Sebelum bahasa Indonesia lahir saat Kongres Pemuda kedua tahun 1928, bahasa Melayu telah digunakan sebagai lingua franca di kawasan Nusantara dan Asia Tenggara. Setelah ditetapkan sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia terus berkembang hingga sekarang.
Namun, tahukah Kawan GNFI negara apa yang pertama kali memperkenalkan bahasa Indonesia di luar Nusantara? Ternyata negara pertama yang mengajarkan bahasa Indonesia di luar Nusantara adalah Prancis.
Kisah Awal Prancis Tertarik dengan Nusantara
Pengajaran bahasa Indonesia/Melayu di negeri Napoleon Bonaparte ini dimulai tahun 1840 melalui lembaga Institut National des Langues et Civilisations Orientales (INALCO).
Bahasa Indonesia/Melayu termasuk satu dari empat bahasa awal yang masuk dalam sekolah tersebut selain bahasa Arab, bahasa Turki, dan bahasa Persia.
Misi awal Prancis mengenalkan bahasa-bahasa tersebut adalah melatih orang-orang yang akan bekerja dalam bidang diplomasi, hubungan luar negeri serta perdagangan.
Pada masa itu, istilah “bahasa Indonesia” memang belum digunakan. Namun demikian, bahasa Melayu memiliki hubungan langsung dengan bahasa Indonesia modern. Karena itu, sejarah pengajaran bahasa Melayu di luar negeri dapat dilihat sebagai salah satu akar awal penyebaran bahasa Indonesia ke dunia internasional.
Menurut Pelras (1978), ketertarikan Prancis mempelajari bahasa Indonesia/Melayu ditarik pada awal abad ke-16. Orang Prancis sudah mulai mengenal kawasan Nusantara melalui pelayaran, peta, perdagangan, dan catatan perjalanan.
Tidak hanya itu, kosakata Melayu-Prancis sudah pernah diterbitkan sejak awal abad ke-17. Setelah itu, pengajaran bahasa ini menyebar ke berbagai negara lain, baik di Eropa maupun di luar Eropa, seperti Jepang, Tiongkok, Australia, Korea Selatan, Inggris, dan Selandia Baru.
Pasca Lahirnya Kelas Bahasa Indonesia Pertama
Dalam perkembangan selanjutnya, beberapa universitas di Indonesia bekerja sama dengan universitas dan lembaga pendidikan di luar negeri melakukan pertukaran mahasiswa dan program pembelajaran bahasa Indonesia.
Namun, belum ada nama yang sama untuk program tersebut. Bersumber dari Kemendikdasmen, pemberian nama Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing atau BIPA adalah hasil kesepakatan secara eksplisit yang tercantum dalam dokumen Kumpulan Putusan Kongres Bahasa VI di Jakarta pada tahun 1993.
Departemen Pendidikan Nasional di tahun 1999 membentuk tim untuk pengajaran bahasa Indonesia untuk orang asing yang sekarang berada di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Menurut Irfan (2025), program BIPA hingga kini telah diajarkan di 428 institusi yang tersebar di 52 negara.
BIPA termasuk instrumen yang meningkatkan jumlah pengguna bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua dengan perkiraan 150 ribu penutur.
Pengakuan internasional terhadap bahasa Indonesia juga semakin kuat setelah UNESCO menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ke-10. Pengakuan UNESCO di Sidang Umum ke-42 UNESCO pada 20 November 2023 itu terjadi di kota Paris, Prancis.
Dengan pengakuan ini, bahasa Indonesia tidak hanya dilihat sebagai bahasa nasional, tetapi juga sebagai bahasa yang layak digunakan dalam forum dunia.
Hal ini memberi makna simbolis yang kuat. Di satu sisi, Prancis adalah salah satu tempat awal bahasa Indonesia/Melayu diajarkan di luar negeri.
Di sisi lain, Paris juga menjadi tempat bahasa Indonesia mendapat pengakuan penting di tingkat internasional.
Dari kelas bahasa Melayu di Prancis pada abad ke-19 hingga pengakuan bahasa Indonesia di UNESCO pada abad ke-21 seolah-olah ada garis panjang yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.
Kita telah melihat Prancis sebagai pembuka pintu penyebaran bahasa Indonesia di luar negeri. Bahasa Indonesia sedang bergerak menjadi bahasa yang dipelajari, digunakan, dan dihargai oleh masyarakat dunia.
Jejak Prancis menunjukkan bahwa perjalanan itu sudah dimulai sejak lama. Sementara BIPA menjadi jalan penting agar bahasa Indonesia semakin kuat di kancah global saat ini dan masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


