dari dua arah yang berbeda turfah dan mikail dalam dinamika local volunteer green leaders 2025 - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Dua Arah yang Berbeda: Turfah dan Mikail dalam Dinamika Local Volunteer Green Leaders 2025

Dari Dua Arah yang Berbeda: Turfah dan Mikail dalam Dinamika Local Volunteer Green Leaders 2025
images info

Dari Dua Arah yang Berbeda: Turfah dan Mikail dalam Dinamika Local Volunteer Green Leaders 2025


Dalam sebuah program yang sama, setiap individu membawa alasan, ekspektasi, dan cara bertumbuh yang berbeda. Hal inilah yang tergambar dari perjalanan dua Local Volunteer, Turfah dan Mikail, dalam AIESEC Green Leaders 2025.

Keduanya hadir dengan latar belakang yang kontras: satu datang secara spontan untuk mengisi liburan, sementara yang lain kembali dengan pengalaman sebelumnya dan ekspektasi yang lebih matang. Namun, di tengah perbedaan tersebut, keduanya dipertemukan oleh satu hal yang sama, proses belajar yang nyata melalui pengalaman.

Bagi Turfah, keputusan untuk bergabung berangkat dari sesuatu yang sederhana: keinginan untuk membuat liburan terasa lebih bermakna. Tanpa rencana besar yang berhasil diwujudkan sebelumnya, ia melihat program ini sebagai alternatif untuk mengisi waktu. Sebaliknya, Mikail justru datang dengan kesadaran penuh. Pengalamannya sebagai Local Volunteer sebelumnya mendorongnya untuk kembali terlibat, dengan harapan bisa merasakan kembali dinamika yang pernah ia alami.

Perbedaan ini juga terlihat dalam cara mereka memandang awal perjalanan. Turfah memasuki program tanpa ekspektasi yang jelas, bahkan cenderung santai. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa pengalaman ini jauh lebih intens dan berkesan dari yang ia bayangkan. Di sisi lain, Mikail sudah memiliki gambaran tentang apa yang akan dihadapi. Ia memahami alur program, tetapi tetap menyadari bahwa setiap pengalaman tidak akan pernah benar-benar sama. Baginya, meskipun familiar, setiap periode tetap membawa cerita yang berbeda.

baca juga

Dalam dinamika keseharian, keduanya menemukan momen berkesan dengan cara yang unik. Turfah menemukan titik refleksi saat mengajar anak sekolah dasar, sebuah pengalaman yang awalnya tidak ia minati. Namun justru dari situ, ia melihat sisi baru dalam dirinya. Ia menyadari bahwa anak-anak membawa energi dan warna yang mampu mengubah cara pandangnya terhadap interaksi dan keceriaan. Sementara itu, Mikail menemukan momen berkesannya di luar agenda formal. Sebuah perjalanan sederhana dengan bis malam di Jakarta bersama salah satu peserta internasional menjadi pengalaman yang paling membekas baginya, momen yang menunjukkan bahwa makna sering kali hadir di luar rencana.

Dari sisi pembelajaran, keduanya sama-sama mendapatkan wawasan baru, tetapi dengan fokus yang berbeda. Turfah menyoroti bagaimana program ini memperkenalkannya pada isu perubahan iklim secara lebih mendalam. Ia mempelajari berbagai konsep baru yang sebelumnya asing baginya. Mikail, di sisi lain, tertarik pada bagaimana isu lingkungan, khususnya daur ulang, dikaitkan dengan aspek bisnis. Pengalaman di lapangan memberinya perspektif bahwa keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang idealisme, tetapi juga tentang sistem yang berjalan secara nyata.

Dalam hal kepemimpinan, perjalanan keduanya menunjukkan bentuk yang berbeda. Turfah merasakan peran kepemimpinannya ketika mengajar dan membimbing peserta internasional, meskipun ia sendiri mengaku tidak secara langsung menyadari perkembangan tersebut. Kepemimpinan baginya muncul secara alami dalam interaksi sehari-hari. Sementara itu, Mikail mengalami kepemimpinan dalam bentuk yang lebih eksplisit, seperti saat ia menjadi game master dalam sebuah agenda. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman baru tentang kompleksitas memimpin sebuah kegiatan, bahwa di balik sebuah acara yang berjalan lancar, terdapat proses yang tidak sederhana.

Keduanya juga sama-sama didorong keluar dari zona nyaman, meskipun dalam konteks yang berbeda. Bagi Turfah, tantangan tersebut hadir dalam bentuk aktivitas yang padat, interaksi sosial yang intens, serta pengalaman mobilitas yang baru seperti menggunakan transportasi umum ke berbagai tempat. Semua ini menjadi langkah besar di luar rutinitasnya. Sementara bagi Mikail, tantangan terletak pada tanggung jawab dan ekspektasi. Pengalaman memimpin dan mengambil keputusan secara langsung memberinya gambaran nyata tentang peran seorang organizer.

Dalam konteks lintas budaya, pengalaman ini memberikan refleksi yang menarik. Turfah melihat keberagaman sebagai sesuatu yang menantang sekaligus memperkaya. Ia menyadari bahwa perbedaan perspektif justru membuka ruang diskusi yang lebih luas, sekaligus mengajarkannya untuk menjadi pendengar yang lebih baik. Mikail, di sisi lain, melihat bahwa meskipun terdapat perbedaan latar belakang, dinamika kerja tim tidak jauh berbeda dengan lingkungan lokal. Namun, ia juga menyadari adanya perbedaan budaya tertentu, seperti cara pandang terhadap hal-hal yang dianggap sensitif, yang memberinya pemahaman baru tentang keberagaman global.

baca juga

Dalam hal adaptasi, keduanya menunjukkan pendekatan yang berbeda namun saling melengkapi. Turfah memilih untuk menempatkan dirinya sebagai pendengar yang aktif, menjaga sikap sopan, dan membangun hubungan melalui empati. Sementara itu, Mikail mengalami perkembangan dalam kemampuan komunikasinya, terutama dalam penggunaan bahasa Inggris. Seiring waktu, ia merasakan peningkatan kepercayaan diri dalam berinteraksi dengan peserta internasional.

Di akhir perjalanan, keduanya membawa refleksi yang kuat. Turfah menggambarkan pengalamannya sebagai kombinasi antara perubahan dan kebahagiaan, dua hal yang saling melengkapi dalam proses pertumbuhan. Mikail, dengan sudut pandang yang lebih reflektif, menyadari bahwa realitas tidak selalu harus sesuai dengan ekspektasi. Baginya, yang terpenting adalah bagaimana seseorang merespons pengalaman tersebut. Dalam kata lain, bukan situasi yang menentukan makna, tetapi cara individu memaknainya.

Kisah Turfah dan Mikail menunjukkan bahwa tidak ada satu cara yang benar untuk menjalani pengalaman sebagai Local Volunteer. Baik datang tanpa rencana maupun dengan ekspektasi yang matang, setiap individu tetap memiliki ruang untuk bertumbuh. Program ini menjadi wadah di mana perbedaan tersebut tidak hanya diterima, tetapi juga menjadi kekuatan yang memperkaya pengalaman bersama.

Pada akhirnya, perjalanan mereka bukan hanya tentang apa yang mereka lakukan selama program, tetapi tentang bagaimana mereka berubah karenanya. Dari langkah yang sederhana hingga refleksi yang mendalam, kisah ini menjadi bukti bahwa pengalaman nyata adalah guru yang paling efektif, membentuk, menantang, dan menginspirasi dalam waktu yang bersamaan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.