bagaimana bangunan di jepang tetap kokoh - News | Good News From Indonesia 2026

Bagaimana Bangunan Di Jepang Tetap Kokoh, Meski Kembali Dilanda Gempa M7,7?

Bagaimana Bangunan Di Jepang Tetap Kokoh, Meski Kembali Dilanda Gempa M7,7?
images info

Bagaimana Bangunan Di Jepang Tetap Kokoh, Meski Kembali Dilanda Gempa M7,7?


Bangunan di Jepang tetap kokoh saat terjadi gempa karena dirancang dengan teknologi tinggi dan memenuhi standar konstruksi tahan gempa yang diatur dalam undang-undang standar bangunan Jepang.

Ketanggunan ini terlihat ketika Jepang kembali dilanda gempa M7,7 pada Selasa (21/04/2026) sore waktu setempat. Dilansir dari Cnbc Indonesia, pusat gempa terjadi di lepas pantai Prefektur, bagian utara Jepang. Guncangan bahkan terasa hingga ibu kota Jepang, Tokyo.

Setelah terjadinya gempa tersebut, beredar di media sosial, video yang menampilkan gempa di Jepang. Dalam rekaman tersebut, bangunan tampak bergoyang tetapi tanpa reruntuhan yang jatuh. Kerusakan hanya terlihat pada jalan aspal yang terletak.

Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Kawan GNFI penasaran tidak? Simak samapai akhir untuk mendapat jawabannya.

Alasan Bangunan di Jepang Tetap Kokoh Meski Dilanda Gempa

Jawaban dilansir dari housingjapan, yang menjelaskan bahwa, bangunan di Jepang menggunakan desain standar konstruksi tahan gempa yaitu taishin, eishin, shin taishin, dan menshin, sehingga bisa tetap kokoh saat terjadi gempa.

Taishin

Taishin (ketahanan gempa), yang merupakan standar dasar. Pada standar ini, dinding, kolom, dan balok, diperkuat agar mampu menahan guncangan tanpa runtuh.

Seishin

Seishin (pengendalian getaran). Pada standar ini, bangunan dilengkapi peredam yang berfungsi seperti peredam kejut yang terintegrasi ke dalam struktur bangunan. Peredam menyerap energi seismik dan mengurangi goyangan pada bangunan.

Shin Taishin

Dilansir dari jogjakonstruksi, shin taishin merupakan standar baru dari taishin, tetapi bukan standar yang sama, ya. Prinsip dasar dari struktur Shin Taishin yaitu, mampu menahan guncangan.

Standar ini merupakan standar bangunan tahan gempa modern yang dikembangkan menggunakan teknologi. Standar ini menekankan pada kekuatan struktur, fleksibilitas material, dan penerapan sistem konstruksi yang bisa meredam guncangan.

Penerapan dari standar ini yaitu pondasi pada bangunan dilengkapi dengan bantalan karet khusus, pegas baja, dan perangkat peredam lainnya, yang memungkinkan struktur bergerak mengikuti getaran gempa. Bangunan juga dirancang sedikit lentur agar energi gempa tidak merambat ke struktur.

Menshin

Menshin (isolasi dasar). Pada kategori ini, bangunan dibangun dengan bertumpu pada bantalan karet atau slider, yang secara fisik memisahkannya dari tanah. Cara kerjanya yaitu, isolator akan menyerap sebagian besar gerakan dari gempa, sebelum mencapai struktur.

Dari penerapannya, standar ini memang terlihat mirip dengan Shin Taishin, tapi tidak sama, ya. Menshin ini lebih canggih dan mahal.

Terdapat jawaban tambahan yang dilansir dari tacthome, bahwa, bangunan di Jepang juga didukung dengan penggunaan sistem peringatan dini yang dibuat oleh pemerintahan Jepang, sebagai langkah meminimalisir jumlah korban dan kerusakan bangunan.

Apakah Standar Konstruksi Jepang Bisa Diterapkan di Indonesia?

Indonesia, sama seperti negara Jepang yang sering dilanda bencana gempa bumi. Dilansir dari bmkg, hal ini dapat terjadi karena Indonesia dilalui oleh jalur pertemuan 3 lempeng tektonik yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik.

Berbeda dengan Jepang, banyak bangunan di Indonesia, belum tahan terhadap guncangan gempa, sehingga setiap terjadi bencana ini, kerusakan yang ditimbulkan cenderung besar.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana jika standar konstruksi tahan gempa di Jepang, diterapkan di Indonesia, untuk meminimalisir kerusakan bangunan?

Dilansir dari jogjakonstruksi, standar tersebut dinilai relevan untuk diterapkan di Indonesia, tetapi perlu disesuaikan dengan kondisi geografis, iklim, dan kemampuan sumber daya manusia di Indonesia. Selain itu, terdapat tantangan besar yaitu terkait biaya pembangunan yang relatif tinggi dan kebutuhan tenaga yang ahli.

baca juga

Jika diseriusi dan diterapkan dengan tepat, standar tersebut bukan tidak mungkin dapat membuat bangunan di Indonesia akan lebih aman jika nantinya terjadi bencana gempa. Bagaimana menurutmu, Kawan GNFI?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

A
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.