“Anak-anak kedepan tidak lagi memandang hutan itu bukan tempat ekonomi. Kedepan dia memandang hutan, ‘Wow, duit.’” kata Aca Alamsyah.
Kalau orang lain berpikir uang dari hutan bersumber pada produksi sawit, tambang, atau kayu hasil tebangan; Aca malah melihat sumber uang berasal dari hutan yang tetap utuh. Sebab, wisata berbasis alam sedang naik daun.
Saat orang-orang berinvestasi pada penginapan mewah hasil dari pembabatan hutan; Aca gunakan lahan hutan untuk wisata berbasis alam, khusunya penginapan tanpa mengeksploitasi karakteristik asli alamnya. Ya, Aca telah membeli kawasan hutan di Bukit Lawang, Langkat, Sumatera Utara untuk dilestarikan dan tawarkan wisata alam. Luasnya kini nyaris mencapai 100 hektare.
Buat Aca, hutan memang seharusnya menghasilkan uang, tanpa harus dibabat. Konsep ini disebut sebagai green economy.
Nah, bisnis yang dibangun Aca pun demikian. Ia menamai Back to Nature. Lokasinya berada di Bukit Lawang.
Bukit Lawang Itu Sudah Mendunia, tapi Orang Indonesia Kadang Baru Tahu dari TikTok
Sebenarnya, wisata di Bukit Lawang sudah dikenal oleh orang-orang luar negeri. Desa wisata di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara itu memang sudah lama jadi tujuan turis asing sejak era 1970-an.
Letaknya ada di tepi Taman Nasional Gunung Leuser, salah satu kawasan hutan hujan tropis terbesar yang tersisa di Asia Tenggara. Dari Bukit Lawang inilah wisatawan biasanya masuk untuk trekking hutan sekaligus melihat orangutan Sumatera di habitat alaminya.
Pamornya tempat ini bermula pada 1972 ketika organisasi asal Swiss mendirikan pusat rehabilitasi orangutan di kawasan tersebut. Orangutan hasil sitaan dan penangkaran dilatih kembali hidup liar sebelum dilepas ke hutan Leuser.
Lalu pada 1980, Taman Nasional Gunung Leuser ditetapkan sebagai kawasan konservasi dan kemudian diakui UNESCO sebagai bagian dari cagar biosfer dunia.
Sejak saat itu wisatawan asing, terutama dari Eropa, mulai ramai berdatangan ke Bukit Lawang. Orangutan Sumatera jadi daya tarik utama, jauh sebelum istilah healing ramai dipakai di media sosial.
“Di Afrika ada gorila dan singa. Di Leuser ada orangutan dan harimau,” kata Aca.
Lelaki yang Pulang dari Belanda karena Kangen Tinggal di Hutan
Cerita hidup Aca Alamsyah memang agak berbeda dibanding kebanyakan pengelola wisata alam.
Ia sempat tinggal belasan tahun di Belanda. Aca akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia pada 2003.
“Karena memang nikmat kali Indonesia ini,” katanya.
Ia mengaku lebih menikmati hidup dekat hutan dibanding tinggal di kota.
“Tinggal di hutan, rasanya indah sekali.”
Sepulangnya ke Bukit Lawang, Aca mulai serius mengembangkan penginapan miliknya yang bernama Back to Nature. Ia membangun penginapan itu sejak 1990-an. Usahanya berkembang cukup lama, sebab yang ia tawarkan bukan sekadar penginapan atau tempat wisata biasa.
Aca pun terus mencari cara supaya hutan tetap bisa menghasilkan uang tanpa harus dirusak. Dari situ muncul berbagai ide yang mungkin terdengar tidak lazim. Salah satunya adalah konsep “jualan oksigen”. Aca ingin membuat kawasan yoga dan relaksasi di tengah hutan Bukit Lawang.
“Orang bisa datang ke Bukit Lawang, treatment yoga untuk menarik oksigen baru,” ujarnya.
Menurutnya, udara bersih, suasana tenang, dan suara alam sekarang sudah menjadi kebutuhan mahal bagi banyak orang kota.
Bukan cuma itu. Aca juga mengajak warga mempertahankan pohon rambung yang tumbuh di kawasan perbukitan. Biasanya pohon itu ditebang untuk membuka lahan baru, tapi Aca meminta warga membiarkannya tetap hidup karena buah rambung masih dimakan satwa liar, termasuk orangutan.
Sebagai gantinya, batang-batang pohon itu ditempeli anggrek liar yang berpotensi menjadi destinasi wisata.
“Di sini ada seribu jenis anggrek,” katanya.
Dari situ, ia mulai membayangkan wisata spa outdoor di tengah hutan. Pengunjung bisa berendam air rempah sambil melihat pemandangan bukit dan mendengar suara alam.
Menurut Aca, pengalaman seperti itu justru dicari wisatawan asing.
“Jadi karena dia di bukit, kalau dibikin outdoor spa, dengan tanaman obat yang ada sambil berendam, melihat pemandangan, wow Dua jam kusuk dengan berendam, mungkin 750 ribu, si bule nggak komplain,” katanya.
Aca percaya, masa depan Bukit Lawang bukan cuma soal menjual pemandangan, melainkan menjual pengalaman hidup dekat alam yang mulai sulit ditemukan di kota-kota besar.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


