tak lagi jajan di luar cara 3 mahasiswa jogja tekan biaya makan dari rp6 juta ke rp1 5 juta - News | Good News From Indonesia 2026

Tak Lagi Jajan di Luar: Cara 3 Mahasiswa Jogja Tekan Biaya Makan dari Rp6 Juta ke Rp1,5 Juta

Tak Lagi Jajan di Luar: Cara 3 Mahasiswa Jogja Tekan Biaya Makan dari Rp6 Juta ke Rp1,5 Juta
images info

Tak Lagi Jajan di Luar: Cara 3 Mahasiswa Jogja Tekan Biaya Makan dari Rp6 Juta ke Rp1,5 Juta


“Selama kami membuat ketahanan pangan di kontrakan, kami tidak pernah lagi untuk makan di luar,” kata Taufik Azhari atau yang lebih dikenal sebagai Ziarry, founder Piramida Project.

Kalau ada pernyataan yang menyebut memasak lebih murah daripada beli makan, maka ada yang lebih murah lagi. Menanam sumber pangan, jawabannya.

Bukan sekadar omon-omon. Di kontrakan berlokasi Yogyakarta, Ziarry dan dua rekannya telah membuktikan itu. Mereka tidak lagi bergantung pada makanan siap saji di warung atau ojek online. Ketianya sudah menyediakan sumber pangan dan mengonsumsi apa yang mereka rawat sendiri.

Dulu, mereka bisa menghabiskan sekitar Rp6 juta per bulan hanya untuk makan bertiga. Angka yang tidak kecil untuk ukuran mahasiswa, di Jogja pula. Apalagi dengan kebutuhan nutrisi yang harus dijaga karena aktivitas olahraga yang mereka lakukan.

baca juga

Nah, setelah membangun ketahanan pangan di kontrakan, pengeluaran makan turun drastis.

“Dari 6 juta sekian… jadi hanya 1.500.000 setiap bulan,” kata Ziarry, sebagaimana dikutip dari kanal YouTube CapCapung.

Penurunan pengeluaran ini bukan karena mereka mengurangi kualitas makan. Malahan sebaliknya.

Setiap hari, mereka bisa mengambil telur dari lima ayam yang mereka pelihara. Tiga sampai empat butir cukup untuk kebutuhan harian. Sayur seperti kangkung, sawi, hingga cabai tinggal petik. Lele? Tinggal serok dari kolam.

“Semua kembali kepada pangan mandiri, dikonsumsi pribadi,” ujar lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan.

baca juga

Kolaborasi dari Berbagai Lulusan

Sebagai lulusan Ilmu Komunikasi, ilmu pertanian tentu tidak Ziarry dapatkan di perkuliahan. Nah, justru dari praktik di kontrakan ini, ia belajar ilmu baru dari rekannya.

“Bertani di kontrakan ini justru memberikan ilmu-ilmu mahal yang tidak kami dapatkan di perkuliahan.”

Sebab bagi mereka, ketahanan pangan bukan hanya soal hemat.

“Piramida ini bukan hanya untuk menekan, tapi juga untuk membangun kesehatan spiritual, emosional, sosial dan juga finansial,” katanya.

Perkebunan sederhana ini membuat obrolan mereka berubah jadi lebih berkualitas.
Bahkan hubungan antar mereka ikut terbentuk dari proses ini. Setiap minggu, mereka punya sesi wajib yang disebut transfer value.

baca juga

“Kami memulai memfokuskan bidang masing-masing. Yang bukan bidangnya harap bertanya dulu dengan yang bidangnya supaya tidak ada kesalahan dalam melakukan aktivitasnya … Semuanya di breakdown khususnya di bidang pertanian dan pertenakan ini asrul membuat framework khusus yang akhirnya kami tinggal melihat,” jelasnya.

Asrul adalah mahasiswa Peternakan Universitas Mercu Buana Yogyakarta yang menjadi Manajer Operasional Piramida Project.

Sebagai manajer operasional, Asrul bertanggung jawab memastikan seluruh sistem di kontrakan itu benar-benar berjalan. Dengan latar belakang peternakan, ia mampu membangun sistem yang bisa dipahami dan diikuti bersama, sehingga aktivitas bertani dan beternak di kontrakan itu berjalan terarah, efisien, dan saling terhubung.

baca juga

Tidak Ada Limbah, Pakai Sistem “Integrated Farming”

Konsep yang mereka pakai adalah integrated farming, yaitu pertanian terpadu di mana tidak ada yang terbuang. Limbah dapur diolah jadi pakan maggot, maggot jadi pakan ayam dan lele, sementara air kolam lele dimanfaatkan sebagai pupuk cair untuk tanaman.

“Semua bisa kita olah tanpa limbah atau yang disebut sebagai zero waste,” kata Ziarry.

Mereka juga bisa membuktikan bahwa 10 gram telur maggot BSF bisa mengurai hingga 100 kilogram sampah organik dalam satu siklus.

“Ketika orang sibuk kemana buang sampah, justru kami sibuk di mana lagi mendapatkan sampah organik,” tegasnya.

Dari situ, terlihat bahwa ketahanan pangan yang mereka bangun bukan hanya soal makan murah, tapi juga solusi nyata untuk limbah rumah tangga. Semua itu mereka mulai dari hal kecil, bahkan memanfaatkan barang bekas seperti galon, genteng, dan gelas plastik.

Yang menarik, Piramida Project ini mulai dirintis sejak 12 November 2025. Namun, gagasan tersebut baru benar-benar dieksekusi beberapa waktu setelahnya. Artinya, proyek ini baru berjalan beberapa bulan tapi hasilnya bisa langsung kelihatan.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.