Jika hari ini seseorang ingin membersihkan lantai rumah, pilihannya nyaris tak terbatas. Ada cairan pembersih dengan aroma bunga, lemon, lavender, hingga alat pel modern yang dapat menyemprotkan cairan secara otomatis.
Namun beberapa dekade lalu, banyak rumah di Indonesia mengenal cara yang jauh lebih sederhana.
Tidak ada cairan pembersih berwarna-warni. Tidak ada teknologi pel otomatis. Yang ada hanyalah kelapa. Bukan airnya. Bukan santannya. Melainkan ampasnya.
Bagi sebagian generasi yang tumbuh pada era 1970-an hingga awal 2000-an, pemandangan ibu atau nenek menaburkan ampas kelapa ke lantai rumah bukanlah sesuatu yang aneh. Justru itulah salah satu teknik membersihkan lantai yang cukup populer pada masanya.
DetikProperti dalam artikel nostalgia mengenai tradisi mengepel menggunakan kelapa parut mencatat bahwa praktik tersebut pernah menjadi bagian akrab dari kehidupan rumah tangga Indonesia sebelum produk pembersih modern mudah ditemukan di pasaran.
Ketika Kelapa jadi Bagian dari Kehidupan Sehari-hari
Sulit menemukan bahan pangan yang sedekat kelapa dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Airnya diminum. Daging buahnya dijadikan santan.
Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar. Daunnya dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga. Bahkan setelah santannya diperas, ampasnya pun tidak langsung dibuang.
Menurut DetikProperti, masyarakat Indonesia sejak lama terbiasa memanfaatkan kembali sisa hasil olahan kelapa untuk berbagai keperluan rumah tangga. Di masa ketika produk pembersih belum mudah dijangkau semua kalangan, ampas kelapa menjadi salah satu alternatif yang tersedia hampir di setiap dapur.
Dari kebiasaan sederhana inilah lahir sebuah teknik membersihkan lantai yang diwariskan secara turun-temurun.
Mengapa Ampas Kelapa Bisa Membuat Lantai Bersih?
Pertanyaan ini mungkin muncul di benak banyak orang. Apa sebenarnya yang membuat ampas kelapa mampu membantu membersihkan lantai?
Tugumalang.id mengulas bahwa ampas kelapa masih mengandung minyak alami meskipun santannya telah diperas. Kandungan tersebut membantu mengikat debu dan partikel-partikel halus yang menempel pada permukaan lantai. Selain itu, tekstur serat ampas kelapa juga dapat membantu menangkap kotoran yang sulit terangkat hanya dengan sapu biasa.
Itulah sebabnya banyak orang tua dahulu percaya bahwa lantai yang dibersihkan menggunakan ampas kelapa akan tampak lebih bersih dan mengilap.
Metode tersebut juga dipercaya membantu mengangkat debu-debu halus yang sering kali tidak terlihat oleh mata. Meski demikian, cara ini bukan tanpa catatan.
Liputan6 dalam artikelnya mengingatkan bahwa sisa minyak alami dari ampas kelapa dapat membuat permukaan lantai menjadi licin apabila tidak dibersihkan kembali dengan baik. Karena itu, setelah proses penggosokan selesai, lantai biasanya tetap dipel ulang menggunakan air bersih.
Mungkin suatu hari nanti praktik ini tidak lagi digunakan secara luas. Namun kisahnya tetap layak dikenang sebagai bagian dari kecerdikan masyarakat Indonesia dalam mengelola sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.
Sebab di tengah dunia yang semakin modern, selalu ada pelajaran berharga dari generasi sebelumnya. Dan siapa sangka, salah satu pelajaran itu ternyata berasal dari segenggam ampas kelapa yang dulu membuat lantai rumah tampak bersih dan berkilau.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


