goodtalk off air yogyakarta masih perlukah menjaga autentisitas dan jati diri di era ai - News | Good News From Indonesia 2026

GoodTalk Off-air Yogyakarta: Masih Perlukah Menjaga Autentisitas dan Jati Diri Di Era AI?

GoodTalk Off-air Yogyakarta: Masih Perlukah Menjaga Autentisitas dan Jati Diri Di Era AI?
images info

GoodTalk Off-air Yogyakarta: Masih Perlukah Menjaga Autentisitas dan Jati Diri Di Era AI?


Autentisitas merupakan bagian lain dari penggunaan Artificial Intelligence (AI) secara masif. Keberadaannya semakin kabur sejalan dengan seringnya penggunaan AI dan jawabannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaannya, apakah autentisitas ini masih penting di era AI? Apakah menggunakan AI itu bisa berarti tidak otentik? Dan, apakah autentisitas itu hanya dipandang sebagai bagian dari strategi atau nilai yang harus dipegang bagi PR dan korporat?

Itulah yang dicoba dijawab pada acara GoodTalk Off-air bertajuk Rethinking Authenticity: Menjaga Jati Diri di Era AI dan Digital di Artotel Suites Bianti Yogyakarta pada Rabu (6/5/2026).

Acara perdana di Yogyakarta ini terselenggara atas kerja sama antara Good News From Indonesia (GNFI) dengan BPC Perhumas Yogyakarta dan Perhumas Muda Yogyakarta serta didukung oleh Artotel Group dan Bakpia Juwara Satoe

Kegiatan ini menghadirkan para praktisi yang setiap harinya bersentuhan dengan AI. Ada Janoe Arijanto (Ketua Umum Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I)) dan Maman Suherman (Penulis dan Advisor GNFI) serta dimoderatori oleh Febriansyah Tri Prasetyo, Produser Eksekutif GNFI. 

GoodTalk off-air Yogyakarta diawali dengan penampilan singkat wayang golek menak oleh Ulumudin dari UGM. Hal yang berbeda dari wayang golek menak ini adalah adanya ibrah atau hikmah di akhir pertunjukan. Ini merupakan sebuah contoh dari sebuah autentisitas budaya yang berkembang di suatu daerah. 

pertunjukan wayang golek menak
info gambar

pertunjukan wayang golek menak oleh Ulum dari UGM


Acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Aswad Ishak, Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) Perhumas Yogyakarta dan Wahyu Aji, CEO GNFI. 

Dalam sambutannya, Aswad Ishak menyampaikan pelajaran berharga dari film The Devil Wears Prada 2 yang menekankan pentingnya jati diri bagi sebuah media.

“Media itu harus punya jati diri. Format bisa berubah, tetapi jati diri sebuah media tidak boleh berubah,” kata Aswad Ishak dalam sambutannya. 

Di saat yang sama, Wahyu Aji, CEO GNFI secara resmi merilis JogjaStats. Dalam pidatonya, ia menerangkan bahwa selama ini orang cenderung melewatkan ‘berita’ dalam bentuk teks dengan sangat cepat. Namun, berbeda dengan angka, pembaca biasanya akan ‘berhenti’ sejenak.

“Semoga kejernihan berpikir dari Jogja bisa menjernihkan kota yang lainnya (melalui konten-konten di JogjaStats),” harap Wahyu Aji.

Studi Tentang AI, Kemampuan Berpikir dan Autentisitas

Janoe Arijanto di Goodtalk Off-air
info gambar

Janoe Arijanto di Goodtalk Off-air


Selama 4 tahun terakhir, kita hidup berdampingan dengan AI. Selama itu pula muncul banyak penelitian tentang penggunaan AI dan dampaknya bagi manusia.

Salah satunya penelitian dari MIT(Massachusetts Institute of Technology), Amerika Serikat yang menunjukkan bahwa 83% dari mahasiswa pengguna ChatGPT yang diteliti mengalami kesulitan untuk mengutip satu kalimat pun dari esai yang baru saja mereka tulis dengan bantuan AI, dan aktivitas otak mereka menunjukkan pelemahan koneksi saraf. 

Studi MIT tersebut juga memperkenalkan konsep "cognitive debt" atau hutang berpikir. Saat menggunakan AI kita bisa mendapatkan banyak sekali jawaban dalam waktu singkat, bahkan tanpa perlu melalui proses berpikir. 

Pada dasarnya itu seperti kita berhutang pada pikiran kita sendiri dan mengakibatkan konsekuensi jangka panjang. Contohnya seperti penurunan ingatan dan juga penurunan kemampuan dalam menganalisa sesuatu. Jika pemikiran kita berikan pada mesin dan dibiarkan terus menerus, agak susah untuk mengembalikannya dalam beberapa tahun ke depan. 

Menurut Janoe Arijanto, jika hal tersebut ditarik ke dalam konteks media maka hal tersebut perlu diwaspadai oleh para jurnalis. “Jadi, kalau wartawan TV membuat narasi yang canggih banget, tapi dia nggak tahu apa yang diceritakan. Jadi, kamu tadi buat apa sih? Saya nggak tahu. Nah, itu yang sebenarnya harus kita waspadai.” jelas Janoe. 

Masih pada studi yang sama ditemukan bahwa peserta yang pertama kali belajar sendiri lalu beralih menggunakan AI di akhir sesi justru menunjukkan lonjakan aktivitas otak, yang mengindikasikan bahwa urutan penggunaan AI sangat menentukan dampaknya. 

Maka dari itu dalam menggunakan AI pertanyaannya adalah bukan bagaimana kita mencegah penggunaannya, tetapi bagaimana memastikan AI membuat kita lebih punya wisdom atau kebijaksanaan. 

Janoe juga berpesan sebaiknya kita punya angle yang kritis terhadap logika hingga menguji semua model AI sebelum menggunakannya. “Sebelum memakai AI, kita punya angle, kita mengkritisi diksi, kita mengkritisi logika, kita mengkritisi bagaimana sumber-sumber yang prioritas tidak digunakan oleh AI, semua model AI itu kita uji dan kemudian kita membuat satu perpaduan dengan pikiran kita sendiri untuk memasukkan our own character, our own personality. Jadi otentitas Kita tidak serahkan semuanya ke mesin”, simpul nya.

Dimensi Autentisitas dan Masih Pentingkah Autentisitas di Era AI?

Kang Maman Suherman di GoodTalk Off-air Yogyakarta
info gambar

Kang Maman Suherman di GoodTalk Off-air Yogyakarta


Secara akademik, autentisitas adalah keselarasan antara siapa kita di dalam—nilai, keyakinan, cara berpikir—dengan apa yang kita tampilkan ke luar. Psikolog Carl Rogers menyebutnya sebagai kondisi di mana tidak ada jarak antara self-concept dan ideal self.

Dalam tersebut teori autentisitas terdiri dari dua dimensi yaitu dimensi internal yang terdiri dari nilai dan keyakinan personal, cara berpikir yang genuine dan emosi yang tidak disensor. Juga ada dimensi eksternal yang terdiri dari cara berkomunikasi, konten yang diproduksi dan citra yang diproyeksikan. Ketika dua dimensi tersebut bertemu maka itulah yang disebut dengan otentik.

Lebih jauh tentang autentisitas, ada kutipan menarik dari Maman Suherman dalam pemaparan materinya. Pria yang akrab disapa Kang Maman ini menyampaikan, “Kalau semua orang bisa terdengar seperti kamu, apa yang tersisa dari dirimu?”.

Inilah pentingnya dari sebuah autentisitas sehingga tidak lagi memunculkan paradoks, salah satunya dengan sebuah pertanyaan: Semakin sempurna sesuatu terlihat, semakin kita bertanya, ini nyata atau tidak?

Terakhir, Kang Maman mengajak peserta untuk sama-sama refleksi dan menemukan jawaban dari pertanyaan berikut, Apakah authenticity masih penting di era AI? Atau sudah bergeser menjadi ilusi yang dikurasi? 

Apakah audiens masih peduli konten-konten yang nyata atau hasil generated AI? Dan jika tidak, apakah itu masalah etis atau sekadar evolusi? 

Ketika kita menggunakan AI apakah itu artinya tidak autentik? Atau bergantung pada niat, transparansi, dan konteks?

Dalam konteks PR & korporat, apakah authenticity itu strategi atau nilai? Karena dua hal tersebut bisa bertabrakan dan bahkan berjalan beriringan. 

Terakhir di era AI saat ini keberanian untuk menjadi diri sendiri itu merupakan sesuatu yang langka, bukan pada konten yang tidak dibuat dengan AI. “Yang paling langka bukan konten, tapi keberanian untuk menjadi diri sendiri.” pungkas Kang Maman.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Sholeh lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Sholeh.

MS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.