Wow! Bobo akhirnya punya kisah yang membahas asal-usulnya secara resmi. Karakter kelinci biru yang menemani masa kecil jutaan orang Indonesia itu kini hadir dalam bentuk graphic novel “Bobo the Origin”.
Proyek ini akan membongkar misteri tentang siapa sebenarnya Bobo, dari mana ia datang, dan mengapa tubuhnya berwarna biru.
Selama puluhan tahun, Majalah Bobo dikenal sebagai teman tumbuh banyak generasi. Yang menarik, meskipun dikenal oleh sebagian besar anak-anak di Indonesia, identitas sang tokoh utama, yakni Bobo nyaris tak pernah dibahas secara mendalam. Kini, lewat format cerita visual yang lebih modern, Bobo memasuki babak baru untuk bisa dikupas lebih tuntas.
Peluncuran “Bobo the Origin” diumumkan pada 26 April 2026 di Gramedia Jalma. Buku ini hadir sebagai graphic novel, yaitu cerita bergambar dengan alur lebih panjang, visual sinematik, dan narasi yang lebih matang dibanding komik episodik biasa.
Format ini banyak dipakai untuk menjangkau pembaca remaja hingga dewasa muda.
Buku ini bukan sekadar komik baru, melainkan upaya membangun ulang semesta karakter Bobo dengan pendekatan modern, visual kuat, dan cerita yang lebih dalam.
Bukan sekadar menjual nostalgia, proyek ini juga mencoba memperkenalkan Bobo kepada generasi baru yang lebih akrab dengan konten visual cepat dan dinamis.
“Bobo the Origin” tentunya tetap membawa nilai-nilai lama, seperti persahabatan, keberanian, kasih sayang, dan anti-bullying. Akan tetapi, jelas, versi ini akan dikemas dengan gaya baru.
“… Tentunya, ini akan semakin menumbuhkan kecintaan kita semua kepada Bobo. Dan juga, anak-anak serta remaja masa kini akan mengenal siapa itu Bobo dan mengalami asyiknya masuk ke dunia Bobo,” kata David Togatorop.
Ario Anindito, sosok yang dikenal lewat karya di industri komik internasional menggarap proyek ini secara eksklusif. Sementara penulisan cerita dikerjakan Vanda Parengkuan, dengan David Togatorop sebagai inisiator.
Menurut David Togatorop, karakter Bobo sudah saatnya memiliki latar cerita yang bisa berkembang menjadi sebuah universe atau semesta cerita yang lebih luas. Dari sinilah muncul nama dunia baru Bobo: Medius.
Nama tersebut memungkinkan “Bobo the Origin” tidak hanya menjadi satu buku. Proyek ini bisa saja berkelanjutan dan menjadi awal lahirnya dunia Bobo versi modern dengan karakter baru, konflik baru, serta cerita lanjutan.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa karakter lokal kini diperlakukan seperti intellectual property (IP) modern.
IP adalah aset kreatif yang punya nilai ekonomi dan bisa dikembangkan ke banyak bentuk: buku, film, animasi, merchandise, game, hingga taman hiburan. Karakter seperti Bobo memiliki potensi besar karena sudah dikenal puluhan tahun.
“Sebagai IP legendaris, karakter Bobo sudah seharusnya memiliki latar belakang cerita yang dapat dikembangkan menjadi sebuah universe,” kata David.
Bagi generasi lama, ini adalah nostalgia yang diperbarui. Bagi generasi muda, ini bisa menjadi perkenalan pertama dengan salah satu ikon budaya populer Indonesia. Dan bagi industri kreatif nasional, langkah ini menunjukkan bahwa karakter lokal lama masih punya masa depan.
Peluncuran “Bobo the Origin” 26 April lalu juga dibarengi penjualan merchandise resmi di Gramedia Jalma, mulai dari kaus, enamel pin, tumbler, totebag, hingga aksesori edisi terbatas.
Nah, bagi Kawan yang tertarik, pemesanan awal komik sudah mulai dibuka melalui Alfagift mulai 26 April 2026.
Nantinya, seratus pembeli pertama mendapat kaus eksklusif, sedangkan seribu pembeli pertama memperoleh tambahan 10.000 A-poin.
Siapa Bobo?
Siapa tak kenal dengan Majalah Bobo, bacaan legendaris yang menemani masa kecil jutaan anak Indonesia sejak era 1970-an hingga sekarang.
Tokoh utamanya adalah kelinci bertubuh biru dengan jambul hijau khas. Wajahnya ramah, dekat dengan anak-anak, dan mudah dikenali lintas generasi. Dari cerita bergambar, kuis berhadiah, dongeng, hingga halaman pengetahuan, Bobo pernah menjadi teman mingguan di banyak rumah Indonesia.
Namun tak banyak yang tahu, Bobo ternyata bukan lahir dari Indonesia.
Karakter ini berasal dari Belanda dan pertama kali terbit di sana pada 1968. Popularitasnya membuat beberapa negara mengadaptasi majalah ini, termasuk Indonesia. Edisi Indonesia resmi hadir pada 14 April 1973 lewat kerja sama dengan Harian Kompas dan lisensi dari Belanda.
Pada masa awal, isi majalah Bobo Indonesia masih banyak menerjemahkan versi Belanda. Tetapi seiring waktu, redaksi Indonesia mengembangkan kontennya sendiri hingga memiliki identitas kuat dan berbeda dari negara asalnya.
Di sinilah Bobo Indonesia tumbuh menjadi sesuatu yang khas. Muncul cerita original seperti Oki dan Nirmala, rubrik karya pembaca, pengetahuan umum, puisi anak, hingga cerita bergambar yang dekat dengan keseharian anak Indonesia.
Walau sama-sama memakai tokoh kelinci biru, versi Indonesia dan Belanda ternyata punya banyak perbedaan. Nama anggota keluarganya berbeda, segmen usia pembacanya juga tidak sama.
Di Belanda, Bobo lebih ditujukan untuk balita usia 4–6 tahun dengan fokus bermain sambil belajar huruf, angka, bentuk, dan warna. Sementara di Indonesia, Bobo berkembang menjadi majalah anak usia sekolah dasar, sekitar 6–12 tahun, dengan isi lebih beragam dan lebih berat secara literasi.
Itulah mengapa banyak anak Indonesia dulu belajar membaca rutin, mengenal cerita berseri, mengirim karya tulis, bahkan menunggu surat dimuat di rubrik pembaca.
Kini, setelah puluhan tahun dikenal publik, Bobo memasuki fase baru lewat “Bobo the Origin”. Graphic novel ini untuk pertama kalinya mengangkat kisah asal-usul Bobo secara resmi: siapa dirinya, dari mana datangnya, dan mengapa ia berwarna biru.
Bagi generasi lama, ini seperti membuka misteri masa kecil yang lama tersimpan. Bagi generasi baru, ini adalah pintu masuk mengenal salah satu ikon budaya populer anak Indonesia yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


