stasiun gambir dulunya cuma halte kini jadi salah satu stasiun elit di indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Stasiun Gambir: Dulunya “Cuma” Halte, Kini Jadi Salah Satu Stasiun Elit di Indonesia

Stasiun Gambir: Dulunya “Cuma” Halte, Kini Jadi Salah Satu Stasiun Elit di Indonesia
images info

Stasiun Gambir | Irvan Cahyo N/WikimediaCommons


Stasiun Gambir adalah sebuah stasiun kelas besar tipe A yang berada di Jakarta Pusat. Terletak di ketinggian +16 meter di atas permukaan laut, Stasiun Gambir masuk dalam Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta.

Stasiun Gambir merupakan salah satu dari lima stasiun utama di Jakarta. Stasiun ini dilengkapi dengan empat jalur.

Stasiun Gambir memiliki sejarah panjang. Stasiun ini sudah berdiri sejak tahun 1870-an dan menjadi saksi bisu perkembangan kereta api di Batavia.

Sejarah Stasiun Gambir: Berawal dari Halte

Disadur dari Instagram resmi PT Kereta Api Indonesia (Persero), @kai121_, kawasan Stasiun Gambir dulunya adalah tanah rawa. Di sana, Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschapij (NISM) membangun sebuah halte di tahun 1871. Halte ini dinamakan Halte Koningsplein alias Halte Lapangan Raja.

Konon bangunan itu disebut halte karena bangunannya kecil dan sederhana. Akan tetapi, halte ini unik karena berada di Lapangan Raja era kolonial (saat ini menjadi Silang Monas) dan kawasan Noordwijk (sekarang Pasar Baru). Kala itu, halte ini menjadi pemberhentian kereta api dari Batavia-Buitenzorg.

Seiring berjalannya waktu, Halte Koningsplein makin ramai dan sibuk. NISM kemudian memutar otak untuk memenuhi kebutuhan dan pelayanan penumpang. Walhasil, mereka pun membangun Stasiun Weltevreden di bulan Oktober 1884.

Nah, Stasiun Weltevreden ini dibangun di lokasi berdirinya Stasiun Gambir saat ini. Tujuan pembangunannya adalah untuk menggantikan Halte Koningsplein dengan bangunan yang jauh lebih kokoh yang dilengkapi dengan atap besi dan ditopang tiang cor besi.

Di tahun 1913, Staatsspoorwegen (SS) mengambil alih Stasiun Weltevreden dari NISM. Pada 1928, SS melakukan renovasi besar-besaran pada stasiun ini.

Selayaknya desain khas stasiun buatan SS yang lain, bangunan stasiun diubah menjadi bangunan bergaya art deco. SS juga menambahkan atap di sisi utara sepanjang 55 meter.

Kemudian, di tahun 1937, Stasiun Weltevreden diubah menjadi Stasiun Batavia Koningsplein. Dikatakan bahwa Stasiun Batavia Koningsplein pernah menjadi stasiun paling sibuk di Hindia Belanda karena hampir semua kereta api jarak jauh singgah di sini.

Stasiun Batavia Koningsplein bertahan cukup lama, bahkan setelah Indonesia merdeka. Tak ada perubahan bentuk yang berarti sejak terakhir kalinya stasiun ini direnovasi.

baca juga

Namun, di tahun 1988, tepat saat pembangunan jalur layang Jakarta Kota-Manggarai, bangunan lama stasiunnya dibongkar dan diganti dengan bangunan baru.

Bangunan baru Stasiun Gambir diresmikan pada 5 Juni 1992. Dengan tiga lantai dan empat jalur kereta api, Stasiun Gambir kini menjadi salah satu stasiun paling sibuk di Indonesia.

Mungkin Kawan GNFI bertanya-tanya, dari mana asal mula nama “Gambir”, mengingat tidak ada sejarah yang pernah menyebut kata tersebut sebagai nama stasiun.

Penyebutan “Gambir” sebetulnya tidak diketahui asal usul pastinya. Ada yang mengatakan bahwa di tahun 1922, masyarakat sering menyebut Koningsplein sebagai Lapangan Gambir. Banyak yang percaya jika di lapangan itu dulunya tumbuh banyak pohon gambir.

Di sisi lain, ada pula yang mengatakan kalau namanya diambil dari nama seorang Letnan Belanda keturunan Prancis bernama Gambier. Konon ia ditugaskan oleh Daendels untuk membuka jalan ke arah selatan.

Stasiun Gambir Kini

Stasiun legendaris ini tetap hidup dan melayani ribuan kepala yang berlalu-lalang setiap harinya. Stasiun Gambir melayani banyak rute di Pulau Jawa, seperti Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya.

Stasiun ini juga mudah diakses karena terhubung dengan moda transportasi lain. Selain itu, posisinya yang strategis membuat stasiun ini selalu ramai.

Tak hanya itu, stasiun ini cukup eksklusif karena tidak melayani kereta ekonomi subsidi. Banyak kereta api dengan rangkaian eksektif, luxury, dan panoramic yang berhenti di Stasiun Gambir.

Kawan GNFI, saat jalur layang KRL dibangun di tahun 1986, pemerintah sengaja memberikan warna yang berbeda-beda pada stasiun yang dilewati jalur tersebut, termasuk Stasiun Gambir. Pewarnaan ini bukan sekadar untuk keindahan saja, tetapi pembeda yang diharapkan bisa memudahkan penumpang untuk mengenali stasiun-stasiun tersebut.

baca juga

Nah, Stasiun Gambir sendiri diberi warna hijau. Warna ini diasosiasikan dengan alam, kesegaran, kehidupan, dan kedamaian.

Sebetulnya, saat ini Stasiun Gambir tidak melayani pemberhentian KRL Commuter Line. Stasiun “elit” di Jakarta ini digunakan sebagai pemberhentian Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ).

Akan tetapi, di pertengahan Juni 2026, Presiden Prabowo menginstruksikan agar Stasiun Gambir direnovasi dan dijadikan stasiun nasional. Tak hanya itu, rencananya, Stasiun Gambir juga akan terintegrasi dengan KRL.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.