Istana Cipanas adalah satu dari enam Istana Kepresidenan yang terletak di Desa Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Istana Cipanas merupakan Istana Kepresidenan yang tertua di Indonesia.
Istana ini dibangun pada 1740 di masa kolonial Belanda. Kala itu, pembangunannya diperuntukkan sebagai tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Belanda, Gustav W. Baron Van Imhoff.
Beberapa bangunan di dalam kompleks istana dibangun di tahun 1916. Kemudian, setelah Indonesia merdeka, istana ini menjadi milik pemerintah Indonesia dan terdapat beberapa bangunan baru yang dibuat, termasuk Gedung Bentol yang jadi favorit Presiden pertama RI, Soekarno, pada masanya.
Istana Kepresidenan Cipanas dan Sejarahnya yang Panjang
Setelah merdeka, Presiden Soekarno menjadikan bangunan megah ini sebagai Istana Kepresidenan. Secara visual, gedung induk istana menampilkan gaya arsitektur khas kolonial klasik dengan dominasi warna putih dengan pilar-pilarnya.
Istana Cipanas berdiri di lahan seluas 26 hektare dan di ketinggian 1.100 mdpl. Berjarak sekitar 90 km dari Jakarta via Puncak, Istana Kepresidenan Cipanas menyimpan sejarah yang begitu panjang, mulai era kolonial sampai kemerdekaan.
Bermula dari Gubernur Jenderal Belanda yang jatuh cinta dengan pesona menawa Cipanas, pembangunan rumah terirah segera dibangun saat Van Imhoff mengunjungi kawasan Cipanas. Konon, ia sampai mendatangkan tukang kayu kawakan dari Tegal dan Banyumas.
Di era Thomas Stamford Raffler yang menjabat sebagai Letnan Gubernur Inggris, banyak orang yang dimintanya untuk berkebun apel, bunga, sayur, sampai beternak di Cipanas. Hasil produksi Cipanas ini kemudian dikirim ke Buitenzorg dan Batavia untuk para pejabat.
Sebetulnya, bangunan ini tidak dianggap sebagai bangunan kenegaraan. Tidak semua Gubernr Hindia-Belanda menggunakan bangunan ini untuk beristirahat, utamanya di abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-19.
Namun, di awal abad ke-20, vila di Cipanas ini difungsikan sebagai tempat tinggal beberapa Gubernur Jenderal. Baru setelah Indonesia merdeka, rumah tetirah ini ditetapkan sebagai Istana Kepresidenan.
Presiden Soekarno sering menghabiskan waktu di sini. Salah satu kejadian bersejarah yang terjadi di sini adalah Sidang Kabinet terkait sanering pada 13 Desember 1965. Kala itu, kabinet memutuskan untuk mengubah nilai uang Rp1.000 menjadi Rp1.
Selain itu, di tahun 1971, Ratu Juliana juga sempat singgah di Istana Cipanas saat berkunjung ke Indonesia. Istana Cipanas turut menjadi saksi bisu dari pertemuan antara pemerintah Filipina dan Moro National Liberation Front (MNLF) pada 14-17 April 1993.
Punya Pemandian Air Panas
Kawasan Cipanas sejak dahulu dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki sumber air panas yang berkhasiat. Sumber air panasnya berasal dari aktivitas vulkanik Gunung Gede.
Di era kolonial Belanda, daerah tempat dibangunnya Istana Kepresidenan ini merupakan sumber air panas yang disukai oleh bangsawan Hindia-Belanda. Cikal bakal nama Istana Cipanas berasal dari bahasa Sunda, yaknni ci atau cai yang berarti air. Nah, Cipanas sendiri berarti air panas.
Uniknya, Istana Kepresidenan Cipanas ternyata memang sengaja dibangun karena ditemukan sumber mata air panas di masa pemerintahan Gustav W. Baron Van Imhoff. Pembangunannya dilakukan di tahuhn 1916.
Ada dua jenis pemandian air panas di sini, yakni versi VVIP dan VIP. Pemandian air panas VVIP dikhususkan bagi Presiden dan Wakil Presiden, sedangkan versi VIP digunakan bagi para menteri dan tamu VIP lainnya. Tak hanya itu, pemandian air panas VIP juga punya ukuran yang lebih besar dibanding pemandian VVIP karena cakupan penggunannya juga lebih besar.
Disadur dari situs resmi Kementerian Sekretariat Negara RI, air panas di Istana Kepresidenan Cipanas tidak mengandung belerang. Jika di air panas di lokasi lainnya tidak disarankan untuk berendam selama lebih dari satu jam, di Cipanas diperbolehkan untuk berendam lebih dari satu jam. Meskipun demikian, khasiatnya tak kalah dengan air panas alami di tempat lain.
Selain punya pemandian air panas khusus, Istana Kepresidenan Cipanas juga menjadi satu-satunya istana yang memiliki hutan lindung di dalam kompleks istananya.
Di bagian belakang gedung utama istana, ada banyak pohon-pohon yang tumbuh rimbun. Bahkan, terdapat pohon yang ditanam Presiden Soekarno di tahun 1959, yakni pohon cempaka telur.
Tak hanya itu, di tahun 2009, di kompleks Istana Cipanas juga dibangun Taman Herbalia. Dengan luas sekitar 2.886 m2, taman ini memiliki lebih dari 400 tipe tanaman. Taman Herbalia menjadi salah satu upaya untuk melestarikan budaya nasional sekaligus wisata taman herbal.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


