Miftahul Jannah pernah menjadi sorotan karena didiskualifikasi saat Asian Para Games 2018. Kini, Miftahul Jannah akan unjuk gigi. Bukan lagi lewat judo, bidang yang ia kuasai selama ini, melainkan membelah jalanan Sumatra melalui perjalanan panjang sejauh 2.800 kilometer. Ya, Miftahul Jannah akan melakoni perjalanan dari Bogor menuju Aceh menggunakan sepeda.
Siapa Miftahul Jannah? Nama Miftahul Jannah pernah menjadi perbincangan publik saat Asian Para Games 2018. Atlet judo disabilitas asal Indonesia itu didiskualifikasi karena memilih mempertahankan hijabnya dalam pertandingan. Momen tersebut memicu perhatian luas, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga dunia internasional.
Kawan, judo adalah olahraga bela diri asal Jepang yang menekankan teknik bantingan, kuncian, dan keseimbangan tubuh untuk melumpuhkan lawan. Kata “judo” berasal dari bahasa Jepang, yaitu ju yang berarti lembut atau fleksibel, dan do yang berarti jalan atau cara hidup. Judo menjadi cabang olahraga resmi di Olimpiade sejak tahun 1964.
Kini, delapan tahun setelah peristiwa itu, Miftah kembali muncul. Ia bersiap menjalani ekspedisi bersepeda lintas Sumatra dari Bogor hingga Aceh sejauh kurang lebih 2.800 kilometer.
Perjalanan itu dijadwalkan berlangsung selama Juni hingga Juli 2026. Dalam sehari, Miftah menargetkan mampu menempuh jarak sekitar 75 sampai 100 kilometer.
“Kegiatan ini adalah ekspedisi bersepeda jarak jauh lintas Sumatera yang dilakukan oleh Miftahul Jannah, seorang atlet disabilitas/netra. Program ini bukan sekadar olahraga endurance, tapi juga membawa misi sosial tentang aksesibilitas, inklusivitas, dan pemberdayaan penyandang disabilitas,” kata Miftah, dikutip dari detikJabar, Sabtu (16/5/2026).
Endurance sendiri merujuk pada kemampuan fisik dan mental seseorang untuk bertahan dalam aktivitas berat dalam waktu lama. Dalam dunia olahraga, endurance menjadi salah satu tantangan paling berat karena membutuhkan stamina, konsistensi, dan ketahanan tubuh yang tinggi.
Bagi atlet non-disabilitas saja, perjalanan lintas pulau dengan sepeda bukan hal ringan. Apalagi, bagi seorang penyandang disabilitas netra yang harus mengandalkan koordinasi, kepercayaan kepada tim pendamping, dan kekuatan mental selama perjalanan panjang.
Rute Perjalanan Panjang Miftahul Jannah dengan Sepeda
Rute yang akan ditempuh Miftah jelas tidak pendek. Perjalanan dimulai dari Bogor menuju Banten. Setelah itu, Miftah dan tim akan menyeberang ke Lampung sebelum melintasi Sumatra Selatan, Jambi, Sumatra Barat, Sumatra Utara, hingga akhirnya tiba di Aceh.
Di setiap daerah yang disinggahi, Miftah ingin melakukan kampanye sosial, terutama berkaitan dengan isu disabilitas.
“Jadi bukan hanya gowes, tetapi juga ada unsur edukasi sosial, branding, dan engagement dengan masyarakat,” ujarnya.
Jadi, ekspedisi ini memang dirancang agar publik ikut terhubung dengan pesan yang ia bawa, bukan sekadar menjadi penonton.
Dulu, Miftah dikenal publik karena sebuah diskualifikasi. Kini, ia ingin dikenal lewat perjuangan dan keberanian membuka ruang baru bagi penyandang disabilitas.
“Latar belakang utamanya berasal dari pengalaman pribadi sebagai atlet disabilitas. Saya pernah mengalami momen berat ketika didiskualifikasi di Asian Para Games 2018 karena mempertahankan prinsip pribadi,” ucapnya.
Pengalaman tersebut rupanya tidak membuat Miftah berhenti. Ia justru mencoba menantang dirinya di cabang olahraga lain.
“Dari pengalaman itu, muncul keinginan untuk bangkit, membuktikan kapasitas diri di cabang olahraga lain, dan menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya dan berprestasi,” katanya.
Miftah juga ingin ekspedisi ini menjadi penyemangat bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang sering kali merasa ruang mereka terbatas.
“Motivasi lainnya adalah memberikan inspirasi kepada anak-anak berkebutuhan khusus, membuktikan bahwa atlet disabilitas juga bisa melakukan ekspedisi ekstrem, dan mengangkat isu kesetaraan serta aksesibilitas ruang publik,” ujarnya.
Menurut Miftah, tujuan terbesar dari perjalanan ini bukanlah bersepeda sampai ke Aceh. Bukan itu tujuan utamanya, melainkan tentang kegigihan.
“Tujuan kegiatan ini yaitu membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berprestasi, mengkampanyekan pentingnya aksesibilitas fasilitas umum bagi penyandang disabilitas, serta menginspirasi generasi muda untuk berani bermimpi dan melampaui batas,” tuturnya.
“Secara singkat, kegiatan ini bukan hanya soal mencapai garis finish di Aceh, tetapi juga tentang membawa pesan bahwa inklusivitas, keberanian, dan mimpi itu milik semua orang,” pungkasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


