Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi permasalahan kesehatan yang berulang di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Data Dinas Kesehatan Kota Kupang mencatat 141 kasus DBD sepanjang 2025, dengan dua kasus kematian.
Meski berbagai upaya pengendalian telah dilakukan, kasus yang terus muncul setiap tahun menunjukkan bahwa pendekatan konvensional saja belum cukup. Di tengah tantangan ini, sebuah inovasi mulai diperkenalkan, yaitu teknologi nyamuk ber-Wolbachia.
Wolbachia, Teknologi Pelengkap dalam Pengendalian DBD
Wolbachia adalah bakteri alami yang banyak ditemukan pada serangga, namun tidak terdapat secara alami di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti, vektor (pembawa) utama virus dengue, penyebab DBD. Melalui serangkaian penelitian, bakteri ini berhasil dimasukkan ke dalam tubuh nyamuk tersebut.
Hasilnya, Wolbachia mampu menghambat replikasi virus dengue dengan “merebut” sumber daya yang dibutuhkan virus untuk berkembang, sehingga nyamuk yang mengandung Wolbachia tidak lagi efektif menularkan virus dengue saat menggigit manusia.
Temuan ini kemudian dikembangkan menjadi teknologi pengendalian DBD berbasis biologis. Nyamuk ber-Wolbachia dilepaskan ke lingkungan agar berkembang biak dengan populasi Aedes aegypti setempat, sehingga secara bertahap populasi nyamuk menjadi tidak lagi mampu menularkan virus.
Penerapan metode tersebut di Kota Yogyakarta menunjukkan hasil yang signifikan, dengan penurunan kasus DBD hingga 77 persen serta penurunan angka rawat inap hingga 86 persen. Seiring perkembangannya, sejak tahun 2023 teknologi ini kemudian diadopsi oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) sebagai program percontohan di lima kota, termasuk Kota Kupang, bersama Jakarta Barat, Bandung, Semarang, dan Bontang.
Kader Sebagai Garda Terdepan di Lapangan
Keberhasilan implementasi metode Wolbachia tidak hanya ditentukan oleh pendekatan ilmiah, tetapi juga oleh sejauh mana masyarakat memahami dan menerima intervensi ini. Di titik inilah kader kesehatan memegang peran penting sebagai “penyambung lidah” antara program dan warga.
Kader yang dipilih berasal dari kader kesehatan maupun tokoh dari wilayah masyarakat setempat. Mereka menjadi pihak yang menjelaskan metode Wolbachia dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami warga sekitar. Tak hanya itu, mereka juga menjawab keraguan, sekaligus membangun kepercayaan masyarakat terhadap program yang masih tergolong baru ini.
Implementasi Wolbachia dilakukan dengan menitipkan ember berisi air dan telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia ke rumah-rumah yang telah ditetapkan. Pemilik rumah, selanjutnya disebut orang tua asuh (OTA), bertugas menjaga ember tetap berada di tempatnya dan tidak tumpah.
Ember dititipkan selama dua minggu sebelum kemudian diganti dengan telur nyamuk yang baru. Proses ini berlangsung selama 6 sampai 8 bulan, hingga persentase nyamuk ber-Wolbachia di wilayah tersebut dianggap cukup untuk berkembang secara mandiri.
Kader kesehatan yang berperan terjun langsung ke rumah-rumah OTA untuk mengganti telur nyamuk ber-Wolbachia di ember yang dititipkan. Mereka juga menjadi rujukan bagi warga jika terjadi kendala, seperti ember hilang atau masalah lainnya.
Ketika Kader Pria Ikut Ambil Peran
Selama ini, peran kader kesehatan di masyarakat di 4 kota implementor umumnya lebih banyak dijalankan oleh perempuan. Namun dalam implementasi Wolbachia di Kota Kupang, keterlibatan kader justru menunjukkan dinamika yang berbeda.
Menariknya, peran kader kesehatan dalam implementasi Wolbachia di Kota Kupang tidak hanya dijalankan oleh perempuan. Terbilang cukup banyak laki-laki turut ambil bagian sebagai kader di lapangan. Kehadiran kader pria ini memberi warna tersendiri, sekaligus menegaskan bahwa upaya kesehatan masyarakat adalah tanggung jawab bersama, tanpa dibatasi oleh peran gender.
Pak Ilyas adalah salah satu kader kesehatan dari Kelurahan Sikumana, Kota Kupang. Saat pertama kali ditawari pihak kelurahan untuk menjadi kader, ia langsung menyanggupi. Baginya, implementasi Wolbachia merupakan program yang baik untuk membantu menanggulangi DBD di lingkungannya.
Kehadiran kader pria dinilai mampu menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini cenderung kurang terlibat dalam kegiatan kesehatan, khususnya laki-laki dewasa. Selain itu, keterlibatan mereka juga turut memperkuat penerimaan program di tingkat komunitas.
Keterlibatan kader kesehatan laki-laki diharapkan dapat terus didorong sebagai bagian dari pendekatan yang lebih inklusif, sehingga program kesehatan berbasis masyarakat dapat berjalan lebih optimal dan menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.
Tantangan di Lapangan
Implementasi nyamuk ber-Wolbachia di lapangan tidak lepas dari berbagai tantangan. Misinformasi di masyarakat sempat mengemuka terkait keamanan Wolbachia, mulai dari anggapan bahwa nyamuk yang dilepas berbahaya, hingga kekhawatiran akan dampaknya bagi kesehatan.
Dalam situasi ini, kader kesehatan berperan penting untuk meluruskan informasi sekaligus membangun kepercayaan warga. Pak Ilyas dan kader lainnya turut menjelaskan teknologi Wolbachia dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami masyarakat.
Di sisi lain, faktor lingkungan juga turut memengaruhi implementasi Wolbachia di Kota Kupang. Letaknya yang berada di pesisir dengan suhu cenderung panas ternyata memengaruhi perkembangan telur nyamuk yang dititipkan di rumah-rumah OTA.
Implementasi Wolbachia di Kota Kupang menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Sejak diluncurkan pada Oktober 2023, intervensi ini dinilai mampu menekan angka kasus DBD secara signifikan. Data yang dirilis Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kupang, drg. Retnowati pada Rabu, 21 Januari 2026 menunjukkan penurunan kasus hingga sekitar 60 persen, sementara jumlah kasus yang memerlukan rujukan ke rumah sakit juga turun hingga 71 persen.
Setelah sebelumnya dilaksanakan di tiga kecamatan (Oebobo, Maulafa, dan Kelapa Lima), implementasi Wolbachia kini dilanjutkan ke dua wilayah berikutnya, yaitu Kecamatan Kota Raja dan Kota Lama. Di tingkat komunitas, perubahan mulai dirasakan, dengan beberapa wilayah melaporkan penurunan kasus, bahkan tidak ditemukan kasus DBD dalam periode tertentu sejak intervensi dilakukan.
Implementasi Wolbachia di Kota Kupang diharapkan menjadi model pembelajaran bagi daerah lain di Indonesia. Dengan dukungan berkelanjutan, penguatan edukasi, serta kolaborasi lintas sektor, upaya eliminasi DBD bukan lagi sekadar target, melainkan peluang nyata yang dapat dicapai bersama.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


