Potensi Indonesia mengenai keanekaragamannya patut untuk ditilik lebih lanjut. Salah satu yang berhak mendapatkan panggungnya adalah soal makanan tradisional. Bisa dibilang, makanan tradisional merupakan bentuk konkret kekayaan budaya Nusantara yang dapat diindra melalui pengecapan. Sebagaimana disadur dari mpar.upi.edu, makanan tradisional mampu menjadi alat komunikasi yang kuat, yang dalam perspektif geopolitik bertransformasi menjadi wujud diplomasi ‘halus’ demi mengembangkan hubungan bi- maupun multilateral antarnegara, sekaligus menegaskan identitas nasional. Tak mengherankan bahwa gastronomi kini umum dipakai sebagai pendekatan efektif demi hal tersebut.
Selain tentang perpolitikan, makanan tradisional pun memiliki peluang yang menjanjikan dalam sektor perekonomian serta pariwisata. Dengan datangnya para pelancong luar negeri untuk mengeksplorasi berbagai spot wisata kenamaan maupun hidden gem—yang turut membeli dan mengonsumsi produk kuliner khas daerah, pada akhirnya makanan tradisional punya andil yang nyata guna menggerakkan roda pertumbuhan ekonomi. Itu bisa diketahui dengan menjamurnya UMKM lokal yang ditenagai penduduk setempat yang mengomersialkan makanan tradisional.
Kali ini, ada satu jenis kuliner daerah yang ternyata telah tenar sejak lama, yaitu Ayam Cincane. Bukan sembarang makanan, keunikannya terletak pada bagaimana memaknai proses memasaknya hingga siap saji. Mari kita belajar mengenali Ayam Cincane yang unik itu!
Karakteristik secara Filosofis
Di balik kelezatannya, Ayam Cincane menyimpan sejarah berbasis adat yang menarik untuk dipahami. Menyitat idntimes.com (15/11/2023), makanan tradisional ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Kutai Kertanegara. Konon kabarnya, Ayam Cincane pertama kali dimasak oleh seorang juru masak istana bernama Cincane. Ia selalu berupaya menciptakan masakan baru yang menggugah selera makan.
Pada suatu hari, Cincane tengah mencoba memasak ayam kampung dengan olahan bumbu yang diraciknya sendiri. Alhasil, masakannya yang gurih dan pedas itu sangatlah lezat. Bahkan, disebut sang raja yang mencicipi masakan Cincane teramat menyukainya. Maka semenjak itulah, Ayam Cincane menjadi makanan favorit di Kerajaan Kutai Kertanegara, sekaligus merupakan kuliner khas Samarinda yang legendaris sampai sekarang.
Lalu, seperti apa filosofi yang dimaksud? Masih berhubungan dengan akar sejarahnya, masyarakat Kalimantan Timur menganggap Ayam Cincane tidak hanya sekadar makanan, melainkan layaknya simbol penghormatan serta ungkapan rasa syukur. Dalam tradisi setempat, proses memasaknya melibatkan beberapa langkah yang sarat makna. Ayam kampung yang digunakan melambangkan kemurnian dan ketulusan, sementara bumbu rempah yang meresap ke dalam daging menunjukkan kekayaan budaya dan keramahan masyarakat Kalimantan Timur.
Secara sekilas, proses memasak Ayam Cincane diawali dengan melumuri ayam dengan olahan bumbu yang tersusun atas bawang merah, bawang putih, kemiri, jahe, dan lengkuas. Setelah itu, ayam direbus bersama bumbu hingga meresap, kemudian dipanggang atau dibakar sembari sesekali diolesi dengan sisa bumbu dan santan, sehingga akan memberi warna merah khas pada kulit ayam. Warna merah yang mengilap berasal dari pemakaian cabai merah dan kemiri yang dihaluskan, membuat perpaduan rasa gurih, manis, dan pedas yang seimbang. Adapun setiap gigitan mengandung cerita mengenai tradisi, kearifan lokal, serta nilai luhur yang layak diwariskan kepada generasi muda. Ayam Cincane banyak disajikan dalam acara-acara penting seperti pernikahan, tasyakuran, dan upacara adat.
Panduan Memasak
Tidak afdal rasanya apabila hanya mengetahui pembuatan Ayam Cincane tanpa resepnya langsung. Dengan melansir poultryindonesia.com (11/11/2019), berikut ini adalah panduan praktis guna memasak Ayam Cincane di rumah.
Bahan-bahan yang Dibutuhkan:
- 1 ekor ayam kampung, dipotong 4 bagian (atau sesuai selera)
- 2 lembar daun salam
- 2 batang serai, dimemarkan
- 3 cm lengkuas, dimemarkan
- 3 cm jahe, dimemarkan
- 2 sdt garam
- 1 sdm gula merah sisir
- 500 mL santan dari ½ butir kelapa
- 1 sdm air jeruk nipis
- 2 sdm minyak goreng untuk menumis
Bahan Bumbu Halus:
- 8 butir bawang merah
- 5 siung bawang putih
- 5 buah cabai merah besar
- 4 buah cabai merah keriting
- 2 butir kemiri, disangrai
- 1 sdt terasi bakar
Cara Pembuatan:
- Panaskan minyak. Tumis bumbu halus, daun salam, serai, lengkuas, dan jahe sampai beraroma harum.
- Masukkan ayam. Aduk dan masak sampai berubah warna.
- Tambahkan garam dan gula merah. Aduk sampai merata.
- Tuangkan santan sedikit demi sedikit sambil dimasak sampai matang dan meresap.
- Tambahkan air jeruk nipis, lalu aduk merata.
- Sesudah itu, panggang ayam di atas panggangan sambil diolesi sisa bumbu sampai harum.
- Angkat, sajikan Ayam Cincane.
Inilah panduan terkait pembuatan Ayam Cincane. Apakah Kawan GNFI ingin segera ikut memasaknya di rumah?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


