Pada Selasa kemarin (22/04/2026), telah diperingati Hari Bumi sedunia dengan tema ”Kekuatan Kita, Planet Kita”. Dilansir dari earthday.org, hari bumi pertama kali digagas pada tahun 1970, oleh seorang senator junior dari Wisconsin, Amerika Serikat, bernama Senator Gaylord Nelson. Gagasan tersebut muncul dari rasa keprihatinannya atas memburuknya lingkungan di Amerika Serikat.
Keprihatian terhadap memburuknya lingkungan, juga masih terjadi hingga sekarang, salah satunya melalui industri fashion, yang ternyata juga memberikan dampak negatif bagi lingkungan.
Dampak Negatif Industri Fashion Terhadap Lingkungan
Penyumbang utama yang memberikan dampak negatif terhadap industri fashion yaitu pada proses produksinya yang menghasilkan emisi karbon, mikroplastik, hingga limbah tekstil.
Dilansir dari earth.org, industri fashion menyumbang hampir 10% emisi karbon global yang dihasilkan dari proses produksi, menyumbang 35% mikroplastik di lautan yang berasal dari pencucian limbah tekstil, dan menyumbang 85% limbah tekstil yang dibuang ke tempat sampah setiap tahunnya, atau dibakar tanpa proses daur ulang yang optimal, sehingga meningkatkan emisi karbon dari asap bakaran.
Pembakaran menjadi opsi termudah karena, limbah tekstil seperti poliester, nilon, dan akrilik yang digunakan dalam bahan pakaian, membutuhkan ratusan tahun untuk terurai secara alami.
Salah satu bahannya yaitu poliester, merupakan bahan sintetis dari serat plastik (botol) yang proses produksinya membutuhkan banyak energi dan minyak bumi. Pada proses ini, juga ikut menyumbang emisi karbon karena melepaskan partikel mudah menguap bersifat asam seperti hidrogen klorida.
Kontributor utama lain pada dampak negatif di industri fashion adalah proses pewarnaan dan penyelesaian, serta pengolahan benang juga produksi serat, sebagai bahan baku pakaian.
Ketiga penyumbang tersebut berperan pada menipisnya sumber daya alam, pencemaran sumber daya air, dan meningkatkan emisi gas rumah kaca. Hal ini terjadi karena proses produksi membutuhkan bahan bakar fosil, air, dan kapas dalam jumlah banyak.
Pewarnaan dan pengolahan tekstil yang menggunakan bahan kimia, ikut menyebabkan polusi air secara global melalui pembuangan limbah kimia ke selokan, sungai kecil, atau sungai besar, yang kemudian mengalir ke laut.
Dilansir dari liputan6, selain sebagai penyumbang polusi air, industri fashion juga menjadi konsumen air terbesar kedua di antara industri lainnya. Produksi satu kemeja katun membutuhkan sekitar 700 galon air, satu celana jeans sekitar 2.000 galon air, dan satu kilogram kapas sekitar 20.000 liter air.
Jika hal ini terus berlanjut hingga 2030, emisi limbah tekstil dan emisi global industri fashion akan meningkat signifikan.
Beralih Pada Fashion Ramah Lingkungan
Untuk merayakan Hari Bumi 2026 yang telah berlalu dua hari, salah satu hal yang bisa dilakukan dalam industri fashion yaitu, beralih pada fashion yang ramah lingkungan. Di Indonesia, sudah banyak brand-brand yang menciptakan fashion ramah lingkungan, sebagai langkah untuk melindungi bumi. Berikut beberapa diantaranya.
1. Osem

Osem | IG @_osem
Osem adalah fashion brand dari Indonesia yang mengusung konsep less or zero waste, dengan melakukan upcycling atau mengolah kembali sisa kain hasil produksi menjadi produk baru, agar tidak menjadi limbah tekstil yang terbuang sia-sia.
Selain itu, Osem juga memanfaatkan pewarna alami dari tumbuhan Indigofera Tinctoria, sebagai langkah pengurangan limbah kimia dari proses pewarnaan kain.
Langkah pengurangan limbah tekstil lainnya yang dilakukan Osem yaitu tidak menggunakan resleting dan kancing berbahan plastik, yang diketahui sulit untuk diurai maupun di daur ulang.
2. Sukkha Citta

Sukkha Citta | IG @sukkhacitta
Sukkha Citta adalah fashion brand dari Indonesia yang mendukung konsep zero waste. Dukungan tersebut dapat dilihat pada pengolahan sisa kain tekstil menjadi packaging sebagai langkah pengurangan limbah tekstil.
Dukungan lainnya yaitu melalui penggunaan warna alami atau 100% natural dye dari buah-buahan sebagai langkah pengurangan limbah kimia dari proses pewarnaan. Sukkha Citta juga melakukan penanaman pohon kapas sendiri, untuk bahan pakaiannya.
3. Imaji Studio

Imaji Studio | IG @imaji.studio
Imaji Studio adalah fashion brand dari Indonesia yang juga menerapkan konsep zero waste melalui beberapa langkah ini. Pertama, memanfaatkan kain tenun yang mengandung serat alami sebagai bahan pakaian.
Kedua, menggunakan pewarna alami dari tumbuhan sebagai langkah pengurangan limbah kimia. Ketiga, sebagai langkah pengurangan limbah tekstil, Imaji Studio melakukan upcycling dari sisa kain menjadi aksesoris yang berkualitas.
4. Kana Goods

Kana Goods | IG @kanagoods
Kana Goods adalah fashion brand dari Indonesia yang mengedepankan kualitas sekaligus sadar lingkungan dan sustainable. Kesadaran tersebut dapat dilihat pada penggunaan warna alami dari tumbuhan Indigofera Tinctoria, sebagai langkah pengurangan limbah kimia dari proses pewarnaan.
Kesadaran lainnya sebagai langkah pengurangan limbah tekstil dan penggunaan air berlebihan, Kana Goods menerapkan pembatasan produk yaitu dengan hanya menghadirkan satu ukuran di setiap produknya.
5. Lanivatti

Lanivatti | IG @lanivatti_official
Lanivatti adalah fashion brand dari Indonesia yang mengutamakan kenyamanan, desain, dan kelestarian lingkungan dalam proses produksinya. Keutamaan tersebut salah satunya dapat dilihat pada penggunaan material biodegradable atau material mudah terurai seperti rayon viscose dan lyocell.
Jadi, Kawan GNFI, di Hari Bumi yang sudah lewat dua hari ini, mari kita lindungi planet ini, mulai dari lemari sendiri yaitu beralih menggunakan fashion ramah lingkungan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


