marilah hentikan kebiasaan merokok selama berkendara - News | Good News From Indonesia 2026

Marilah Hentikan Kebiasaan Merokok Selama Berkendara!

Marilah Hentikan Kebiasaan Merokok Selama Berkendara!
images info

Ilustrasi Merokok saat Berkendara | Pexels | Ron Lach


Dalam peradaban manusia, merokok merupakan kegiatan komunal yang sejatinya memiliki fungsional tertentu. Sepanjang sejarahnya, aktivitas merokok kerap dikaitkan dengan hal-hal berbau spiritual dan pemujaan kepada roh leluhur. Namun kini, makna dari merokok sendiri telah lama bertransformasi menjadi semacam ‘budaya populer’, terutama bagi kaum pria. Bila mengacu pada nationalgeographic.grid.id, tak disangka bahwa ternyata justru kaum wanita adalah sasaran subjek dalam industri rokok. Bermula dari tahun 1920-an di Amerika Serikat, kampanye merokok menjadi lebih agresif seiring dengan berkembangnya ilmu pemasaran serta bangkitnya emansipasi wanita.

Adapun Philip Morris merilis merek bernama Virginia Slims pada tahun 1968, merek rokok pertama khusus wanita yang beken. Sebagaimana dikutip dari “Cigarette Century: the Rise, Fall and Deadly Persistence of the Product that Defined America” (2007) karya Allan M. Brandt, wanita dipersepsikan sebagai sosok yang elegan, cerdas, mandiri dan berdaya apabila dipadukan dengan merokok. Brandt menggambarkan wanita dalam iklan-iklan yang diproduksi tengah melakukan pekerjaan domestik seperti mencuci pakaian dan sejenisnya, dengan menonjolkan keglamoran selama merokok. Terbukti, frekuensi merokok untuk anak perempuan berusia 12 tahun keatas meningkat hingga 110%.

Walaupun demikian, muncul ‘efek’ yang berbeda tatkala pria yang merokok. Timbullah pemikiran bahwa pria perokok dianggap lebih maskulin, yang turut menghidupkan stigma bahwa pria yang tidak merokok itu tidak keren. Seorang psikolog bernama Marcelia Lesar mengungkap rokok seringnya dikorelasikan dengan pihak laki-laki. “Dalam pandangan sosial, pria perokok itu karakteristiknya cenderung terkait dengan sifat yang extrovert, pemberontak, serta berani mengambil risiko. Dengan kata lain, maskulin,” paparnya ketika dihubungi jurnalis CNN Indonesia (1/6/2016).

Lebih lanjut, kedekatan antara rokok dan pria juga berkaitan dengan konsep hegemoni. Banyak yang menilai bahwa tubuh pria memiliki imunitas yang lebih powerful daripada wanita, sehingga tidak lebih rentan terhadap bahaya merokok. Padahal, Marcelia sendiri menjelaskan bahwa tingkat kerentanan laki-laki dan perempuan sebenarnya tidak jauh berbeda.

Selain itu, perilaku merokok ini dianggap sebagai cara untuk meningkatkan kepercayaan diri. Berdasarkan dari hasil survei acak yang dilaksanakan, terungkap sekitar 23% responden merokok karena diledek teman, selain dari ajakan. Yang menarik, 5% diantaranya tertarik membeli rokok karena promosi langsung dari Sales Promotion Girl (SPG). Pada akhirnya, relevanlah bahwa perspektif merokok tidak lepas dari efek maskulinitas.

baca juga

Menilik Kebiasaan Merokok Penduduk Nusantara dari Akar Sejarahnya

Sejarawan asal Belanda, Berbard Hubertus Maria Vlekk dalam tulisannya di “Nusantara: History of Indonesia” menerangkan tembakau mulai mendapatkan namanya di Asia berkat orang Spanyol yang singgah di Filipina pada abad ke-16. Pelaut Spanyol diperkirakan memperkenalkan tembakau di sana, setelah dibawa dari Meksiko dan tiba di Nusantara pada 1575. Pada selanjutnya, tembakau menyebar masif seiring dengan penanamannya di Asia Tenggara.

Pada kesempatan lain, Thomas Sunaryo selaku pengajar tetap dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia mengungkapkan bahwa masyarakat Nusantara diketahui sudah lama mengisap rokok, mengadopsi kebiasaan dari para penjajah. Hal tersebut didokumentasikan baik dalam laporan utusan VOC tentang Sultan Agung yang mengisap rokok dengan pipa.

Dalam Babad Ing Sangkala juga dikisahkan para bangsawan Jawa yang merokok selama era kepemimpinan Senopati di Kesultanan Mataram. Malahan, kebiasaan yang terkait dengan rokok, dupa, kemenyan, hingga opium saat itu adalah hal ‘wajib’ bagi masyarakat Jawa. Tidak mengherankan, sampai sekarang rokok kretek serta kopi dan teh digunakan pula sebagai sesajen guna mendoakan leluhur.

Imbauan untuk Tidak Merokok Selama Berkendara

Masalahnya, aktivitas merokok di Indonesia seolah menjadi hal lumrah, bahkan saat masih mengendarai mobil atau motor. Padahal, merokok selama berkendara sesungguhnya membahayakan para pengguna jalan yang lain, selain untuk diri sendiri. Dalam konteks ini, hanya ada dua tipe golongan individu yang bisa ditengarai, yaitu mereka yang memang tidak mengetahui dan yang degil akan bahaya yang mengintai. Melalui kacamata sains, fkm.unair.ac.id (17/11/2025) mampu menunjukkan fenomenologi tentang perilaku merokok melalui teori Health Belief Model (HBM) yang umum dipakai oleh kelompok medis atau akademisi kesehatan.

Menggunakan komponen yang ada, merokok saat berkendara dapat dianalisis sebagai berikut:

Perceived Susceptibility

Mayoritas pengendara beranggapan bahwa merokok di ruang terbuka, terutama di jalanan tidaklah berbahaya bagi diri sendiri maupun orang lain. Hal ini berakar dari persepsi bahwa asap rokok akan cepat hilang, sehingga merokok saat berkendara dinilai aman.

Perceived Seriousness

Dampak kesehatan berupa penyakit pernapasan serta kardiovaskular dianggap hanya muncul apabila sudah merokok menahun. Ini yang melegitimasikan bahwa merokok sambil berkendara itu bukanlah masalah.

Perceived Benefits

Banyak pengakuan bahwa merokok dapat mengurangi stres berkendara, menghalau kebosanan ketika macet, menghilangkan kantuk, dan lain-lainnya. Manfaat ini yang cenderung diprioritaskan ketimbang risiko jangka panjangnya.

Perceived Barriers

Pemberlakuan sanksi sosial dan larangan yang tidak ketat menjadikan perilaku merokok saat berkendara sulit dihilangkan.

Cues to Action

Minimnya edukasi serta iklan rokok yang banyak bertebaran di jalan turut mengerdilkan tekad para perokok untuk berubah.

Self-efficacy

Pengaruh psikologis akan sulitnya menghentikan kebiasaan merokok berkontribusi besar terhadap perilaku merokok selama berkendara.

Melansir berbagai sumber, bahaya merokok saat berkendara dapat termanifestasi dalam berbagai hal. Pertama, merokok menyebabkan fokus pengemudi terpecah antara harus mengendalikan kendaraannya dan berwaspada di jalan raya, sehingga memperlambat waktu reaksi tatkala menghadapi kegentingan yang terjadi. Kedua, bara dari rokok sangat berpotensi mengenai pengendara lain karena terbawa angin, yang mampu menimbulkan luka serta mengganggu pandangan selama berkendara.

Selain itu, baranya juga sangat mungkin merusak interior kendaraan roda empat atau lebih, sehingga mengakibatkan malfungsi atau bahkan sampai memicu kebakaran. Ketiga, meningkatnya risiko kecelakaan bagi pejalan kaki maupun pesepeda yang disebabkan oleh berkurangnya kesiagaan pengendara yang merokok.

baca juga

Dari sisi hukum saja, aturan soal merokok sembari berkendara sudah tertuang dalam UU (Undang-Undang) Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Para pelaku yang tidak mematuhi aturan ini bakal dikenakan pidana kurungan paling lama 3 bulan dan denda paling banyak Rp750.000,00. Belum lagi dengan efek buruk rokok untuk kesehatan fisik jika dilakukan dalam jangka panjang.

Melalui pemaparan ini, Kawan GNFI yang perokok diimbau agar tidak merokok selama berkendara. Dengan melakukannya, Kawan sudah mengaktualisasikan banyak hal positif terhadap sesama maupun lingkungan sekitar, baik itu tentang kesehatan, hak asasi manusia (HAM), kepatuhan hukum, hingga aspek konservasi alam.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

PR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.