orang indonesia pakai tanaman herbal sejak dulu daniel damaz di borobudur ada reliefnya - News | Good News From Indonesia 2026

Orang Indonesia Pakai Tanaman Herbal Sejak Dulu, Daniel Damaz: Di Borobudur Ada Reliefnya

Orang Indonesia Pakai Tanaman Herbal Sejak Dulu, Daniel Damaz: Di Borobudur Ada Reliefnya
images info

Orang Indonesia Pakai Tanaman Herbal Sejak Dulu, Daniel Damaz: Di Borobudur Ada Reliefnya


Daniel Damaz adalah pendiri dari House of Herbs, sebuah proyek pribadi yang fokus ke kesadaran membudidaya tanaman herbal di rumah. Melalui proyek tersebut, Daniel melalui media sosialnya rutin mengkampanyekan pentingnya memanfaatkan tanaman herbal yang ditanam di lingkungan.

Di House of Herbs, Damaz merawat sekitar 60-an tanaman herbal yang kelak bisa bermanfaat bagi penyembuhan. Di antaranya ada jahe, bangle, kemuning, daun salam, dan pohon mengkudu.

“Jadi tanaman-tanaman itu bisa kita makan, bisa kita minum untuk menunjang kesehatan kita,” ucap Damaz kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.

Sebagai anak Gen Z, apa yang dilakukan Damaz memang terbilang anti-mainstream. Namun, menurutnya berkebun memang sudah mengakar dari dalam dirinya mengingat dulunya ia belajar ilmu pertanian semasa mengenyam pendidikan tinggi.

“Karena memang background-ku di pertanian dan aku melihat tren sekarang anak-anak muda khususnya mulai menjauh dari dunia pertanian. Aku mencoba bisa jadi contoh mungkin buat mereka semua bahwa dunia pertanian ataupun tanaman obat itu market yang bisa dipertimbangkan untuk ke depannya karena Indonesia adalah salah satu negara yang punya jenis tanaman obat terbanyak kedua di dunia setelah Brasil,” ungkapnya.

Nilai Lebih di Manfaat

Tiap orang bisa dengan bebas ingin memilih tanaman yang ingin ditanam. Apakah sayuran, buah-buahan, atau tanaman herbal seperti yang dilakukan Daniel Damaz.

Bagi Daniel sendiri, ia memilih tanaman herbal karena manfaatnya. Ketimbang sayuran biasa, ia meyakini ada nilai lebih yang nantinya bisa membantu jika sewaktu-waktu terserang penyakit.

“Tanaman herbal itu punya nilai lebih daripada tanaman-tanaman sayuran biasa, dan sekarang itu orang-orang juga sudah mulai aware dengan kesehatannya,” ucap Daniel.

Dengan dukungan media sosial, Daniel pun tidak ingin berhenti mengkampanyekan budidaya tanaman herbal di rumah. Ia berharap dari upayanya itu semakin banyak orang tertarik menanam tanaman herbal yang sejatinya bisa bermanfaat bagi diri sendiri, terutama keluarga.

“Mungkin ini dari segi perspektifku, mau coba meng-influence banyak orang untuk bisa tanam obatnya sendiri di kebun,” kata Daniel lagi.

Relief Borobudur

Daniel tidak sembarangan dalam menanam tanaman yang nantinya bisa dimanfaatkan sebagai pengobatan. Ia telah membaca buku, jurnal penelitian, dan mendapat ilmu pengetahuan dari akademisi mengenai hal tersebut.

Dari banyaknya referensi, ia juga semakin yakin bahwa tanaman herbal lekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia sejak dulu. Buktinya Daniel ingat betul bahwa relief di Candi Borobudur menyimpan kisah orang Indonesia tempo dulu menggunakan tanaman herbal sebagai pengobatan.

“Aku sempat tahu juga di Candi Borobudur itu ada namanya relief Karmawi Bangga. Jadi relief itu semacam gambar orang-orang zaman dulu itu mereka pada pakai tanaman obat. Kayak ada gambar di mana mereka numbuk tanaman ataupun lagi menyembuhkan orang,” ucap Daniel.

Daniel yakin, dari relief itu seolah menjadi gambaran tanaman herbal telah dimanfaatkan orang Indonesia sejak lama. Ia pun menegaskan ada baiknya kemampuan racik-meracik tanaman herbal terus dilanggengkan demi kebaikan bersama.

“Itu kan artinya dari zaman dulu tanaman obat sudah dipakai. Ilmunya secara turun-temurun sudah ada. Cuma kembali lagi sekarang masuk dunia akademis. Pembuktian seperti apa, ada zat-zat terkandungnya apa. Jadi itu yang aku pelajari dari dokter, buku, jurnal, dan pengalaman hidup,” begitu katanya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dimas Wahyu Indrajaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dimas Wahyu Indrajaya.

DW
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.