Ikatan Darah menjadi film terbaru dari Uwais Pictures milik Iko Uwais dan dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 30 April 2026.
Disutradarai oleh Sidharta Tata, film ini juga melibatkan Iko Uwais sebagai produser eksekutif, bersama Ryan Santoso sebagai produser dan Yentonius Jerriel Ho sebagai produser eksekutif.
Mengusung genre action-drama, tayangan ini menampilkan koreografi pencak silat yang intens dan memukau, sekaligus dipadukan dengan drama keluarga yang berpusat pada hubungan kakak-beradik.
Unsur crime/ thriller turut dihadirkan melalui latar dunia kriminal, dengan konflik utama berupa pelarian dan ancaman kelompok preman.
Sebelum tayang, Ikatan Darah telah mencuri perhatian lewat world premiere di Fantastic Fest 2025 serta meraih penghargaan Best Production Design di Jogja-NETPAC Asian Film Festival.
Film ini juga melibatkan sekitar 150 stunt performer dan fighter lokal dalam proses produksinya.
Sinopsis
Berfokus pada Mega, seorang mantan atlet nasional pencak silat yang kini menjalani hidup sederhana dengan mengikuti perlombaan dan bekerja sebagai pramusaji. Kehidupannya berubah drastis ketika kakaknya, Bilal, terseret dalam masalah utang akibat judi.
Bilal kemudian menjadi buruan kelompok preman berbahaya setelah terlibat utang dengan sindikat tersebut. Keadaan semakin rumit karena ia juga membunuh penagih utangnya serta membawa kabur uang milik pimpinan kelompok itu.
Kelompok preman tersebut dipimpin oleh Primbon, sosok yang juga berperan sebagai pastor. Dalam upaya melarikan diri, Mega dan Bilal justru terjebak di sebuah kampung yang seluruh akses keluarnya telah dikuasai oleh para preman.
Dalam kondisi terdesak, Mega mengandalkan kemampuan pencak silatnya untuk melindungi diri dan kakaknya.
Pelarian mereka pun berubah menjadi pertarungan hidup dan mati, ketika keduanya harus mengerahkan seluruh tenaga hingga batas terakhir untuk menghadapi kelompok preman pimpinan Primbon.
Iko Uwais Dorong Pencak Silat Mendunia lewat Ikatan Darah
Dalam konferensi pers dan press screening yang digelar di Epicentrum XXI, Jakarta, Rabu (22/4/2026), Iko Uwais selaku Produser Eksekutif menyampaikan komitmennya untuk kembali memperkenalkan pencak silat sebagai identitas budaya Indonesia melalui karya film.
Ia menjelaskan bahwa pencak silat bukan sekadar seni bela diri, tetapi juga merepresentasikan kekayaan budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Menurutnya, silat mencakup berbagai aspek, mulai dari nilai budaya hingga teknik bela diri yang berkembang di berbagai daerah.
Iko menegaskan bahwa dirinya ingin membawa kembali pencak silat ke panggung yang lebih luas, khususnya di negara sendiri, dengan menunjukkan keunikan dan keragaman yang dimiliki.
Ia menggambarkan bahwa meskipun setiap perguruan memiliki gerakan dasar yang serupa, karakter setiap individu tetap berbeda saat mempraktikkannya. Hal ini menjadikan pencak silat sebagai seni yang kaya akan ekspresi dan identitas.
Lebih lanjut, ia menyoroti betapa luasnya perkembangan pencak silat di Indonesia. Dengan puluhan provinsi dan ratusan perguruan yang tersebar, bahkan di satu wilayah seperti Jakarta saja terdapat banyak aliran yang berbeda.
Melalui rumah produksinya, Uwais Pictures, Iko juga mengungkapkan rencana untuk terus menghadirkan film-film action yang berakar pada pencak silat. Ia berharap karya-karya tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mampu memperkenalkan dan melestarikan budaya Indonesia ke khalayak yang lebih luas.
Selain itu, ia membuka peluang kolaborasi bagi para pelaku industri kreatif dan praktisi bela diri untuk bersama-sama mengembangkan karya.
Dengan semangat tersebut, Iko optimistis bahwa film action berbasis pencak silat dapat menjadi medium yang efektif untuk memperkuat identitas budaya sekaligus memperkenalkan Indonesia di kancah global.
Kritik Sosial dan Pesan Moral di Balik Dialog Karakter Primbon
Dalam sesi yang sama, Iko Uwais turut menjawab pertanyaan terkait penggunaan dua ayat kitab suci dalam dialog karakter Primbon.
Ia menjelaskan bahwa pemilihan ayat-ayat tersebut bukan tanpa alasan. Menurutnya, realitas saat ini menunjukkan bahwa banyak orang memiliki tafsir yang berbeda terhadap keyakinan yang mereka anut.
Perbedaan interpretasi ini kerap melahirkan standar kebenaran yang beragam, bahkan ganda, di mana batas antara yang benar dan yang salah menjadi relatif, bergantung pada sudut pandang masing-masing individu.
Iko menekankan bahwa ayat-ayat yang digunakan dalam film memiliki sifat multitafsir. Artinya, ketika seseorang keliru dalam memaknai sebuah ayat, maka arah pemahaman dan tindakannya pun bisa menyimpang. Hal inilah yang kemudian direfleksikan melalui karakter Primbon.
Menurutnya, Primbon digambarkan sebagai sosok yang memiliki keyakinan kuat terhadap kebenaran versinya sendiri.
Dengan mengatasnamakan kuasa yang lebih tinggi, karakter tersebut memegang teguh pandangan yang dianggapnya absolut. Perspektif inilah yang kemudian menjadi kritik sekaligus cerminan atas fenomena yang terjadi di masyarakat saat ini.
Lebih jauh, Iko mengaitkan hal tersebut dengan kondisi dunia yang kerap diwarnai konflik dan perpecahan. Ia menilai bahwa pertentangan sering kali muncul dari perbedaan penafsiran atas kebenaran, yang masing-masing pihak yakini sebagai yang paling benar. Dalam pandangannya, situasi ini menggambarkan sisi abu-abu dalam diri manusia.
Melalui film ini, ia berharap pesan yang disampaikan dapat menjadi refleksi bersama bahwa kebenaran tidak selalu bersifat mutlak. Sebaliknya, nilai yang lebih esensial adalah bagaimana manusia mampu hidup berdampingan, saling menghormati, dan berbuat baik kepada sesama.
Pemeran Ikatan Darah
- Livi Ciananta
- Derby Romero
- Ismi Melinda
- Teuku Rifnu Wikana
- Abdurrahman Arif
- Rama Ramadhan
- Agra Piliang
- Dimas Anggara
Jangan lewatkan Ikatan Darah, mulai tayang 30 April 2026 di seluruh bioskop Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


