Di Bekasi, tepatnya di Tambun Selatan, terdapat sebuah kawasan yang dikenal masyarakat dengan nama Kampung Siluman. Nama ini sudah melekat sejak lama, menimbulkan rasa penasaran sekaligus takut bagi orang-orang yang mendengarnya.
Banyak yang mengira nama itu muncul karena hal-hal mistis, karena kampung ini dulunya merupakan daerah sunyi dengan hutan lebat dan rawa-rawa yang dianggap angker.
Kampung Siluman terletak di Desa Mangunjaya, Kabupaten Bekasi. Lokasinya tidak jauh dari Stasiun Tambun dan juga Gedung Juang 45 Bekasi.
Di Bekasi sendiri, terdapat cerita turun-temurun yang mengatakan bahwa tempat ini dihuni makhluk halus atau siluman, sehingga banyak orang yang enggan melintasinya saat malam hari. Namun, jika ditelusuri lebih lanjut Kampung Siluman tidaklah berhubungan dengan hal-hal berbau mistis.
Nah, Kawan GNFI, untuk mengetahui cerita lebih lengkapnya, simak pembahasannya sampai habis, ya!
Asal Usul Nama Kampung Siluman
Seperti yang disebutkan sebelumnya, banyak orang mengira jika nama Kampung Siluman berasal dari daerahnya yang angker. Namun, nyatanya ada sejarah yang tersimpan di baliknya.
Melansir dari Info Bekasi, seorang warga yang sudah lama tinggal di kampung tersebut bernama Napin menceritakan bahwa hal ini bermula sejak zaman penjajahan.
Pada masa pendudukan Jepang, wilayah Tambun, termasuk area yang sekarang menjadi Kampung Siluman, merupakan salah satu titik perlawanan rakyat Bekasi.
Saat pasukan Jepang dari Jawa turun di Stasiun Tambun, penduduk setempat menyerang dengan golok, bambu runcing, dan strategi yang memanfaatkan medan yang dipenuhi ilalang setinggi beberapa meter.
Karena mendengar pasukannya diserang, pasukan Jepang yang sudah lebih dulu menduduki Gedung Juang mengirim bala bantuan. Dalam kondisi tersebut, para pejuang lari ke arah utara melewati ilalang yang sangat tinggi.
Karena gerakannya yang lincah, mereka bisa dengan cepat tidak terlihat oleh pasukan Jepang, tentara Jepang yang menyaksikan itu menganggap mereka seperti siluman yang tiba-tiba hilang di antara ilalang dan rawa.
Dari peristiwa ini, nama Kampung Siluman mulai dikenal dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Beberapa tetua kampung bahkan menekankan bahwa istilah “siluman” bukan sekadar cerita mistis, tetapi juga sebagai simbol perjuangan warga Bekasi pada zaat itu.
Selain itu, terdapat versi lain yang juga beredar mengenai Kampung Siluman. Dilansir dari PosKota, berdasarkan pernyataan warga Kampung Siluman, nama tersebut berasal dari kawasan tersebut yang dulunya menjadi tempat berhuninya para pendekar atau jawara.
Kawasan Kampung Siluman sering dijadikan arena tanding para pendekar tersebut untuk menguji ilmu yang mereka miliki. Karena memiliki ilmu yang dinilai tinggi, para pendekar tersebut kerap kali dijuluki sebagai seorang siluman dari berbagai binatang, seperti siluman macan, siluman ular, dan sebagainya. Dari sanalah sekiranya nama Kampung Siluman berasal.
Kampung Siluman Saat Ini
Seiring berjalannya waktu, Kampung Siluman telah mengalami transformasi yang signifikan. Kawasan yang dulunya sepi dan angker kini berubah menjadi pusat aktivitas dan perekonomian.
Jalan-jalan yang dulu ditakuti karena dinilai angker kini ramai hampir sepanjang hari. Banyak sekali perumahan yang dibuka di kawasan tersebut serta toko-toko menjamur di sepanjang jalan utama.
Mengutip dari Info Bekasi, per tahun 2020, kampung ini kini memiliki 9 Rukun Warga dan 74 Rukun Tetangga. Kampung ini sudah berkembang sangat pesat. Kampung Siluman berada di kawasan yang berbatasan langsung dengan beberapa kampung lain, yaitu Kampung Jejalen, Kampung Buwek, Kampung Kalibaru, dan Kampung Kobak.
Sebelum wilayah ini dimekarkan menjadi tiga desa terpisah, Pemerintah Kabupaten Bekasi sempat menamainya sebagai Desa Busilen. Nama tersebut merupakan akronim dari tiga kampung utama di wilayah itu, yakni Buwek (yang kini menjadi bagian dari Desa Sumberjaya di Tambun Selatan), Siluman (yang masuk ke wilayah Desa Mangunjaya), serta Jejalen (yang kini termasuk dalam Desa Jejalen Jaya di Tambun Utara).
Kini, Kampung Siluman telah berkembang menjadi kawasan yang modern dan ramai. Meski begitu, nama serta cerita legendarisnya tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas dan sejarah masyarakat setempat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


