kampung adat bena flores peradaban megalitikum di kaki gunung inerie - News | Good News From Indonesia 2026

Kampung Adat Bena Flores, Peradaban Megalitikum di Kaki Gunung Inerie

Kampung Adat Bena Flores, Peradaban Megalitikum di Kaki Gunung Inerie
images info

Dok. portal.ngadakab.go.id


Di puncak sebuah bukit di Kabupaten Ngada, Flores, berdiri sebuah kampung yang terlihat seolah waktu tidak pernah berjalan di sana.

Kampung Adat Bena, yang terletak di Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebuu, berjarak sekitar 14 hingga 19 km ke arah selatan dari Kota Bajawa. Di belakangnya, Gunung Inerie menjulang setinggi 2.245 meter, sehingga menjadi latar yang membuat pemandangan kampung ini terasa berbeda dari mana pun di Indonesia.

Kampung ini diperkirakan sudah ada sejak 1.200 tahun lalu, dan hal yang lebih menakjubkan adalah pola kehidupan serta budayanya yang tidak banyak berubah sejak saat itu.

Sebanyak sembilan suku hidup berdampingan dalam 45 rumah adat yang tersusun rapi membentuk pola memanjang menyerupai perahu, dari utara ke selatan, di atas sebuah bukit yang dikelilingi tebing di sisi selatannya.

Pada 1995, kampung ini masuk dalam Daftar Sementara Warisan Dunia UNESCO untuk kategori kebudayaan, sehingga namanya sudah dikenal luas terutama di kalangan wisatawan mancanegara.

Kunjungan ke Kampung Bena bukan perjalanan yang bisa dilakukan sambil lalu. Namun, bagi Kawan GNFI yang sedang melakukan perjalanan darat di Flores, singgah di sini adalah satu pengalaman yang tidak mudah dilupakan.

 

Sekilas Mengenai Kampung Adat Bena

Kampung Bena adalah salah satu perkampungan megalitikum paling terjaga di Indonesia. Nama "Bena" dipercaya berasal dari kata "Ba'a Na" yang berarti tempat istirahat. Menurut cerita turun-temurun, leluhur masyarakat Bena berasal dari wilayah Ende, bagian timur Flores, yang kemudian bermigrasi dan menetap di kawasan Bajawa.

Masyarakat Bena menganut sistem kekerabatan matrilineal, dengan garis keturunan ditarik dari pihak ibu. Sembilan suku yang mendiami kampung ini adalah Bena, Ago, Dizi, Dizi Azi, Deru Lalulewa, Deru Solamae, Khopa, Wahto, dan Ngada. Setiap suku menempati satu tingkatan dari susunan rumah yang berundak, sehingga suku Bena menempati tingkat paling tengah karena dianggap sebagai pendiri kampung yang paling tua.

Di tengah kampung berdiri simbol leluhur yang menjadi jantung spiritual Bena, yaitu ngadhu (simbol nenek moyang laki-laki berbentuk seperti payung bertiang tunggal beratap ijuk) dan bhaga (simbol nenek moyang perempuan berbentuk seperti miniatur rumah). Di sekitarnya terdapat batu megalitikum dengan berbagai fungsi ritual, termasuk nabe (batu meja) dan sebuah bongkahan batu besar di ujung utara kampung yang berfungsi sebagai kursi persidangan leluhur.

Meskipun kampung ini sudah menerima aliran listrik untuk penerangan, arsitektur bangunannya masih sangat sederhana dan mempertahankan bentuk aslinya, seperti dinding kayu, atap rumbai, dan lantai yang mengikuti kontur asli bukit tanpa diratakan.

 

Daya Tarik Utama Kampung Adat Bena

Kampung Bena adalah tempat di mana pengunjung bisa melihat langsung kehidupan yang sesungguhnya, bukan rekonstruksi atau pertunjukan untuk wisatawan. Warga masih tinggal di rumah adat tersebut, masih berladang setiap hari, dan kaum perempuannya masih menenun kain ikat dengan teknik tradisional di depan rumah masing-masing.

Arsitektur kampung yang membentang 375 meter dari utara ke selatan dengan lebar 80 meter ini memiliki satu pintu masuk di sisi utara. Semakin berjalan ke selatan, posisi kampung semakin tinggi, dan di ujung paling selatan terdapat gazebo di tepi tebing yang menawarkan pemandangan ke arah perbukitan dan Laut Sawu di kejauhan.

Dengan latar Gunung Inerie di sebelah barat, titik ini adalah salah satu tempat terbaik untuk berdiam sejenak dan menikmati panorama yang jarang ditemukan di tempat lain.

Kain tenun ikat khas Ngada yang dibuat oleh perempuan Bena adalah salah satu oleh-oleh paling bernilai yang bisa dibawa pulang. Harganya berkisar Rp300.000 untuk kain tenun utuh, atau Rp75.000 hingga Rp100.000 untuk syal tenun yang lebih kecil. Para penenun sangat ramah dan tidak memaksa pengunjung untuk membeli.

Bagi yang berminat mendaki, Gunung Inerie bisa dicapai dari kawasan ini dengan jalur pendakian yang cukup menantang namun memberikan pemandangan spektakuler dari puncaknya, terutama saat matahari terbit.

 

Akses Menuju Kampung Adat Bena

Titik keberangkatan paling dekat adalah Kota Bajawa, ibu kota Kabupaten Ngada. Dari Bajawa, perjalanan menuju Kampung Bena sekitar 14 hingga 19 km ke arah selatan dengan waktu tempuh sekitar 30 menit menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat. Medannya berupa tanjakan, turunan, dan tikungan tajam yang cukup menantang namun pemandangannya sepanjang jalan sangat indah.

Dari Labuan Bajo sebagai pintu masuk utama Flores, perjalanan ke Bajawa membutuhkan waktu sekitar 7 hingga 8 jam melalui jalur darat sepanjang 263 km. Dari Ende, rute melewati Kelurahan Mangulewa dengan pertigaan menuju Warikeo. Bajawa juga bisa dicapai dengan penerbangan menuju Bandara Turelelo Soa.

Dari area parkir, pengunjung harus berjalan kaki menuju pintu gerbang di sisi utara kampung. Tidak ada angkutan umum langsung ke Kampung Bena dari Bajawa, sehingga kendaraan sewa adalah pilihan paling praktis.

 

Jam Operasional dan Harga Tiket

Kampung Adat Bena buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WITA. Datang di pagi hari saat kabut masih menyelimuti bukit memberikan suasana yang paling dramatis, sekaligus menghindari panas terik siang hari.

Tiket masuk dikenakan Rp20.000 hingga Rp25.000 per orang untuk wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara. Terdapat tambahan biaya sirih pinang Rp20.000 per rombongan sebagai bagian dari sambutan adat.

Setelah membayar, pengunjung akan dipinjami selendang atau ikat kepala dari kain tenun yang wajib dikenakan selama berada di kampung. Biaya parkir Rp5.000 per kendaraan. Fasilitas yang tersedia meliputi toilet umum, lahan parkir, pusat informasi wisatawan, dan kios kecil penjual makanan serta minuman.

 

Ayo Berkunjung ke Kampung Adat Bena!

Kampung Adat Bena adalah destinasi yang cocok untuk Kawan GNFI yang ingin memahami budaya lokal Flores dari sisi budaya yang paling autentik.

Kenakan pakaian hangat karena suhu di kawasan perbukitan ini bisa cukup dingin di pagi hari, gunakan alas kaki yang nyaman untuk area berbatu, dan luangkan waktu lebih dari sekadar berfoto.

Berbicara dengan warga, duduk melihat perempuan menenun, dan berdiam di tepi tebing bagian selatan kampung sambil memandang Laut Sawu di kejauhan, semua itu adalah bagian dari pengalaman Bena yang sesungguhnya!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.