bahasa indonesia bagi penutur jati dan penutur asing - News | Good News From Indonesia 2026

Antara Intuisi dan Instruksi: Menilik Presisi Bahasa Indonesia dari Mata Penutur Asing

Antara Intuisi dan Instruksi: Menilik Presisi Bahasa Indonesia dari Mata Penutur Asing
images info

Antara Intuisi dan Instruksi: Menilik Presisi Bahasa Indonesia dari Mata Penutur Asing


Pernahkan Kawan berpikir lama imbuhan yang cocok digunakan ketika berbicara bahasa Indonesia? Sebagai penutur jati atau asli bahasa Indonesia, kita menggunakan bahasa berdasarkan intuisi yang diturunkan dari generasi sebelumnya. Selama konteksnya selaras, percakapan yang terjadi sesama penutur jati akan langsung dipahami, meskipun mungkin secara teknis tata bahasa yang kita gunakan sering kali "melompat-lompat" atau tidak utuh.

Namun, pemandangan ini akan berubah drastis saat Kawan masuk ke dalam ruang kelas Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Bahasa Indonesia tidak lagi sekadar "rasa", melainkan sebuah sistem presisi yang dibedah dengan penuh ketelitian.

Aturan imbuhan yang bagi kita terasa otomatis, bagi mereka berubah menjadi rumus yang menuntut logika penggunaan yang sangat spesifik. Cara membedakan pelafalan huruf 'e'—antara pepet (ê) dan taling (é/è)—berubah menjadi tantangan hafalan. Padahal, bagi kita, lidah seolah sudah tahu arahnya hanya dengan mengandalkan rasa.

baca juga

Antara Intuisi dan Instruksi

Ketika berbicara dengan mitra, Kawan tahu waktu menggunakan ber- atau me-kan bukan karena Kawan menghafal aturan morfologi. Hal ini terjadi karena Kawan telah terpapar ribuan jam interaksi sosial yang membentuk "rasa" bahasa. Namun, situasi akan berbeda untuk seorang penutur asing yang sedang belajar Bahasa Indonesia.

Bagi pemelajar asing, "rasa" adalah kemewahan yang belum mereka miliki, sehingga aturan presisi menjadi satu-satunya pegangan. Upaya untuk menjadi presisi ini sering kali berbenturan dengan sistem bahasa ibu (L1) mereka sendiri. Hal ini berpengaruh pada pelafalan dan penggunaan imbuhan yang ada. 

Kekeliruan pemelajar BIPA dalam melafalkan huruf 'e' diabadikan dalam beberapa penelitian oleh Nunung Sitaresmi dkk. pada pemelajar Korea Selatan (2024) di Jurnal Onoma dan I Made Darma Sucipta dkk. pada pemelajar program Darmasiswa (2025) di Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia. Selain itu, kekeliruan pemelajar BIPA dalam menggunakan imbuhan dicatatkan dalam penelitian Nazihatun Najiba dkk. pada pemelajar Afghanistan (2023) di Jurnal Ghancaran dan Ari Kusmiatun dkk. pada pemelajar Thailand (2025) di Jurnal Dialektika. 

baca juga

Dari Pelafalan Hingga Imbuhan

Temuan dari Sitaresmi dkk. (2024), terungkap bahwa hambatan utama pemelajar Korea Selatan terletak pada fenomena netralisasi, yaitu kecenderungan mereka untuk menyamaratakan bunyi. Akibat pengaruh bahasa ibu tersebut, lidah mereka sering "terpeleset" saat harus mengucapkan bunyi "e" yang lemah (pepet [ə]), seperti pada kata 'sebentar' atau 'dengan', dan menggantinya dengan bunyi "e" yang lebih tajam (taling [e] atau [ɛ]) . Bagi mereka, posisi lidah dan bentuk bibir untuk kedua bunyi ini dianggap sangat mirip, sehingga suara yang seharusnya berbeda di telinga kita justru terdengar sama bagi mereka.

Sucipta dkk. (2025) mengamati fenomena ini pada kelompok yang lebih luas, yaitu mahasiswa internasional peserta program Darmasiswa di Bali. Temuan riset menunjukkan bahwa kesalahan dominan (mencapai 71%) pada fenomena substitusi atau bongkar pasang bunyi. Banyak pemelajar yang secara tidak sadar mengganti bunyi "e" pepet menjadi bunyi "e" taling. Sebagai contoh, mereka mungkin mengucapkan kata "pergi" atau "memasak" dengan suara "e" yang terdengar terlalu kuat, mirip seperti saat kita mengucap "sate". 

Penggunaan afiksasi (imbuhan) menjadi medan perang morfologi bagi pemelajar BIPA. Temuan Najiba dkk. (2023) pada mahasiswa asal Afghanistan menunjukkan bahwa kesalahan afiksasi sering kali berakar pada pengaruh B1 atau bahasa ibu terhadap B2 atau bahasa target. Kata dasar dan kata berimbuhan dalam bahasa ibu mereka (bahasa Persia) sering dianggap memiliki fungsi yang serupa, sehingga pemelajar cenderung melakukan pelesapan imbuhan. Mereka sering kali menggunakan kata dasar seperti 'bawa' atau 'pesan' dalam struktur yang seharusnya menuntut penggunaan prefiks 'membawa' atau 'memesan'. Selain itu, mereka kesulitan menentukan variasi prefiks me- atau ber-, misalnya dengan menuliskan 'berpergian' alih-alih 'bepergian'.

Senada dengan temuan tersebut, penelitian Kusmiatun dkk. (2025) pada pemelajar asal Thailand di Yogyakarta juga menyorot kompleksitas aturan peluluhan konsonan sebagai hambatan. Pemelajar sering kali terjebak dilema peluluhan bunyi /k, t, s, p/. Mereka tidak meluluhkan bunyi yang seharusnya luluh, seperti menuliskan 'mentaati' untuk 'menaati'. Namun, mereka meluluhkan bunyi yang seharusnya tetap, seperti mengubah 'mencairkan' menjadi 'menyairkan'. Kesalahan ini diperparah oleh pengaruh kebiasaan lisan yang tidak baku, seperti penggunaan kata 'merubah' yang seharusnya adalah 'mengubah'.

Membangun Pemahaman Bersama

Deretan temuan riset di atas menyadarkan kita bahwa bahasa Indonesia bagi pemelajar asing adalah sebuah struktur logika yang harus disusun dengan presisi. Aturan yang bagi kita otomatis, bagi mereka adalah hasil dari proses kognitif yang melelahkan. Kegiatan mengajar Bahasa Indonesia bukan sekadar mentransfer kosakata, melainkan membangun jembatan antara intuisi penutur jati dan logika pemelajar.

Data dari para peneliti ini bukan sekadar angka kesalahan, melainkan peta bagi kita sebagai penutur asli untuk lebih berempati. Kita bisa memberikan ruang belajar yang lebih apresiatif kepada pemelajar yang bersungguh-sungguh belajar. Bahasa Indonesia adalah udara bagi kita, tetapi ia adalah cakrawala baru yang sedang mereka pelajari cara bernapas di dalamnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AN
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.