Indonesia kaya akan bahan pangan. Bahkan, berbagai daerah memiliki keunikannya sendiri. Namun, kini masyarakatnya banyak yang mengalami kesulitan dalam mengakses pangan, terlebih dalam pemenuhan pangan lokal. Contohnya adalah beras yang menjadi komoditas utama masyarakat, walaupun harganya naik dan turun karena kelangkaan.
Menjadi ironi, di mana lebih mudah menemukan gandum dan beras impor daripada sorgum dan sagu di setiap pasar. Tentu hal ini menjadi pertanyaan: mengapa pangan lokal sangat sulit diakses, bahkan di daerah asalnya sendiri?
Ketergantungan Konsumsi Beras
Sistem pangan Indonesia masih berfokus pada satu komoditas utama, yakni beras, melihat masih bergantungnya konsumsi yang tinggi di tengah masyarakat. Bahkan, ada ungkapan terkenal seperti “Belum makan, kalau belum makan nasi” yang terpatri di dalam kepala.
Ketergantungan ini dapat kita lihat dari sejarah panjang sebelumnya, di mana era pemerintahan Orde Baru membawa kebijakan swasembada beras. Karena itu, masyarakat menjadi mudah membeli nasi dan akhirnya berketerusan hingga kini, yang menjadikan makanan pokok tunggal bagi sebagian masyarakat Indonesia.
Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Indonesia menjadi negara terbesar keempat di dunia dalam mengonsumsi beras hingga 35,3 juta metrik ton pada tahun 2023.
Susenas per September 2022 juga mencatatkan bahwa 98,35% rumah tangga Indonesia mengonsumsi beras dengan rata-rata konsumsi per kapita mencapai 6,6 kg per bulan pada tahun 2022.
Selain itu, kebijakan pangan pun kebanyakan berfokus pada stabilitas beras. Akibatnya, pemenuhan pangan lokal tersisih dan petani juga tidak terdorong untuk menanam komoditas alternatif lainnya. Sebab, beras menjadi sektor kebutuhan utama dan masih menjadi sumber pendapatan bagi para petani.
Padahal, pangan lokal seperti sagu, sorgum, dan singkong masih perlu dibudidayakan. Bahkan, masyarakat Adat Cireundeu di Jawa Barat menjadi bukti keberhasilan dalam ketahanan pangan tanpa bergantung pada beras yang diganti dengan singkong.
Mengapa Masih Sulit Mengakses Pangan Lokal?
Di samping petani dan kebijakan yang masih berfokus pada komoditas beras. Tampaknya, masih banyak pangan lokal yang hanya tersedia di wilayahnya masing-masing dan belum tersebar secara luas. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti metode pertanian tradisional, biaya logistik yang mahal, manajemen barang yang belum mumpuni, dan panjangnya rantai pasok.
Akibatnya, pangan yang diakses dengan terjangkau terhambat karena belum terpenuhi, misalnya, karena minimnya pemenuhan logistik dari satu daerah ke daerah lain.
Selain itu, terdapat faktor dari konsumen seperti masyarakat urban yang banyak mengonsumsi makanan dan produk instan atau olahan karena kepraktisannya.
Stigma pada pangan lokal pun sering kali dianggap sebagai “makanan kampung” atau “makanan orang susah”. Sebab kurang populernya pangan lokal menjadikan hadirnya pandangan tersebut dan beras menjadi simbol modernisasi. Contohnya, di beberapa daerah, singkong pernah dikaitkan dengan masa-masa krisis seperti di zaman perang. Padahal, singkong dapat dijadikan berbagai panganan, bahkan menjadi rasi (beras singkong) yang diolah oleh masyarakat Adat Cirendeu.
Stigma-stigma seperti itulah yang membuat sulitnya pangan lokal naik kelas dan menembus masyarakat urban. Namun, fenomena tersebut bak sirna, di mana tren kukus-kukusan yang berisi singkong, kacang-kacangan, ubi, dan sebagainya mulai memiliki tempat di perut anak muda. Hal tersebut pun dapat menggeser stigma kolot pada pangan lokal.
Pada akhirnya, menghidupkan kembali pangan lokal tidak hanya mengubah menu makan, melainkan mengembalikan hubungan masyarakat dengan sejarah, tradisi, ekologi, dan kedaulatan pangan.
Perlu upaya-upaya berkelanjutan dalam membangun kembali pangan lokal, salah satunya dengan menerapkan gaya hidup Meatless Monday yang mengeksplor pangan lokal nabati yang diolah menjadi modern agar digandrungi oleh anak muda. Di mana stigmanya lama akan ikut tersisihkan.
Dengan begitu, pangan tidak lagi fokus pada beras dan mulai terdiversifikasi. Permintaan akan naik dan daerah-daerah asal pangan lokal akan memproduksi banyak pangan. Ini bisa mendorong terjadinya perbaikan distribusi untuk mempermudah akses pangan sampai pada masyarakat, khususnya di perkotaan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


