gereja tionghoa pertama di surabaya gereja tiong hoa kie tok kauw hwee - News | Good News From Indonesia 2026

Gereja Tionghoa Pertama di Surabaya, Gereja Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee

Gereja Tionghoa Pertama di Surabaya, Gereja Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee
images info

Gereja Kristus Tuhan (Disbudporapar Kota Surabaya)


Kawan GNFI di Surabaya pasti tahu dengan salah satu Gereja bersejarah ini yang terletak di Jalan Samudra. Gereja ini merupakan gereja pertama orang Tionghoa di Surabaya dan juga sudah menjadi sebuah warisan budaya Indonesia. Gedung Gereja ini masih terlihat bagus dan terawat. Masih terlihat tradisional tapi juga sudah terlihat modern.

Mari Kawan GNFI, kita lihat bagaimana perkembangan gereja ini di awal sampai saat ini.

baca juga

Awal Mula

Di sekitar tahun 1900anĀ adalah awal kedatangan orang Kristen pertama ke Surabaya. Mereka berasal dari Qian Zhou (Tjan Tjiu), Fu Jian, China dan tujuan awal mereka adalah untuk berdagang. Mereka adalah orang-orang Kristen yang berlatar belakang Presbyterian. Saat itu, belum ada gereja Tionghoa di Surabaya tapi semangat mereka untuk berkumpul dan beribadah kepada Tuhan di hari Minggu terus ada.

Di tahun 1909, perkembangan penginjilan mulai terlihat dan semakin banyak orang datang untuk beribadah. Mereka saat itu hanya beribadah di rumah atau biasa bermula dari persekutuan rumah tangga. Persekutuan ini dihadiri oleh beberapa suku seperti suku Tjwan Tjiu, Hok Kian, dan juga sebagian suku Kanton. Pertumbuhan semakin berkembang karena datangnya misi Methodist yang menjangkau orang Tionghoa di Surabaya.

Pada tahun 1911, persekutuan tersebut mulai mendapat tempat yang tetap di jalan Kampung Seng kemudian pindah ke jalan Kembang Jepun 28 di Surabaya.

Tahun 1916, dengan dukungan seluruh jemaat, mereka akhirnya membeli sebuah tanah dari bekas bangunan di pojok jalan Bakmi (dulunya jalan Samudra ini dikenal dengan jalan Bakmi dan gereja ini juga dulunya dikenal dengan julukan gereja di jalan Bakmi) dan jalan Tjaipo di Surabaya untuk digunakan sebagai gereja. Dari sinilah lahir gereja dengan nama gereja Tiong Hwa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) Surabaya.

Di tahun 1921, gereja sudah menyelenggarakan dua kali ibadah dengan bahasa pengantar yang berbeda. Tentunya dengan bahasa daerah para jemaat di sana. Ada yang menggunakan bahasa dialek Hok Kian/Min Nan untuk jemaat suku Tjwan Tjiu, Hok Kian (Amoy) dan ada ibadah dengan bahasa Kanton untuk suku Kanton.

Dalam perkembangannya, karena semakin banyak jemaat yang beribadah di gereja ini, diadakanlah ibadah juga untuk jemaat suku Fuchow-Kuoyu yang menggunakan bahasa pengantar dialek Fuchow-Kuoyu. Kemudian setelah itu dibentuklah ibadah khusus berbahasa Indonesia/Melayu yang disebut dengan jemaat 'Kiauw Seng' tapi bukan di jalan Bakmi. Mereka beribadah di jalan Johar 4 dan merupakan cikal bakal berdirinya Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jawa Timur.

Ulang tahun Gereja Tionghoa di Surabaya pada tanggal 8 Februari 1928 ditetapkan bertepatan dengan hari didaftarkannya pendirian di hadapan notaris Jan Willem Bek karena adanya perubahan ketetapan pemerintah Hindia Belanda mengenai aturan daerah pelayanan.

Semakin berkembangnya gereja dan juga jemaat di Surabaya dan Jawa Timur, gereja THKTKH ini juga bergabung dengan kelompok gereja-gereja di Jawa Timur. Setelah John Sung datang, terbentuklah ibadah baru untuk jemaat Hin Hwa sehingga semakin banyaknya ibadah di gereja ini yaitu dengan dialek Kanton, Amoy, Fuchow-Kuoyu, dan Hin Hwa.

Pada tahun 1952, gedung gereja THKTKH ini direnovasi dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 3 Juni 1953. Karena sejarah panjang gereja ini, maka aset gereja ini merupakan milik dari empat persekutuan jemaat dan gereja masih berdiri kokoh dan masih digunakan hingga saat ini. Pemerintah Kodya Surabaya juga sudah menetapkan gereja ini menjadi gedung cagar budaya karena nilai historisnya.

Ketika situasi politik Indonesia mengalami perubahan besar yang berimbas larangan menggunakan huruf Tionghoa, maka melalui proses panjang, gereja ini berganti nama menjadi Gereja Kristus Tuhan atau GKT.

baca juga

Perpecahan dan Penggabungan Kembali

Karena adanya masalah internal dan perbedaan persepsi yang tidak kunjung mendapat jawaban, jemaat Amoy memutuskan untuk memisahkan diri dan akhrinya membentuk Gereja Kristen Amoy yang kemudian menjadi Gereja Kristen Abdiel.

Kemudian, jemaat Fuchow-Kuoyu juga memisahkan diri dari GKT bersama dengan jemaat Gereja Kristen Zion Bali. Jemaat Fuchow-Kuoyu kemudian membentuk Yayasan Gereja Kristen Surabaya.

Pada tahun 1976, berdasarkan kesepakatan 3 gereja tersebut akhirnya terbentuklah sinode Gereja Kristen Abdiel (GKA). Karena adanya pergantian nama tersebut akhirnya Gereja Kristen Abdiel Surabaya berganti nama menjadi GKA Trinitas Surabaya, Yayasan Gereja Kristen Surabaya berganti menjadi GKA Gloria Surabaya, dan Gereja Kristen Zion Bali menjadi GKA Zion Denpasar.

Jemaat Hin Hwa yang tadinya bersama dengan jemaat Kanton yang berada dalam sinode GKT juga ikut memisahkan diri dan bergabung dengan sinode GKA. Jemaat Hin Hwa saat ini menggunakan nama GKA Elyon.

Saat ini, ada beberapa gereja yang juga bergabung dengan Sinode GKA. Sinode GKA tidak hanya untuk satu etnis tertentu tapi juga untuk bermacam etnis dan gereja ini juga sudah tersebar di berbagai wilayah di Jawa Tengah, Jawa Timur dan juga Bali.

Kawan GNFI, gedung gereja ini masih ada sampai sekarang dan masih digunakan untuk beribadah. Gedung ini masih sangat terawat dan ada cerita-cerita historisnya juga di sana. Sudah hampir satu abad gedung ini ada dan karena nilai historisnya sudah sepatutnya kita semua menjaga gedung bersejarah ini.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.