mita yulian sasmita pengajar bahasa inggris yang ketagihan jadi relawan piala dunia hingga empat edisi - News | Good News From Indonesia 2026

Mita Yulian Sasmita, Pengajar Bahasa Inggris yang Ketagihan Jadi Relawan Piala Dunia hingga Empat Edisi

Mita Yulian Sasmita, Pengajar Bahasa Inggris yang Ketagihan Jadi Relawan Piala Dunia hingga Empat Edisi
images info

Mita Yulian Sasmita (tengah) jadi relawan Piala Dunia Amerika Serikat 2026


Delapan tahun lalu, Mita Yulian Sasmita pulang dengan kekecewaan setelah dua kali ditolak visa Amerika Serikat. Saat itu ia ingin menjadi relawan Piala Dunia Rugby Sevens 2018 di San Francisco. Mimpi itu kandas di loket imigrasi.

Pada 2026, perempuan asal Indonesia itu kembali mengajukan visa ke negara yang sama. Bedanya, kali ini ia datang sebagai relawan Piala Dunia FIFA, setelah dinyatakan lolos dari seleksi yang diikuti lebih dari satu juta pendaftar.

Mita masih ingat bagaimana rasanya membolak-balik paspor dengan tangan dingin di Kedutaan Besar Amerika Serikat. Petugas hanya menyerahkan paspor tanpa mengatakan apa pun.

Satu per satu halaman ia buka. Sampai akhirnya, di salah satu halaman tengah, stiker visa Amerika Serikat itu muncul. Mita lega dan langsung menghubungi ayahnya.

baca juga

Siapa Mita Yulian Sasmita? Relawan Piala Dunia Asal Indonesia

Mita adalah seorang perempuan asal Indonesia yang berprofesi sebagai pengajar bahasa Inggris. Di luar profesinya sebagai pendidik, Mita memiliki kecintaan lain yang tidak kalah besar: sepak bola.

Kecintaan itu membawanya menjadi relawan pada beberapa turnamen FIFA. Ia tercatat pernah bertugas dalam FIFA Confederations Cup 2017 di Rusia, Piala Dunia FIFA 2018 di Rusia, Piala Dunia FIFA 2022 di Qatar, hingga Piala Dunia FIFA 2026.

Pada Piala Dunia 2026, Mita ditempatkan di divisi Broadcast Services. Posisi tersebut membuat Mita bertanggung jawab untuk menyambut tim broadcaster, mendistribusikan perangkat pendukung, hingga mengantar media partner ke lokasi kerja yang telah ditentukan.

Dengan kata lain, Mita adalah salah satu orang yang memastikan pertandingan bisa dinikmati secara lancar dari berbagai negara.

baca juga

Berawal dari Anak Kecil yang Terpukau Upacara Pembukaan

Ketertarikannya terlibat dalam acara FIFA tumbuh ketika dirinya kerap menyaksikan turnamen tersebut di depan layar kaca. Ya, waktu masih kecil, Mita sering menonton siaran Piala Dunia di televisi. Perhatiannya tidak hanya tertuju pada para pemain bintang. Ia juga penasaran tentang orang-orang yang membawa bendera ke lapangan saat upacara sebelum pertandingan.

"Aku suka mikir, 'Mau kerja di Piala Dunia'," kata Mita kepada CNN Indonesia.

Dari sana, mimpi bisa bergabung dalam acara FIFA terus tumbuh. Ia kerap mencari informasi, memperluas kemampuan bahasa Inggris, membangun jaringan internasional, hingga akhirnya berhasil lolos menjadi relawan FIFA.

Menurut pengakuannya, pengalaman pertamanya membuat Mita ingin terus kembali, lagi dan lagi.

"Kayaknya sudah jadi semacam salah satu tujuan dalam hidupku untuk terus jadi relawan FIFA sejak pertama kali partisipasi di Piala Konfederasi Rusia 2017 dan Piala Dunia Rusia 2018," ujarnya.

baca juga

Pengajar yang Bisa Lolos ke Stadion Piala Dunia

Hal menarik dari perjalanan Mita adalah latar belakangnya yang jauh dari dunia olahraga profesional.

Selama lebih dari dua dekade, ia dikenal sebagai pengajar bahasa Inggris. Profil LinkedIn miliknya menunjukkan bahwa ia pernah mengajar di berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan bahasa, seperti EF English First, Wall Street English Indonesia, Hivos, hingga berbagai program pelatihan korporasi.

Saat ini ia juga aktif sebagai trainer Business English dan public speaking. Rupanya, pengalaman mengajar itulah yang tanpa disadari menjadi modal penting saat bekerja sebagai relawan FIFA.

Kemampuan berkomunikasi dengan orang dari berbagai negara, menyelesaikan masalah dengan cepat, dan menghadapi situasi yang dinamis merupakan keterampilan yang sangat dibutuhkan dalam penyelenggaraan event global.

Tidak heran jika FIFA berkali-kali mempercayainya menjadi bagian dari tim relawan.

baca juga

Fakta yang Jarang Diketahui: Relawan FIFA Tidak Digaji

Sebagai relawan, Mita paham betul risikonya. Mita mengungkapkan bahwa relawan FIFA tidak menerima bayaran. Bahkan, biaya akomodasi selama bertugas juga harus ditanggung sendiri.

Ya, dalam blog pribadinya, Mita bercerita bahwa seluruh kebutuhan keberangkatan harus dipersiapkan secara mandiri, mulai dari visa, tiket pesawat, hingga tempat tinggal selama bertugas.

Ia bahkan mengaku sempat menyebarkan sekitar 110 proposal untuk mencari dukungan pendanaan. Hingga menjelang keberangkatan, hasilnya belum sesuai harapan.

"Saya hampir putus asa dan membayangkan tidak jadi berangkat," tulisnya.

Pada akhirnya, Mita tetap bisa berangkat.

“Lewat bantuan keluarga dan teman yang sangat paham betapa pentingnya perjalanan jadi relawan FIFA ini untuk saya, saya berhasil punya tiket pulang-pergi dan menyewa tempat tinggal,” katanya.

Walaupun tidak mendapatkan benefit uang, Mita tak mempermasalahkan. Sebab bagaimanapun. pengalaman yang diperoleh sulit dicari di tempat lain.

Relawan bisa bekerja bersama ribuan orang dari berbagai negara, melihat langsung proses penyelenggaraan event olahraga terbesar dunia, sekaligus membangun jaringan internasional. Bagi Mita, manfaat itu jauh lebih berharga daripada kompensasi finansial.

"Tujuanku sesederhana mau memberikan yang terbaik untuk turnamen, memperluas jaringan," katanya.

Dengan berbagai lika-liku pengalamannya menyiapkan berkas dan dana untuk terbang, Mita tidak kapok, malahan merasa belum puas dengan pengalamannya menjadi relawan yang keempat kalinya. Sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia, ia juga masih punya target selanjutnya.

"Piala Dunia 2030!" kata perempuan yang masih berstatus mahasiswi Magister Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Indraprasta PGRI ini.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.