candi cangkuang candi hindu yang masih utuh di jawa barat - News | Good News From Indonesia 2026

Candi Cangkuang, Candi Hindu yang Masih Utuh di Jawa Barat

Candi Cangkuang, Candi Hindu yang Masih Utuh di Jawa Barat
images info

Dok. Gunawan Kartapranata (Wikimedia)


Di Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, terdapat sebuah situs yang tidak banyak dimiliki daerah lain di Jawa Barat. Candi Cangkuang adalah satu-satunya candi Hindu yang masih berdiri utuh di Tatar Sunda, sekaligus candi pertama yang pernah ditemukan di wilayah ini.

Letaknya di Kampung Pulo, Desa Cangkuang, di sebuah pulau kecil di tengah danau yang oleh masyarakat setempat disebut Situ Cangkuang.

Untuk mencapainya, pengunjung harus menyeberangi danau menggunakan rakit bambu yang digerakkan secara tradisional, sehingga perjalanan sekitar 10 menit menyajikan panorama bentangan alam indah dengan latar empat gunung yang mengelilingi kawasan ini, yakni Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi, dan Gunung Guntur.

Di dekat Candi, terdapat makam Islam tepat di sebelah selatannya. Makam itu milik Arif Muhammad, seorang utusan Mataram yang konon ditugaskan menyerang VOC di Batavia pada abad ke-17.

Setelah serangannya gagal, ia singgah di Cangkuang dan mulai menyebarkan Islam di antara masyarakat yang saat itu mayoritas beragama Hindu. Candi Hindu dan makam penyebar Islam yang berdiri berdampingan di satu pulau kecil menjadi gambaran yang cukup jarang ditemukan di tempat lain.

Nama Cangkuang sendiri diambil dari tanaman sejenis pandan, Pandanus furcatus, yang banyak tumbuh di sekitar makam Arif Muhammad. Daun cangkuang secara tradisional dimanfaatkan untuk membuat tikar, tudung, dan pembungkus, sehingga nama tanaman itulah yang kemudian melekat pada desa dan candi yang ada di dalamnya.

 

Sekilas Mengenai Candi Cangkuang

Candi Cangkuang pertama kali ditemukan pada 1966 oleh arkeolog Uka Tjandrasasmita berdasarkan catatan kuno terbitan 1893, yang menyebut adanya arca rusak dan makam kuno di bukit Kampung Pulo.

Penelitian dan penggalian dilakukan antara 1967 hingga 1968, sedangkan pemugaran berlangsung pada 1974 hingga 1976. Candi ini diresmikan pada 1976 oleh Pemerintah, sehingga berdiri sebagai candi pertama yang dipugar di Jawa Barat.

Candi ini diperkirakan berasal dari abad ke-8, satu zaman dengan candi di situs Batujaya dan Cibuaya. Kendala utama rekonstruksinya adalah batu asli yang ditemukan hanya sekitar 40 persen dari total bangunan, sehingga sisanya dibuat dari campuran semen, batu koral, pasir, dan besi. Hal itu membuat bentuk asli candi ini belum sepenuhnya diketahui hingga sekarang.

Di dalam candi terdapat arca Dewa Siwa yang ditemukan dalam kondisi rusak. Wajah dan tangannya sudah hilang, tetapi posisinya yang bersila di atas padmasana dan adanya kepala nandi di depan kaki kirinya cukup untuk memastikan bahwa arca ini memang representasi Siwa.

Kompleks Candi Cangkuang berdiri di atas lahan seluas 125 hektar termasuk danaunya. Selain candi dan makam Arif Muhammad, di pulau ini juga terdapat pemukiman adat Kampung Pulo yang hanya dihuni enam kepala keluarga. Jumlah itu tidak pernah berubah dari masa ke masa, sehingga komunitas kecil ini menjadi bagian dari kawasan cagar budaya yang sama.

 

Daya Tarik Utama Candi Cangkuang

Candi Cangkuang menarik bukan hanya karena candi itu sendiri, melainkan karena keseluruhan pengalaman yang dimulai sebelum kaki menapak di pulaunya.

Menyeberangi danau dengan rakit bambu adalah bagian pertama yang sudah membuat kunjungan ini berbeda. Rakit digerakkan secara tradisional, sehingga sepanjang perjalanan 10 menit itu Kawan bisa menikmati suasana danau yang tenang dengan latar empat gunung yang mengelilinginya. Pemandangan alam ini sudah memberikan kesan tersendiri sebelum sampai ke candinya.

Setelah menyeberang, jalur menuju candi melewati kompleks Kampung Pulo. Di sini Kawan bisa melihat langsung bagaimana enam keluarga hidup dalam tatanan adat yang tidak berubah sejak lama. Rumah adat yang ada di kampung ini merupakan bagian dari kawasan cagar budaya, bukan sekadar latar belakang foto.

Candi itu sendiri berukuran 4,5 x 4,5 meter dengan tinggi 8,5 meter. Ukurannya tidak besar, tetapi cukup untuk merasakan bagaimana peradaban Hindu abad ke-8 pernah berdiri di tanah Sunda.

Di sisi selatannya, terdapat makam Arif Muhammad, sehingga keberadaan keduanya di lokasi yang sama menjadi topik yang menarik untuk diamati langsung oleh pengunjung yang ingin belajar sejarah.

Di kompleks ini juga terdapat museum kecil yang menjelaskan alasan candi dan makam dibangun berdampingan, sekaligus menyimpan koleksi kitab Islam seperti Al-Quran, Fiqih, dan Tauhid sebagai peninggalan Arif Muhammad.

 

Akses Menuju Candi Cangkuang

Dari pusat Kota Garut, jarak menuju Candi Cangkuang sekitar 19 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 45 menit menggunakan kendaraan bermotor. Rute yang umum ditempuh adalah melalui Jalan Samarang menuju Jalan Cangkuang ke arah Kecamatan Leles. Jalur ini cukup jelas dan terdapat petunjuk arah menuju lokasi.

Bagi Kawan yang datang dari Bandung menggunakan kendaraan pribadi, perjalanan menuju Garut memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam tergantung kondisi lalu lintas, lalu dilanjutkan 45 menit menuju Leles.

Dari Stasiun Garut, perjalanan bisa dilanjutkan dengan ojek atau kendaraan sewaan sekitar 40 menit. Bagi yang datang menggunakan transportasi umum dari arah Bandung, bisa turun di terminal Garut dan melanjutkan dengan angkutan lokal menuju Leles.

 

Jam Operasional dan Harga Tiket

Candi Cangkuang buka setiap hari. Tiket masuk ke kawasan ini tergolong sangat terjangkau, hanya Rp5000 dan biaya penyeberangan menggunakan rakit juga tidak besar. Di lokasi tersedia fasilitas area parkir, toilet, dan museum. Untuk informasi harga tiket terkini, sebaiknya dikonfirmasi langsung ke pengelola karena tarif bisa berubah sewaktu-waktu.

 

Ayo Berkunjung ke Candi Cangkuang!

Candi Cangkuang cocok untuk Kawan GNFI yang ingin wisata sejarah yang tidak biasa. Datang pagi hari agar suasana lebih tenang dan bisa menikmati pemandangan danau dengan lebih leluasa.

Jika datang bersama keluarga, manfaatkan keberadaan museum dan cerita di balik candi serta makam yang berdampingan sebagai sarana edukasi yang menarik selama perjalanan.

Jadi, kapan Kawan mau berkunjung ke Candi Cangkuang?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.