Kawan GNFI mungkin pernah mengalami hal ini: checkout dua paket di jam yang hampir sama, bahkan dari toko yang sama-sama "berlokasi" di kota yang sama. Namun, yang satu sudah sampai sehari kemudian, sementara yang lain baru muncul tiga hari lagi. Status di aplikasi pun terlihat mirip-mirip saja: "diproses", "dikirim", lalu hilang entah ke mana selama beberapa hari.
Banyak orang langsung menyalahkan kurir atau menganggapnya sekadar kebetulan apes. Padahal, di balik fenomena yang sering dianggap "kebetulan" ini, ada sistem logistik yang cukup canggih dan kompleks yang bekerja diam-diam, mengatur lalu lintas jutaan paket setiap hari di seluruh Indonesia.
Yuk, kita bahas tiga alasannya, agar Kawan makin tahu bagaimana barang pesanan benar-benar berpindah dari toko ke depan pintu rumah.
Beda Gudang, Beda Jalur Sortir
Stok Toko A dan Toko B bisa saja disimpan di gudang berbeda kota, meski alamat tokonya sama. Begitu masuk sistem ekspedisi, kebanyakan paket di Indonesia tidak dikirim langsung dari titik asal ke tujuan, melainkan lewat sistem hub-and-spoke: dikumpulkan dulu di satu pusat distribusi, disortir, baru dikirim lagi.
Menurut ulasan Supply Chain Indonesia, penentuan lokasi hub ini mempertimbangkan jarak, waktu tempuh, kapasitas, dan frekuensi pengiriman, mengacu pada kajian Ghaffarinasab dkk. (2015) soal efisiensi jaringan hub dalam menentukan rute pengiriman.
Jika paket Toko A dan Toko B kebetulan disortir di hub berbeda atau masuk rombongan pengiriman dengan jadwal berbeda, waktu tempuhnya jadi tidak sinkron meski sama-sama dipesan di jam yang sama.
Last Mile: Tahap Akhir yang Justru Paling Rumit
Setelah lolos dari hub, paket masuk last-mile delivery, perjalanan terakhir dari gudang transit ke tangan Kawan. Tahap ini sering dianggap paling sederhana, padahal justru di sinilah banyak hal tak terduga terjadi.
Artikel BINUS Online mencatat tantangan utama last-mile di Indonesia berkaitan dengan infrastruktur dan rute, mulai dari jalan rusak, kemacetan, hingga perubahan alamat yang sulit diprediksi.
Data McKinsey yang dikutip Mobitech bahkan menyebut biaya last-mile bisa mencapai 53% dari total biaya pengiriman.
Setiap kurir dibagikan rute dan urutan antar berdasarkan kedekatan lokasi, bukan siapa yang pesan duluan. Jadi walau dua paket sama-sama "sudah tiba di kota tujuan", urutan antarnya bisa jauh berbeda, sehingga satu paket terkirim hari itu juga, sementara satunya baru besok.
Lonjakan Volume dan Beda Jenis Layanan
Momen seperti flash sale atau tanggal kembar membuat gudang dan kurir menerima order jauh lebih banyak dari hari biasa. Sebuah ulasan tentang penyebab paket terlambat mencatat bahwa lonjakan volume membuat proses sortir butuh waktu lebih lama dibanding hari normal, dan riset lain soal flash sale menyebut hal ini bisa menyebabkan overload pada gudang dan ekspedisi.
Saat order membanjir, gudang dan kurir tetap punya batas kapasitas. Dua toko langganan Kawan juga mungkin memilih layanan berbeda, satu reguler yang antre normal, satu lagi instan atau same-day yang diprioritaskan, sehingga waktu sampainya pun berbeda meski dipesan di jam yang sama.
Jadi, lain kali menemukan dua paket "kembar waktu pesan" tapi beda hari sampai, Kawan sudah tahu jawabannya: bukan soal nasib baik-buruk, melainkan jalur hub yang berbeda, rute last-mile yang tidak sama, sampai beban kerja gudang dan kurir yang sedang naik-turun. Makin tahu, makin maklum, ya, Kawan!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

