Menapaki Jalan Alauddin Mahmud Syah di Banda Aceh, maka Kawan juga perlu bersiap untuk masuk ke dalam lorong waktu yang menghimpun fragmen peradaban Tanah Rencong.
Museum Aceh berdiri sebagai penjaga memori, sebuah kompleks yang menyatukan arsitektur tradisional dengan ribuan artefak yang telah bertahan melintasi berbagai zaman. Sejak didirikan pada masa kolonial, tempat ini telah menjadi pusat pameran etnografi bagi suku bangsa asli yang mendiami ujung utara Sumatra.
Kompleks ini tidak hanya menawarkan deretan benda di balik kaca, tetapi juga menghadirkan kemegahan Rumoh Aceh yang berdiri kokoh di halaman museum. Rumah panggung tradisional ini menjadi ikon yang menunjukkan kecanggihan teknik lokal masa lalu melalui sistem konstruksi pasak kayu.
Di sinilah, sejarah panjang Aceh dari masa prasejarah, kejayaan kesultanan, hingga periode perjuangan kemerdekaan, dirangkum dalam narasi yang terjaga.
Sekilas Mengenai Museum Aceh
Keberadaan museum ini berawal dari sebuah Paviliun Aceh di ajang Pameran Kolonial di Semarang pada tahun 1914. Berkat prestasi menyabet belasan medali, Paviliun tersebut dibawa pulang dan diresmikan sebagai museum pada 31 Juli 1915 oleh Gubernur Militer Belanda, Jenderal H.N.A. Swart. F.W. Stammeshaus.
Setelah melewati berbagai fase renovasi, kini gedung pameran tetapnya hadir dengan modifikasi arsitektur modern yang tetap mengadopsi elemen tradisional.
Daya Tarik dan Aktivitas di Museum Aceh
Museum Aceh memiliki koleksi mencapai lebih dari 18.000 item, termasuk 6.038 benda bersejarah dan belasan ribu buku di perpustakaannya.
Koleksi ini diklasifikasikan ke dalam sepuluh jenis, mulai dari geologika hingga arkeologika. Salah satu ikon yang paling memikat rasa ingin tahu pengunjung adalah Lonceng Cakra Donya.
Lonceng perunggu berusia lebih dari 1.400 tahun ini merupakan hadiah muhibah dari Kaisar Tiongkok Dinasti Ming kepada Sultan Pasai pada abad ke-15, yang dibawa langsung oleh Laksamana Cheng Ho.
Benda bersejarah ini melambangkan hubungan diplomatik internasional Aceh yang sudah terbangun kuat sejak ratusan tahun lalu sebelum akhirnya dibawa ke Banda Aceh setelah penaklukan Kerajaan Pasai pada 1524.
Di area pameran tetap, Kawan GNFI dapat menyusuri display perkakas rumah tangga, senjata tradisional seperti rencong, pakaian adat yang kaya warna, hingga manuskrip kuno yang ditulis di atas kulit binatang.
Tak kalah menarik adalah instalasi Jeungki (alat penumbuk padi) dan Krông Padé (lumbung padi) yang memberikan gambaran soal kehidupan agraris masyarakat Aceh tempo dulu. Melangkah ke bagian halaman, terdapat pula taman yang asri dengan meriam peninggalan Belanda.
Akses dan Rute Perjalanan
Mencapai lokasi Museum Aceh tergolong mudah karena posisinya berada di kawasan strategis Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, pusat Kota Banda Aceh.
Kawan bisa menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi lokal seperti bentor (becak motor) untuk menuju ke sini. Jaraknya tidak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman, sehingga museum ini sering kali menjadi paket perjalanan wajib bagi wisatawan yang sedang melakukan tur sejarah di ibu kota provinsi.
Bagi Kawan GNFI yang datang dari arah Lapangan Blang Padang, perjalanan hanya memakan waktu beberapa menit.
Di sekitar museum, tersedia area parkir yang memadai serta kedekatan dengan fasilitas umum lainnya. Jadi, eksplorasi sejarah di sini tetap nyaman tanpa harus menguras banyak energi dalam perjalanan.
Harga Tiket dan Jam Operasional
Museum Aceh menyambut pengunjung setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Tarif masuknya sangat terjangkau bagi semua kalangan, yaitu Rp5.000 rupiah.
Tiket ini memberikan akses penuh bagi Kawan GNFI untuk menjelajahi kompleks Rumoh Aceh, gedung pameran berlantai empat, hingga area makam raja-raja Aceh yang berada di sekitar kawasan museum.
Fasilitas pendukung di lokasi ini terhitung lengkap, mulai dari perpustakaan dengan belasan ribu judul buku, laboratorium konservasi, hingga gedung pertemuan. Pengunjung diimbau untuk menjaga perilaku dan tidak menyentuh artefak tertentu untuk menjaga kelestarian benda bersejarah.
Kawan GNFI juga dapat berburu cinderamata lokal atau menikmati suasana di taman terbuka yang sering menjadi lokasi pameran temporer atau agenda budaya tahunan.
Ayo Menjelajahi Museum Aceh!
Menelusuri setiap sudut Museum Aceh adalah upaya menghidupkan kembali kebanggaan atas kejayaan masa lalu. Denting Cakra Donya dan kokohnya tiang Rumoh Aceh adalah pesan bisu bagi kita untuk terus merawat warisan yang telah melewati seabad perjalanan ini.
Silakan agendakan kunjungan Kawan GNFI untuk menyapa langsung sejarah Tanah Rencong di Banda Aceh ini ya!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


