aiesec in unila bahas peran pemuda dalam pariwisata berkelanjutan melalui impact circle 130 - News | Good News From Indonesia 2026

AIESEC in Unila Bahas Peran Pemuda dalam Pariwisata Berkelanjutan melalui Impact Circle 13.0

AIESEC in Unila Bahas Peran Pemuda dalam Pariwisata Berkelanjutan melalui Impact Circle 13.0
images info

AIESEC in Indonesia | Dokumentasi Pribadi


Lampung dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki kekayaan alam dan potensi wisata yang beragam.

Namun, di balik potensi tersebut, berbagai tantangan masih perlu dihadapi, mulai dari rendahnya daya saing pariwisata daerah hingga praktik wisata yang belum sepenuhnya memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Di sisi lain, perkembangan media sosial turut melahirkan fenomena viral tourism yang semakin populer di kalangan generasi muda. Sayangnya, tren tersebut sering kali hanya berfokus pada kunjungan sesaat dan konsumsi konten visual, tanpa diimbangi pemahaman mengenai dampak lingkungan maupun manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat sekitar destinasi wisata.

Berangkat dari kondisi tersebut, AIESEC in Unila menghadirkan Impact Circle 13.0 dengan tema “From Potential to Impact: Empowering Youth for Sustainable Tourism in Lampung”, Sabtu (6/6/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan di Aula Gedung E Lantai 4 Fakultas Hukum Universitas Lampung ini mengajak generasi muda untuk memahami bagaimana potensi pariwisata daerah dapat dikelola secara lebih berkelanjutan melalui kolaborasi, inovasi, dan keterlibatan masyarakat lokal.

Impact Circle 13.0 berfokus pada implementasi Sustainable Development Goals (SDG) 8, khususnya target 8.9 yang menekankan pentingnya pengembangan pariwisata berkelanjutan yang mampu menciptakan lapangan kerja, mendukung budaya lokal, dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

baca juga

Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk melihat bahwa pembangunan sektor pariwisata tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun pelaku industri. Namun, juga membutuhkan kontribusi aktif dari generasi muda.

Sebanyak 127 pemuda berusia 18–25 tahun dari berbagai latar belakang mengikuti kegiatan ini. Mereka diajak untuk melihat pariwisata tidak hanya sebagai aktivitas rekreasi, tetapi juga sebagai sektor yang memiliki potensi besar dalam mendorong pembangunan ekonomi lokal ketika dikelola secara berkelanjutan.

Dalam sesi “Youth-Driven Innovation: Transforming Potential into Impact”, Maura Cantyqa Candra mengajak peserta memahami bagaimana generasi muda dapat mengambil peran dalam menciptakan perubahan melalui ide, kreativitas, dan inovasi yang berangkat dari potensi yang ada di sekitar mereka.

Melalui sesi tersebut, peserta diajak melihat bahwa kontribusi terhadap pembangunan daerah tidak selalu dimulai dari langkah besar, melainkan dari keberanian untuk mengenali masalah dan menawarkan solusi yang relevan.

Sementara itu, Deddy Sulaimawan, S.H., M.M. melalui sesi “The Unseen Lampung: Turning Local Potentials into Real Opportunities” membahas berbagai potensi yang dimiliki Lampung yang masih belum banyak dimanfaatkan secara optimal.

baca juga

Peserta diajak memahami bagaimana pariwisata dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat apabila dikembangkan melalui pendekatan yang melibatkan komunitas lokal, memperkuat identitas daerah, dan memanfaatkan strategi promosi yang tepat.

Untuk membangun keterlibatan peserta sejak awal kegiatan, panitia menghadirkan sesi interaktif melalui Quizizz bertajuk “The Unseen Lampung”.

Melalui aktivitas tersebut, peserta diajak menguji pengetahuan mereka mengenai kondisi pariwisata daerah sekaligus mengenali berbagai fakta yang sering kali luput dari perhatian publik.

Tidak hanya memperoleh materi dari para pembicara, peserta juga terlibat dalam Forum Group Discussion (FGD) berbasis studi kasus. Dalam sesi ini, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok dan diminta menyelesaikan berbagai permasalahan pariwisata melalui metode Mystery Letter.

Melalui proses diskusi, brainstorming, pemetaan masalah, hingga penyusunan solusi dalam bentuk Masterplan Canvas, peserta belajar bagaimana sebuah gagasan dapat dikembangkan menjadi rekomendasi yang lebih terstruktur dan aplikatif.

Suasana kolaboratif menjadi salah satu hal yang paling terasa selama kegiatan berlangsung. Selain memperluas wawasan mengenai pariwisata berkelanjutan, peserta juga memperoleh kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kerja sama tim, dan pemecahan masalah melalui berbagai aktivitas yang dirancang secara partisipatif.

Pelaksanaan Impact Circle 13.0 turut didukung oleh berbagai mitra, yaitu BarePlus, There Is Glee, TOMORO Coffee, Raos Chicken, Sehati Katering, Bulbulkibul, Kue Fresh Al Ihsan, dan Senyoom Photobooth.

Dukungan dari berbagai pihak tersebut membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih nyaman dan mendukung keterlibatan peserta selama kegiatan berlangsung.

Bagi para peserta, Impact Circle 13.0 tidak hanya memberikan pengetahuan baru mengenai pariwisata berkelanjutan, tetapi juga menghadirkan perspektif baru mengenai peran generasi muda dalam pembangunan daerah.

Evan Hafiz Widodo, salah satu delegates, mengungkapkan bahwa kegiatan ini membantunya memahami hubungan antara sektor pariwisata dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Melalui Impact Circle 13.0, saya jadi lebih memahami kondisi pariwisata di Lampung dan kaitannya dengan SDG 8. Materi yang disampaikan juga membuka sudut pandang baru mengenai bagaimana sektor pariwisata dapat mendukung pertumbuhan ekonomi jika dikelola secara berkelanjutan,” ujarnya.

baca juga

Kesan positif juga disampaikan oleh Intan Zahra Nabila dari Organizing Committee Impact Circle 13.0. Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi yang ada di Lampung. Dengan demikian, peserta dapat lebih mudah memahami isu yang dibahas dan menghubungkannya dengan realitas yang mereka temui di sekitar.

“Impact Circle 13.0 menjadi pengalaman yang berkesan karena menghadirkan banyak insight baru melalui pembicara yang kompeten dan materi yang dekat dengan kondisi di Lampung. Hal tersebut membuat peserta lebih mudah memahami isu yang dibahas sekaligus melihat potensi yang dimiliki daerahnya,” katanya.

Melalui Impact Circle 13.0, AIESEC in Unila berharap semakin banyak generasi muda yang tidak hanya mengenali potensi daerahnya, tetapi juga memiliki keberanian untuk mengambil peran dalam mengembangkan solusi yang mendukung keberlanjutan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Sebab, masa depan pariwisata yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh destinasi yang dimiliki suatu daerah, tetapi juga oleh kualitas kolaborasi dan kepedulian generasi mudanya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.