makna yang mendalam. Hari ini dipercaya sebagai waktu untuk menjaga keseimbangan antara dua unsur kehidupan, yaitu sekala (nyata) dan niskala (tak kasat mata).
Dalam ajaran Hindu, dikenal konsep bhuana agung (alam semesta) dan bhuana alit (diri manusia). Keduanya harus berjalan selaras agar tercipta kehidupan yang harmonis.
Pada hari ini, umat Hindu meyakini bahwa Sang Hyang Siwa hadir menjaga keseimbangan dunia. Karena itu, dilakukan yadnya atau persembahan sebagai bentuk bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Ritual seperti menghaturkan segehan juga dilakukan sebagai upaya menetralisir kekuatan negatif dari bhuta kala, agar tidak mengganggu kehidupan manusia.
Larangan saat Kajeng Kliwon Uwudan yang Perlu Diketahui
Selain sebagai hari suci, Kajeng Kliwon Uwudan juga dikenal sebagai hari yang cukup “tenget” atau memiliki energi kuat. Karena itu, ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari. Beberapa larangan yang dipercaya dalam tradisi ini antara lain:
Tidak disarankan keramas atau mencuci rambut
Menghindari hubungan intim
Tidak berkata kasar atau bersikap negatif
Tidak bepergian sendiri ke tempat yang dianggap angker
Larangan ini bukan tanpa alasan. Dalam kepercayaan masyarakat Hindu Bali, pada hari Kajeng Kliwon, energi bhuta kala sedang aktif, sehingga manusia dianjurkan menjaga diri, pikiran, dan perilaku agar tetap selaras.
Dengan menjaga sikap, diharapkan keseimbangan diri tetap terjaga dan terhindar dari pengaruh negatif.
Bolehkah Melukat saat Kajeng Kliwon Uwudan?
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah, bolehkah melukat saat Kajeng Kliwon Uwudan?
Jawabannya adalah boleh, bahkan hari Kajeng Kliwon Uwudan dianggap sebagai waktu yang baik untuk melukat.
Melukat merupakan ritual penyucian diri yang bertujuan membersihkan pikiran, tubuh, dan energi negatif. Karena Kajeng Kliwon Uwudan dipercaya memiliki kekuatan spiritual yang kuat, momen ini justru dimanfaatkan untuk proses pembersihan diri secara maksimal.
Biasanya, melukat dilakukan di tempat suci seperti pura, sumber mata air, atau laut. Tujuannya tidak hanya untuk menyucikan diri, tetapi juga memohon perlindungan dan ketenangan batin.
Kajeng Kliwon Uwudan bukan sekedar hari dalam kalender Bali, tetapi juga momentum penting untuk kembali menata keseimbangan hidup. Melalui ritual, larangan, hingga penyucian diri, hari ini mengajarkan pentingnya menjaga hubungan antara manusia, alam, dan nilai spiritual.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


