hasbi wisudawan tuli unpad buktikan disabilitas bukan penghalang - News | Good News From Indonesia 2026

Hasbi, Wisudawan Tuli Unpad Buktikan Disabilitas Bukan Penghalang

Hasbi, Wisudawan Tuli Unpad Buktikan Disabilitas Bukan Penghalang
images info

Hasbi, Wisudawan Tuli Unpad Buktikan Disabilitas Bukan Penghalang


Kisah Hasbi Ridla Ilahi, wisudawan Tuli dari Universitas Padjadjaran (Unpad), menjadi bukti konkret bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih gelar sarjana. Tidak hanya berhasil menyelesaikan studi, Hasbi juga dipercaya menjadi wakil wisudawan dalam Wisuda Gelombang III Tahun Akademik 2025/2026.

Momen tersebut berlangsung di Graha Sanusi Hardjadinata, Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung pada Selasa (5/5/2026). Kehadiran Hasbi di podium wisuda bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi representasi perubahan dalam sistem pendidikan tinggi yang mulai mengakomodasi kebutuhan mahasiswa disabilitas secara lebih serius.

Perjuangan Hasbi Menghadapi Hambatan Komunikasi

Perjalanan akademik Hasbi tidak dimulai dari titik yang mudah. Sebagai seorang Tuli, ia menghadapi kesulitan besar dalam mengakses informasi selama masa perkuliahan, terutama di awal semester. Hambatan komunikasi membuatnya kesulitan memahami materi yang disampaikan dosen secara langsung.

Melalui Juru Bahasa Isyarat (JBI), Hasbi mengungkapkan bahwa dirinya sempat merasa tidak cocok berada di lingkungan kampus. Bahkan, muncul keinginan untuk mundur karena merasa tertinggal dibandingkan mahasiswa lainnya. Situasi ini menunjukkan bahwa tantangan utama bagi mahasiswa disabilitas sering kali bukan terletak pada kemampuan akademik, melainkan pada akses terhadap informasi.

Kondisi tersebut menjadi fase krusial dalam perjalanan Hasbi. Ia berada di persimpangan antara menyerah atau bertahan. Dalam banyak kasus, tidak sedikit mahasiswa disabilitas yang akhirnya memilih berhenti karena tidak mendapatkan dukungan yang memadai.

Namun, Hasbi memilih untuk bertahan. Keputusan ini kemudian menjadi titik awal perubahan dalam perjalanan akademiknya.

baca juga

Dukungan Kampus Membuka Akses yang Setara

Perubahan signifikan mulai dirasakan Hasbi ketika Universitas Padjadjaran memberikan dukungan aksesibilitas yang lebih optimal. Melalui Unit Layanan Disabilitas, kampus menyediakan fasilitas Juru Bahasa Isyarat yang membantunya memahami materi kuliah, baik di dalam kelas maupun di luar kegiatan akademik formal.

Keberadaan JBI menjadi elemen penting dalam proses belajar Hasbi. Dengan adanya penerjemahan bahasa isyarat, informasi yang sebelumnya sulit diakses menjadi lebih mudah dipahami. Hal ini secara langsung meningkatkan kualitas pembelajaran yang ia terima.

Tidak hanya dari sisi fasilitas, dukungan sosial dari dosen dan teman-teman juga berperan besar. Lingkungan akademik yang inklusif membuat Hasbi merasa diterima dan memiliki ruang untuk berkembang. Kombinasi antara aksesibilitas dan dukungan sosial inilah yang akhirnya membantunya menyelesaikan studi dengan baik.

Hasbi pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak di Unpad yang telah mendukungnya. Ia menilai bahwa upaya kampus dalam menyediakan akses bahasa isyarat merupakan bentuk nyata dari komitmen terhadap pendidikan inklusif.

Dari Keraguan Menjadi Wakil Wisudawan

Perjalanan Hasbi mencapai puncaknya ketika ia terpilih sebagai wakil wisudawan. Ia menjadi wisudawan Tuli pertama di Unpad yang menyampaikan pidato dalam prosesi wisuda. Pencapaian ini tidak hanya bersifat personal, tetapi juga memiliki makna simbolik yang kuat.

Dari yang awalnya merasa tidak cocok dan hampir menyerah, Hasbi justru berdiri di panggung sebagai representasi mahasiswa. Ini menunjukkan adanya transformasi besar, baik dari sisi individu maupun sistem pendidikan yang mendukungnya.

Dalam pidatonya, Hasbi menyampaikan pesan sederhana namun kuat. Ia menegaskan bahwa dirinya, sebagai seorang Tuli, mampu menyelesaikan pendidikan tinggi dan merasa bangga atas pencapaian tersebut. Pernyataan ini menjadi bentuk perlawanan terhadap stigma yang masih melekat pada penyandang disabilitas.

Lebih dari itu, kehadiran Hasbi sebagai wakil wisudawan memperlihatkan bahwa ruang-ruang akademik mulai terbuka secara lebih setara. Inklusivitas tidak lagi berhenti pada konsep, tetapi mulai terlihat dalam praktik nyata.

baca juga

Pesan Hasbi untuk Mahasiswa Disabilitas dan Masyarakat

Hasbi tidak hanya berbicara tentang dirinya, tetapi juga menyampaikan pesan yang lebih luas. Ia mendorong calon mahasiswa disabilitas agar tidak ragu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Menurutnya, kesempatan untuk belajar harus dimanfaatkan, terutama ketika kampus mulai menyediakan fasilitas yang mendukung.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dan masyarakat dalam memberikan dukungan. Lingkungan sosial yang suportif menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan mahasiswa disabilitas.

Tanpa dukungan tersebut, aksesibilitas yang disediakan kampus tidak akan berjalan secara maksimal. Oleh karena itu, pendidikan inklusif tidak hanya menjadi tanggung jawab institusi pendidikan, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.

Kisah Hasbi Ridla Ilahi menjadi refleksi bahwa perubahan besar dapat dimulai dari satu individu yang bertahan di tengah keterbatasan. Ia membuktikan bahwa dengan akses yang tepat dan dukungan yang kuat, penyandang disabilitas mampu mencapai prestasi yang setara.

Pada akhirnya, keberhasilan Hasbi bukan hanya tentang kelulusan, tetapi tentang membuka jalan bagi mahasiswa disabilitas lainnya untuk berani bermimpi dan melangkah lebih jauh dalam dunia pendidikan tinggi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.