Roestam Effendi seorang anak Minangkabau yang gemar bereksperimen dengan kata, justru menemukan jalannya untuk duduk di parlemen Belanda. Karya-karyanya diakui dunia. Namun, namanya perlahan tenggelam dalam derasnya waktu.
Pada era 1920-an, dunia kesusastraan Hindia Belanda terkejut. Seorang pemuda kelahiran Padang, Sumatra Barat pada 13 Mei 1903, anak tertua dari sembilan bersaudara memperkenalkan bentuk puisi yang tak lazim. Roestam Effendi mengambil aksara Melayu yang dianggap mainstream saat itu dan membelokkannya ke ranah baru yang radikal.
1. Eksperimen Bahasa Melayu yang Melompati Zaman
Jika Chairil Anwar dikenal sebagai "Si Binatang Jalang" dengan puisinya yang liar, maka Roestam Effendi adalah seorang perintis bahasa Melayu murni yang menjelajah jauh melampaui zamannya.
Ia dikenal cenderung mempertahankan tata bahasa dan kosakata Melayu Klasik. Namun, eksperimen linguistik Roestam banyak terlihat pada bentuk puisinya. Ia meminjam kata dan frasa dari bahasa asing untuk menciptakan nuansa baru, sekaligus menjauh dari tradisi persajakan Melayu lama yang saat itu masih dominan.
Seperti yang dijelaskan A. Teeuw, seorang kritikus sastra terkemuka yang dikutip dari laman Liputan6, Roestam sangat mengagumkan. "Bahasanya memiliki ciri khas tersendiri dan ia berusaha mencari bentuk-bentuk baru untuk menggantikan bentuk lama yang ia anggap sudah lapuk," tulis Teeuw dalam Sastra Baru Indonesia.
Bahkan, ia memuji perbendaharaan kata Roestam yang menarik perhatian dan mengandung sejumlah kata yang langka digunakan saat itu.
Tujuan Roestam melakukan hal ini sederhana: bahasa adalah tentang pembebasan, dan inovasi merupakan inti dari kebebasan berkespresi. "Bahasa bukan sekadar alat menyampaikan pesan. Ia adalah kanvas di mana jiwa seorang seniman menari," begitu kira-kira mungkin ia akan berkata mengingat semangatnya.
2. "Bebasari": Drama Modern Pertama yang Dilarang, tetapi Diakui Dunia
Pada pertengahan 1920-an, Roestam menerbitkan sebuah naskah drama berjudul "Bebasari" yang mengubah sejarah teater modern Indonesia.
Naskah ini bukan hanya drama biasa; ia ditulis dalam bentuk sajak (drama bersajak), sebuah inovasi langka yang belum pernah ada sebelumnya. Itulah mengapa "Bebasari" dianggap sebagai naskah drama berbahasa Indonesia pertama dalam sejarah sastra modern.
Kisahnya, "Bebasari" adalah sebuah kritik halus terhadap penjajahan Belanda yang dibungkus dalam lakon epik berbasis wiracarita Ramayana. Di balik petualangan para ksatria, ada amarah terhadap penindasan yang tertuang dalam setiap monolog.
Karena berbau komunis di mata pemerintah kolonial, pengedaran "Bebasari" segera dihalangi. Penjajah melarangnya beredar luas. Ironisnya, "Bebasari" bukan hanya menjadi tonggak sejarah sastra, tetapi juga ikon perlawanan intelektual.
3. "Percikan Permenungan": Puisi yang Lahir dari Kekecewaan
Setelah "Bebasari" dihadang, Rustam tidak patah semangat. Pada tahun 1925 di Padang, ia menulis sebuah antologi puisi berjudul "Pertjikan Permenoengan" (Percikan Permenungan).
Buku ini sengaja diciptakan sebagai reaksi atas perilaku Pemerintah Hindia Belanda yang menghalangi "Bebasari". Bahkan, ia merelakan kelahiran karyanya dengan kata pengantar yang sangat berapi-api di cetakan keduanya.
Kumpulan puisi ini berisi bait-bait yang secara tidak langsung berbicara tentang anti-kolonial, seperti salah satu yang berjudul "Tanah Air" (Homeland). Di dalamnya ia merenung, memberontak, dan mengobarkan semangat kemerdekaan lewat irama yang tidak biasa.
Dikutip dari laman Badan Bahasa Kemendikdasmen, Roestam Effendi adalah Pujangga Baru, Ia menerbitkan sajak-sajak yang cair dan revolusioner, termasuk kumpulan sajak yang terkenal berjudul "Pertjikan Permenoengan", yang berisi 30 sajak pilihannya, menggambarkan kecerdasannya dalam meramu estetika bahasa.
Salah satu puisinya di antologi puisi Pertjikan Permenoenganyang paling fenomenal adalah "Tiadakah kau dengar suara kami bergemuruh di bumi merdeka yang nyata." Bait ini sering dianggap sebagai bentuk kegelisahan sekaligus manifesto kesadaran politiknya di luar negeri.
4. Anggota Parlemen Belanda yang Merindukan Indonesia
Tidak banyak yang mengetahui bahwa Roestam setelah peristiwa 1926—1927 yang memaksanya pergi ke Belanda mengukir prestasi yang spektakuler. Ia menjadi orang Indonesia pertama yang duduk sebagai anggota parlemen di Belanda (Tweede Kamer) dari Partai Komunis Belanda periode 4 Juli 1933 hingga 1946.
Di negeri orang, justru ia meniti karier cemerlang sebagai legislator, sementara di tanah airnya ia hanya dikenal sebagai nama yang lewat dalam sejarah puisi. Bukankah ini sebuah ironi?
Namun, meskipun panggung politik Eropa menjanjikan kenyamanan, Roestam tak pernah melupakan perjuangan bangsanya. Dalam banyak pidato dan korespondensinya, ia menyatakan keaktifannya di dewan semata-mata dilakukan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang ia cita-citakan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


