kesepakatan den haag arca perwujudan raja anusapati dan prasasti damalung segera tiba di museum nasional - News | Good News From Indonesia 2026

Kesepakatan Den Haag: Arca Perwujudan Raja Anusapati dan Prasasti Damalung Segera Tiba di Museum Nasional

Kesepakatan Den Haag: Arca Perwujudan Raja Anusapati dan Prasasti Damalung Segera Tiba di Museum Nasional
images info

Kesepakatan Den Haag: Arca Perwujudan Raja Anusapati dan Prasasti Damalung Segera Tiba di Museum Nasional


Indonesia kembali memulangkan warisan budayanya dari luar negeri. Dua artefak bersejarah—Arca Shiva abad ke-13 dari Jawa Timur dan Prasasti Damalung abad ke-15 dari Jawa Tengah—akan segera kembali ke tanah air setelah lama berada di Belanda.

Kesepakatan pengembalian ditandatangani pada 31 Maret 2026 di Den Haag antara Duta Besar RI untuk Belanda, Laurentius Amrih Jinangkung, dan Direktur Jenderal Kebudayaan dan Media Belanda, Youssef Louakili.

Artefak tersebut sebelumnya menjadi bagian koleksi Wereldmuseum Amsterdam dan Wereldmuseum Leiden. Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan bahwa momen ini merupakan lebih dari sekadar pengembalian benda bersejarah.

“Ini adalah pemulihan memori kolektif bangsa dan langkah nyata menuju rekonsiliasi sejarah. Warisan budaya harus kembali kepada masyarakat yang menjadi pemiliknya.” ungkap Menteri Kebudayaan

Pengembalian ini memperkuat tren positif kerja sama Indonesia–Belanda di bidang kebudayaan, menyusul keberhasilan pemulangan fosil Manusia Jawa pada 2025 setelah lebih dari satu abad berada di luar negeri.

Saat ini, proses pengiriman artefak tengah berlangsung dan akan diserahkan kepada Museum Nasional Indonesia setibanya di Indonesia. Pemerintah Indonesia menegaskan akan terus memperjuangkan pemulangan warisan budaya lainnya di luar negeri, sekaligus membuka kolaborasi riset internasional dan memastikan akses publik yang luas untuk edukasi dan penguatan jati diri bangsa.

Kisah Arca Shiva

Dimuat dari Kompas, Kepulangan Arca Shiva ke tanah air membawa kembali fragmen kejayaan Jawa Timur abad ke-13. Terpahat dari batu andesit dengan tinggi mencapai 123 cm, artefak ini diyakini kuat berasal dari Candi Kidal di Malang, sebuah monumen suci yang dibangun pada masa Kerajaan Singhasari (1222–1292).

Keberadaan arca ini bukan sekadar representasi estetika seni pahat masa lalu, melainkan sebuah simbol legitimasi politik dan spiritual yang amat kuat. Dalam napas tradisi Hindu di Nusantara, sosok dewa seringkali dipadukan dengan figur pemimpin duniawi.

Para ahli menyimpulkan bahwa Arca Shiva ini merupakan arca perwujudan Raja Anusapati, penguasa kedua Singhasari yang bertahta antara tahun 1227 hingga 1248. Hipotesis ini diperkuat oleh catatan dalam Kitab Nagarakretagama pupuh 41:1, yang secara eksplisit menyebutkan bahwa arca perwujudan Anusapati disemayamkan di Candi Kidal pasca kemangkatannya.

Sebagai candi pendharmaan bagi para raja, Candi Kidal menjadi saksi bisu praktik sinkretisme Hindu-Buddha yang unik di Nusantara. Melalui arca ini, kita dapat melihat bagaimana konsep ketuhanan berkelindan erat dengan kekuasaan raja, menciptakan jejak sejarah yang merepresentasikan kekuatan politik sekaligus kedalaman keyakinan masyarakat Jawa kala itu.

Prasasti Damalung: Pesan Moral dari Senjakala Majapahit

Di sisi lain, terdapat Prasasti Damalung atau Prasasti Ngadoman yang menjadi saksi bisu fase transisi di Jawa Tengah pada abad ke-15, periode yang menandai senjakala Kerajaan Majapahit. Ditemukan pertama kali pada tahun 1824 oleh Residen Semarang, Hendrik Jacob Domis, di Desa Ngadoman, artefak ini sempat terasing dan hilang dari catatan sejarah selama puluhan tahun.

Titik terang muncul pada Agustus 2024, ketika sejarawan Bonnie Triyana dan kurator Pim Westerkamp menemukannya tersimpan di sebuah museum kecil di 's-Gravenzande, Belanda.

Secara teknis, prasasti ini sangat istimewa karena menunjukkan peralihan penggunaan aksara dari Jawa Kuno (Kawi) menuju Jawa Baru. Namun, nilai sejatinya terletak pada pesan yang terkandung di dalamnya: sebuah wejangan moral tentang pentingnya kebaikan hati, keteguhan iman, tutur kata yang santun, serta larangan terhadap perbuatan buruk.

Nilai-nilai etis ini membuktikan bahwa di tengah guncangan transisi menuju era kerajaan Islam, tatanan moral masyarakat tetap terjaga. Dibawa ke Belanda melalui perantara Gubernur Jenderal Du Bus de Gisignies dan menjadi koleksi Wereldmuseum sejak 1904, prasasti ini akhirnya memulai perjalanan pulang.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.