Pesawat Cureng adalah salah satu saksi bisu perjuangan mempertahankan kemerdekaan pada masa Revolusi Indonesia. Bagaimana tidak, pesawat yang merupakan warisan dari Pendudukan Jepang ini menjadi salah satu armada tempur yang digunakan untuk mengusir Belanda dari wilayah Indonesia dulunya.
Keberadaan Pesawat Cureng juga memiliki riwayat panjang dalam dunia penerbangan. Bahkan pesawat tipe ini juga turut berkontribusi dalam berbagai peperangan di dunia, mulai dari Perang Cina-Jepang hingga Perang Pasifik.
Di Indonesia sendiri, Pesawat Cureng menjadi warisan terbanyak dari masa Pendudukan Jepang jika dibandingkan dengan armada terbang lainnya. Meskipun demikian, pada awalnya pesawat yang pertama kali dibuat pada 1933 ini tidak langsung bisa begitu saja digunakan oleh tentara Indonesia.
Bagaimana riwayat dari Pesawat Cureng yang turut berkontribusi dalam menyerang Belanda pada masa Revolusi Indonesia dulunya?
Riwayat Pesawat Cureng
"Cureng" sebenarnya bukanlah nama resmi yang disematkan untuk pesawat terbang yang satu ini. Istilah "Cureng" sendiri merupakan nama lokal dan familiar digunakan di Indonesia.
Dikutip dari laman TNI AU, pesawat ini dalam bahasa Jepang dikenal dengan nama Yokusuka K5Y atau Shinsitei. Pesawat ini sendiri diproduksi oleh pabrik Nippon Hikoki KK pada 1933 silam.
Selain itu, Pesawat Cureng juga memiliki beberapa nama dalam pemakaian sebelumnya. Misalnya, pesawat ini dikenal dengan nama Red Dragonfly pada masa Perang Pasifik dulunya.
Secara teknis, Pesawat Cureng merupakan pesawat kecil bermesin tunggal yang bersayap dua. Dengan tenaga mesin 350 daya kuda, Pesawat Cureng diketahui memiliki kecepatan jelajah 157 km/h dan kecepatan mendarat 92,6 km/h.
Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, Cureng menjadi pesawat terbanyak yang diwariskan dari masa Pendudukan Jepang. Terdapat 50 awak pesawat yang pada saat itu berada di Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta.
Namun pada saat awal ditemukan, pesawat ini berada dalam keadaan rusak dan tidak layak untuk terbang. Perbaikan pun dilakukan untuk mempersiapkan Pesawat Cureng agar bisa kembali mengudara.
27 Oktober 1945 menjadi hari penting untuk riwayat Pesawat Cureng bersama Indonesia. Sebab tanggal ini menjadi kali pertama pesawat tersebut mengudara di langit setelah Indonesia mereda.
Setelah itu, Pesawat Cureng digunakan untuk berbagai macam kebutuhan, seperti untuk pelatihan, menyebarkan selebaran, hingga penyerangan pada pihak musuh.
Penyerang Belanda di Masa Revolusi Indonesia
Salah satu kisah heroik dari Pesawat Cureng terjadi pada 1947 silam. Pada waktu itu, pesawat ini turut berkontribusi untuk mengusir Belanda dari tanah air.
Penyerangan ini sendiri terjadi pada 29 Juli 1947. Pada waktu itu, pesawat ini digunakan untuk menyerang Belanda yang berkedudukan di Ambarawa, Salatiga, dan Semarang.
Dalam penyerangan ini, Pesawat Cureng dikendarai oleh Kadet Suharnoko Harbani dan Kadet Sutardjo Sigit.
Ditampilkan saat Hari Penerbangan 1971
Terlepas dari aksi heroiknya di awal kemerdekaan Indonesia, Pesawat Cureng pada akhirnya tidak bisa melawan usianya. Selepas masa pengabdiannya, pesawat ini kemudian diabadikan di museum.
Salah satu momen Pesawat Cureng kembali ditampilkan di hadapan publik pernah terjadi pada 1971 silam. Dikutip dari artikel "Pada Hari Penerbangan 9 April Besok di Senajan Djakarta: Pesawat Warisan Djepang Penggempur Pendjadjah Belanda Dipamerkan" dalam surat kabar Indonesia Raya edisi 8 April 1971, Pesawat Cureng kembali ditampilkan di Senayan pada waktu itu.
Pameran kembali Pesawat Cureng ini berkaitan dengan momen Hari Penerbangan yang terjadi pada periode waktu tersebut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


