the sin nio pejuang wanita tionghoa yang menyamar menjadi laki laki muslim demi indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

The Sin Nio, Pejuang Wanita Tionghoa yang Menyamar menjadi Laki-Laki Muslim Demi Indonesia

The Sin Nio, Pejuang Wanita Tionghoa yang Menyamar menjadi Laki-Laki Muslim Demi Indonesia
images info

The Sin Nio, Pejuang Wanita Tionghoa yang Menyamar menjadi Laki-Laki Muslim Demi Indonesia


Pernahkah Kawan GNFI membayangkan, seorang perempuan rela menyembunyikan jati dirinya hanya untuk bisa ikut berjuang bagi negeri yang dicintainya? Kisah The Sin Nio adalah salah satu bukti nyata bahwa cinta tanah air tidak mengenal suku, agama, atau gender.

Perempuan kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah, ini berjuang di masa revolusi kemerdekaan dengan cara yang paling tidak terprediksi. Ia menyamar menjadi laki-laki Muslim bernama Mochamad Moeksin hanya agar bisa bertempur di garis depan melawan Belanda.

Sayangnya, setelah perang usai, Sin Nio justru hidup terlunta-lunta di Jakarta. Bahkan, makamnya kini tak lagi ditemukan. Mari kita kenali sosok pahlawan perempuan Indonesia yang nyaris terlupakan ini.

Kisah Asal-usul The Sin Nio

The Sin Nio lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, dari keluarga keturunan Tionghoa. Pada masa revolusi fisik 1945–1949, ia bergabung denganKompi 1 Batalion 4 Resimen 18 di bawah komando Sukarno (yang kelak menjadi Brigjen TNI). Di kompi inilah Sin Nio menjadi satu-satunya prajurit perempuan.

Masalahnya, saat itu medan perang bukanlah tempat yang ramah bagi perempuan. Peran mereka biasanya terbatas pada urusan logistik atau dapur. Namun Sin Nio memiliki tekad besar: ia ingin bertempur langsung di garis depan.

Ia pun menghadapi dua hambatan besar. Pertama, identitasnya sebagai perempuan di tengah lingkungan perang yang sangat patriarkis. Kedua, posisinya sebagai warga keturunan Tionghoa yang saat itu sering dicurigai oleh pihak kolonial.

baca juga

Menyamar jadi Mochamad Moeksin

Untuk mengatasi semua rintangan tersebut, Sin Nio melakukan tindakan yang unik dan sangat berani. Ia mengambil keputusan untuk menyamar sebagai pria. Rambutnya dipangkas pendek. Dadanya dibalut kain agar terlihat luas.

Suaranya dilatih untuk menjadi lebih berat. Ia bahkan mengubah namanya menjadi Mochamad Moeksin sebuah nama yang sengaja dipilih dengan nuansa Islam agar lebih diterima di kalangan pejuang.

Keponakannya, Christiani, menyatakan yang dikutip dari Detik bahwa dulu dia (The Sin Nio) pernah menyamar sebagai pria supaya bisa ikut berjuang. Metodenya adalah dengan membalut area dada supaya tampak seperti pria. Dengan identitas yang baru, ia secara resmi diterima untuk bergabung sebagai gerilyawan di Resimen 18 Wonosobo.

Perjuangan The Sin Nio di Medan Perang

Sebagai prajurit, Sin Nio memulai perannya di bidang logistik, membantu menyediakan makanan untuk para pejuang. Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai terjun langsung ke lapangan perang. Dengan perlengkapan sederhana seperti golok, tombak, dan bambu runcing, ia turut berjuang gerilya melawan tentara Belanda.

Pada suatu waktu, dalam sebuah pertempuran, ia berhasil merebut senapan Lee-Enfield (LE) dari tangan prajurit Belanda yang telah dikalahkannya. Sejak waktu itu, ia telah memiliki senjata api yang memadai.

Selain bertarung, Sin Nio juga pernah ditugaskan sebagai tenaga kesehatan karena minimnya perawat di garis depan. Ia setia merawat kawan-kawannya yang terluka, menunjukkan dedikasi luar biasa tanpa mengharapkan imbalan.

baca juga

Perjuangan Setelah Kemerdekaan: Hidup Gelandangan di Jakarta

Sayangnya, kecemerlangan Sin Nio di medan perang tidak sejalan dengan nasibnya setelah kemerdekaan. Setelah perang usai, ia menikah dua kali dan memiliki enam anak. Namun kedua pernikahannya berakhir dengan perceraian. Sebagai janda dengan enam anak, ia hidup dalam kesulitan ekonomi yang luar biasa.

Pada tahun 1973, Sin Nio memutuskan berangkat ke Jakarta sendirian. Tujuannya untuk memperjuangkan haknya sebagai veteran perang. Selama bertahun-tahun ia berjibaku dengan birokrasi yang rumit, sambil hidup terlunta-lunta karena kehabisan perbekalan.

Sin Nio pernah tinggal di Markas Besar Legiun Veteran RI yang terletak di Jalan Gajah Mada selama sembilan bulan. Ia juga pernah menginap di Masjid Petojo dan tinggal di masjid dekat Masjid Istiqlal. Akhirnya, ia tinggal di sebuah gubuk liar di tepi rel kereta dekat Stasiun Juanda, Jakarta Pusat sebuah tempat berukuran hanya 2x3 meter yang bergetar setiap kali kereta melintas.

Rosalia Sulistiawati, Cucunya Sin Nio dikutip dari laman BBC, mengingat kunjungan pertamanya ke tempat itu saat berusia tujuh tahun. "Dari balik pintu, wanita tua berambut perak itu menyambut dengan senyuman,"kenang Rosalia. Walaupun lokasi tersebut sangat sederhana, dia merasakan ketenangan saat berada dalam pelukan neneknya, yang ia sebut "Oma Sin Nio".

Pada 29 Juli 1976, Sin Nio akhirnya memperoleh Surat Keputusan pengakuan sebagai pejuang aktif kemerdekaan dari Mahkamah Militer Yogyakarta. Namun, secara ironis, ia tidak menerima hak pensiun yang seharusnya.

Baru beberapa tahun setelah itu, ia mulai mendapatkan pensiun sebesar Rp28.000 per bulan, jumlah yang sangat sedikit bahkan untuk masanya. Janji pemerintah untuk memberikan bantuan perumahan juga tidak pernah terwujud hingga akhir hayatnya.

Akhir Kehidupan Sin Nio

Sin Nio wafat pada tahun 1985 di usia 70 tahun, dalam kesendirian di gubuknya yang terpencil di Jakarta. Ia dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum Layur, Rawamangun. Namun, sekarang makamnya sudah tidak bisa ditemukan lagi. Tak ada nisan yang mencolok, dan kuburnya sulit dibedakan dari banyak makam lain di sekitarnya.

Di usia senjanya, Sin Nio pernah menolak tawaran untuk tinggal bersama keturunannya. Saya memilih untuk hidup sendirian di Jakarta. Sekali waktu ia mengatakan: "Aku tidak ingin memberatkan rakyatku. "Biarkan aku hidup dan mati dalam kesepian, karena hanya Tuhan yang dapat memeluk dan menghargai orang terasing sepertiku."

Keponakannya, Christiani yang dikutp dari laman Detik, menyatakan walau kehidupannya sangat sederhana, Sin Nio tetap kerap mengunjungi sanak saudara di Jakarta hanya untuk minum kopi dan bercerita sebelum pulang. Dia tidak pernah ingin tinggal semalaman.

baca juga

Upaya Pengakuan: Menuju Pahlawan Nasional?

Pada bulan November 2022, Komnas Perempuan mengajukan nama Sin Nio sebagai pahlawan nasional. Tindakan ini diharapkan mampu memberikan penghargaan yang seharusnya bagi seorang wanita yang telah mengorbankan segalanya seperti identitas, kenyamanan, bahkan masa tuanya untuk kemerdekaan Indonesia.

Namun cucu Sin Nio, Rosalia, menyatakan bahwa bagi keluarganya, status sebagai pahlawan atau pejuang kemerdekaan "sudah tidak relevan lagi." Hal yang paling utama, ingat Rosalia, adalah bahwa "nenek sangat menyayangi negara ini", ujar Rosalia pada BBC.

Mengapa Kisah Sin Nio Penting untuk Dikenang?

Pemerhati budaya Tionghoa menilai bahwa kisah-kisah seperti ini perlu terus diangkat kembali ke permukaan. Ini adalah upaya untuk memuliakan semua orang dengan etnis apapun yang berjuang, berkontribusi untuk kemerdekaan Indonesia.

Kisah The Sin Nio mengajarkan Kawan GNFI bahwa nasionalisme sejati tidak pernah memandang latar belakang. Ia datang dari hati yang tulus ingin berkontribusi bagi tanah air meskipun harus menyembunyikan jati diri, meskipun harus berjuang sendirian, dan meskipun pada akhirnya harus mati dalam kesendirian.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.