Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS Kesehatan) memastikan bahwa peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap mendapat layanan kesehatan tanpa biaya tambahan, selama insiden tersebut tidak ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh pemerintah daerah.
Melansir dari Antara News, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menjelaskan bahwa layanan ini berlaku bagi peserta aktif yang mengalami keluhan kesehatan terkait MBG. Jika insiden dikategorikan sebagai KLB, pembiayaan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.
Mengutip dari Kompas.com berdasarkan data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), jumlah siswa yang mengalami keracunan akibat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Januari–Februari 2026 mencapai 4.755 orang, dengan rata-rata 2.377,5 korban per bulan.
Menanggapi hal ini pun Badan Gizi Nasional (BGN) menyampaikan komitmennya untuk melakukan evaluasi dan perbaikan menyusul dugaan kasus keracunan makanan dalam program MBG.
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan bahwa pihaknya akan memperketat pengawasan dan prosedur keamanan pangan, guna memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Seiring dengan itu, penting bagi semua pihak untuk mengetahui langkah-langkah pencegahan keracunan makanan agar risiko gangguan kesehatan bisa diminimalkan.
Cara Mencegah Keracunan Makanan
Melansir dari laman Ayo Sehat Kemenkes, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah keracunan makanan:
Pilih bahan makanan yang segar dan aman
Periksa kualitas bahan makanan sebelum membeli, pastikan masih segar dan perhatikan tanggal kedaluwarsa.
Cuci bahan makanan sebelum dimasak
Cuci bersih buah, sayur, dan bahan lainnya untuk mengurangi kotoran atau bakteri yang menempel.
Cuci tangan dan peralatan masak
Selalu cuci tangan dengan sabun dan pastikan peralatan masak bersih sebelum dan sesudah menyiapkan makanan.
Pisahkan makanan mentah dan matang
Simpan dan olah makanan mentah dan matang secara terpisah untuk mencegah kontaminasi silang.
Masak makanan hingga matang sempurna
Pastikan semua makanan dimasak pada suhu yang tepat agar bakteri penyebab keracunan mati.
Panaskan kembali makanan sisa sebelum dikonsumsi
Pemanasan ulang dapat membantu mencegah pertumbuhan bakteri pada makanan yang disimpan sebelum
Meski sudah menerapkan langkah-langkah pencegahan, tetap penting untuk mengetahui gejala awal keracunan makanan. Dengan mengenali tanda-tanda sejak dini, penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan risiko komplikasi dapat dikurangi.
Tanda-Tanda Keracunan Makanan
Melansir dari Primaya Hospital, gejala keracunan makanan umumnya muncul dalam rentang 2–6 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi, meski pada beberapa kondisi bisa baru dirasakan hingga 24 jam kemudian. Berikut beberapa tanda yang perlu diwaspadai.
Mual dan muntah
Kondisi ini merupakan respons tubuh untuk mengeluarkan zat berbahaya dari sistem pencernaan. Jika terjadi berulang, dapat menyebabkan tubuh kekurangan cairan sehingga perlu segera diimbangi dengan minum air atau cairan elektrolit.
Diare
Ditandai dengan frekuensi buang air besar yang meningkat dan tekstur yang lebih cair. Dalam kondisi tertentu, bisa disertai lendir atau darah akibat iritasi usus dan berpotensi menyebabkan dehidrasi.
Nyeri perut dan kram
Rasa tidak nyaman pada perut muncul akibat peradangan pada saluran pencernaan. Biasanya disertai kembung dan kram yang datang tiba-tiba.
Demam dan menggigil
Gejala ini menunjukkan tubuh sedang melawan infeksi yang masuk melalui makanan yang terkontaminasi.
Tubuh terasa lemas dan tanda dehidrasi
Kehilangan cairan akibat muntah dan diare dapat membuat tubuh terasa lemah, pusing, serta muncul tanda seperti mulut kering dan urin berwarna lebih gelap. Mengonsumsi cairan elektrolit dapat membantu memulihkan kondisi tubuh.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


