separuh hati di washington seluruh perut di beijing - News | Good News From Indonesia 2026

Separuh Hati di Washington, Seluruh Perut di Beijing

Separuh Hati di Washington, Seluruh Perut di Beijing
images info

Separuh Hati di Washington, Seluruh Perut di Beijing


Mungkin banyak dari kita yang mengira bahwa hubungan multilateral antarnegara berdasarkan soal sentimen atau kesamaan nilai. Seolah-olah kita memilih mitra internasional seperti memilih teman akrab; berdasarkan siapa yang lebih kita sukai atau siapa yang bicaranya lebih manis, atau yang dandannya lebih necis, atau..yang sesuai dengan kita lah. Padahal, dalam ruang gelap diplomasi, realitas geopolitik jauh lebih dingin dan kalkulatif dari itu. Hubungan internasional pada akhirnya adalah soal kepentingan nasional yang kadang-kadang keras, hitung-hitungan risiko, dan tentu saja, ke mana arah angin ekonomi berhembus.

Di kawasan seperti Asia Tenggara, romansa politik sering kali harus berbenturan dengan kenyataan di atas meja makan. Bukan hanya soal kedekatan sejarah atau berbagai macam bantuan ataupun kerjasama keamanan masa lalu jika hari ini tantangan terbesarnya adalah pembangunan dan perut rakyat.

Dan pergeseran itu terjadi secara nyata. Terjadi di kawasan ini, tentu termasuk Indonesia. 

Laporan terbaru The State of Southeast Asia 2026 dari ISEAS – Yusof Ishak Institute memberikan gambaran objektif bagi siapa saja yang ingin melihat posisi ASEAN saat ini di tengah persaingan dua raksasa dunia, Amerika Serikat dan China. 

Selama ini kita sering mendengar narasi bahwa ASEAN tidak ingin memilih pihak. Kita ingin tetap netral. Rasanya ini narasi lama, teoritis, dan di atas kertas. Atau di permukaan. Atau terngiang di antara para pemimpin saja. Namun, angka-angka dalam laporan ini menunjukkan bahwa kenyataan di lapangan sedang bergeser perlahan namun pasti. Magnet ekonomi Beijing rupanya terlalu kuat untuk diabaikan begitu saja oleh negara-negara di kawasan ini.

Dalam hal relevansi strategis, China kini mencatatkan skor 9,1 dari skala 11. Sementara itu, Amerika Serikat membuntuti di posisi kedua dengan skor 8,6. Selisihnya memang tampak tipis. Namun, arah pergerakannya sangat jelas.

Padahal, jika kita menengok ke belakang, Amerika dulunya adalah pemain tunggal yang berada jauh di atas. Washington pernah menjadi matahari yang tak tertandingi di kawasan ini. Mungkin disusul Uni Eropa dan Jepang. Sekarang, peta itu sudah berubah total. Pengaruh China sedang melakukan akselerasi secara masif, meninggalkan Amerika yang mulai tampak kewalahan mengejar ketertinggalan.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Jawabannya klasik: urusan perut.

China saat ini adalah raksasa ekonomi yang fingerprint-nya ada di mana-mana. Mulai dari arus perdagangan, aliran investasi, hingga proyek infrastruktur masif. Sebanyak 55,9 persen responden mengakui dominasi ekonomi ini. Hampir semua rantai pasok (supply chain) kita kini bermuara ke sana. Hampir semua strategi pertumbuhan ekonomi di kawasan ini memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap dinamika di Beijing. Logika sederhananya, diplomasi yang bertele-tele tidak akan bisa memuaskan kebutuhan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih mendesak.

Namun, jangan salah sangka. Dominasi ini tidak datang dengan rasa cinta yang mendalam. Data menunjukkan adanya paradoks yang nyata. Ketergantungan ini dibarengi dengan rasa was-was. Sebanyak 55,4 persen responden mengaku gelisah dengan dominasi ekonomi China. Mereka khawatir kekuatan tersebut akan digunakan sebagai alat tekan politik. Kita berada dalam situasi yang aneh: terikat secara ekonomi, namun merasa tidak nyaman secara politik.

Lalu, di mana posisi Amerika?

Bahkan, ada faktor "Trump" yang membayangi. Sebanyak 51,9 persen responden secara gamblang merasa cemas dengan gaya kepemimpinan Donald Trump di Washington. Angka kekhawatiran ini bahkan lebih tinggi daripada ketakutan kawasan terhadap konflik di Laut China Selatan. Kepemimpinan Amerika saat ini dianggap sulit diprediksi dan kurang memiliki kredibilitas komitmen jangka panjang. Kepercayaan itu penting. Tapi dalam kalkulasi harian, konsistensi ekonomi jauh lebih nyata dirasakan daripada janji keamanan yang bisa berubah sewaktu-waktu.

Jika hari ini seluruh kawasan dipaksa untuk memilih, hasilnya sangat ketat. Sebanyak 52 persen responden menyatakan akan memilih China. Sementara 48 persen tetap bertahan di sisi Amerika, sebuah pembelahan strategis yang nyata.

Negara-negara di daratan Asia Tenggara cenderung condong ke utara karena faktor kedekatan geografis yang tak terelakkan. Di sisi lain, negara-negara maritim seperti Filipina dan Vietnam (terutama Filipina) sudah lebih dulu memasang badan di sisi Washington. 

Bagaimana dengan kita di Indonesia? Juga tetangga kita, Malaysia? Indonesia memilih lebih hati-hati. Kita melirik Washington bukan sebagai sekutu mati, melainkan sebagai penyeimbang yang diperlukan agar stabilitas di Laut China Selatan tidak oleng ke satu sisi saja. Kita butuh Amerika untuk memastikan "halaman depan" rumah kita tetap aman, meski di saat yang sama kita juga was-was dengan ketidakkonsistenan mereka.

Baik Indonesia maupun Malaysia sama-sama butuh Amerika untuk memastikan keamanan maritim, meski di saat yang sama kita berdua juga was-was dengan ketidakkonsistenan politik di Washington. Kita butuh mereka, tapi tidak ingin didikte oleh mereka.

Maka, wajar jika jurus andalan yang muncul adalah memperkuat rumah sendiri. Sebanyak 55,2 persen responden sepakat bahwa memperkuat solidaritas dan ketahanan ASEAN adalah strategi utama. Intinya, kita tidak ingin menjadi kancil yang mati terjepit di tengah pertarungan dua gajah besar.

Ke depan, pertarungan pengaruh ini bukan lagi soal adu kekuatan militer secara terbuka, melainkan siapa yang paling konsisten, siapa yang paling bisa diandalkan dalam memenuhi kebutuhan harian kawasan. Dalam poin ini, China sedang memimpin di depan.

Jarak antara skor 9,1 dan 8,6 mungkin terlihat kecil di atas kertas. Namun dalam peta diplomasi, selisih sekecil itu sudah cukup untuk mengubah arah masa depan. Asia Tenggara tidak sedang berbalik arah secara drastis. Kita hanya sedang menyesuaikan diri dengan realitas baru: bahwa kini Beijing telah menjadi pusat tata surya ekonomi di kawasan ini, dan Amerika, jika terus berperilaku seperti sekarang ini, mereka sendiri yang akan rugi di kawasan ini. 

Apakah Asia Tenggara akan baik-baik saja? Itu sangat tergantung pada kecerdikan kita menjaga keseimbangan. Dan tentu saja, pada seberapa tenang tensi persaingan antara Washington dan Beijing di tahun-tahun mendatang. Kita tunggu saja episode berikutnya.

**

Lin, J. et al., The State of Southeast Asia: 2026 Survey Report (Singapore: ISEAS - Yusof Ishak Institute, 2026)

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.