Kawan GNFI, seringkah kamu mendengar istilah “makanan berbuka dari sisa”? Di Kebumen, Jawa Tengah, filosofi itu sudah dipraktikkan sejak berpuluh-puluh tahun lalu dalam bentuk kethek, kuliner unik dari ampas kelapa yang nyaris terlupakan.
Namanya mungkin terdengar tak lazim, karena dalam bahasa Jawa berarti monyet. Namun, jangan salah, di balik nama yang nyeleneh itu tersembunyi kearifan lokal soal lingkungan dan zero waste yang kini sedang digandrungi dunia modern.
Sejarah Kethek, Lahir dari Industri Rumahan Minyak Kelapa

Ilustrasi Minyak Kelapa (Dok: Moho01, Pixabay)
Kethek diyakini sudah ada sejak zaman dahulu, seiring dengan teknik membuat minyak kelapa yang sudah dikuasai masyarakat Jawa sejak sangat lama. Hal tersebut tercatat dalam sebuah prasasti berbahasa Jawa Kuno yang kini disimpan di Belanda.
Pada zaman sebelum minyak goreng sawit menguasai pasar, banyak keluarga di Kebumen membuat minyak kelapa sendiri sebagai usaha rumahan yang menjanjikan.
Dari proses pembuatan minyak kelapa tradisional itu, tersisa ampas yang oleh masyarakat setempat disebut blondo, glendo, atau pethis.
Sisa produksi yang seharusnya menjadi limbah itu kemudian diolah menjadi makanan. Mengutip dari Kebumen On News, orang Kebumen kemudian memberi nama makanan itu kethek. Karena prosesnya yang panjang dan telaten, Kethek kini semakin langka dan jarang ditemui di pasaran.
Ampas Kelapa Bukan Limbah, tapi Bahan Baku Bergizi

Ilustrasi Ampas Kelapa (Dok: Couleur, Pixabay)
Siapa sangka, ampas kelapa sisa perasan minyak yang biasanya dibuang itu menyimpan kandungan gizi yang tak main-main. Berdasarkan penelitian, kethek memiliki kandungan protein, gluten, serta karbohidrat yang tinggi, kemudian rendah lemak sehinggacocok untuk menu diet.
Dari segi cita rasa, kethek dominan dengan rasa gurih, pedas, dan asin, plus aroma harum karena terbungkus daun pisang.
Tekstur blondo sendiri lembut dan bercita rasa gurih dengan sedikit rasa manis alami dari kelapa. Inilah yang membuatnya begitu istimewa: bahan yang awalnya dianggap “sisa” justru memiliki nilai gizi yang tidak kalah dengan bahan pangan utama.
Cara Pembuatan yang Telaten, Warisan Turun-temurun
Proses pembuatan kethek dimulai dari pemilihan kelapa tua berkualitas baik. Kelapa diparut, diperas, dan diambil santannya. Santan kemudian direbus dalam wajan besar sambil terus diaduk hingga menghasilkan cairan minyak berwarna cokelat kekuningan.
Cairan minyak dipisahkan, dan kerak kental berwarna kehitaman di dasar wajan disebut blendet dengan cara disaring serta dipres semalaman hingga menghasilkan ampas padat bernama blondo.
Blondo inilah yang menjadi bahan dasar kethek. Ampas tersebut diulek halus, dicampur bumbu rempah seperti kencur, lengkuas, jahe, bawang merah, bawang putih, cabai, garam, dan sedikit gula, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus hingga matang.
Proses ini memakan waktu 4–5 jam dan butuh kesabaran ekstra. Mengutip dari laman Radar Purworejo, Jamaludin, salah satu penjual kethek yang sudah 13 tahun berjualan mengatakan, "Satu bungkus Rp2.000, murah meriah, tapi buatnya telaten minta ampun”.
Zero Waste yang Dipraktikkan Jauh Sebelum Tren Global
Inilah yang membuat kethek begitu istimewa. Jauh sebelum istilah zero waste populer di media sosial, masyarakat Kebumen sudah mempraktikkannya dalam keseharian. Laman inibaru.id menuliskan, “Konon, orang Jawa nggak pernah membuang makanan, termasuk ampas atau residu”.
Ini terbukti dari ampas kelapa yang kemudian menjadi campuran botok, ampas kedelai menjadi gembus, dan ampas minyak kelapa menjadi blondo alias kethek. Setiap sisa produksi diubah menjadi santapan bernilai gizi, bukan berakhir sebagai sampah yang mencemari lingkungan.
Filosofi ini selaras dengan konsep ekonomi sirkular yang kini digalakkan di berbagai belahan dunia. Sayangnya, seiring bergesernya penggunaan minyak kelapa ke minyak sawit sekitar tahun 1980-an, produksi blondo ikut tergerus dan kethek pun semakin langka di pasaran.
Kethek, Pasangan Sejati Getuk yang Menyelamatkan Rakyat Kecil
Kethek biasanya disajikan bersama nasi hangat, tempe goreng, atau yang paling ikonik seperti getuk. Keduanya sama-sama berbahan dasar singkong, tetapi berbeda tekstur dan rasa. Getuk lembut dan manis, sementara kethek punya tekstur lebih padat dan gurih. Duet kuliner ini sering menjadi pilihan sarapan warga Kebumen.
Lebih dari sekadar camilan, kethek memiliki nilai historis yang mendalam. “Saat panen padi tidak melimpah dan harga beras melonjak, Kethek jadi alternatif makanan pokok yang menyelamatkan," tulis Suaragong.
Ia menjadi penyelamat saat paceklik, bukti nyata bahwa kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan bisa lahir dari kebutuhan paling mendasar sekalipun.
Kini, kethek masih bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional Kebumen, seperti Pasar Meles setiap pagi, atau di tangan penjual seperti Jamaludin yang setiap hari masih mampu menjual 50 bungkus.
Namun keberadaannya terus terancam minimnya regenerasi. Jika kita tak segera melestarikan, warisan leluhur yang mengajarkan kita untuk tak pernah menyia-nyiakan makanan ini akan benar-benar lenyap.
Jadi, saat kita mendengar kata “zero waste”, ingatlah bahwa nenek moyang yang berada di Kebumen sudah lebih dulu mempraktikkannya lewat seporsi kethek yang hangat, gurih, dan penuh makna.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


