Sepanjang Juni 2026, masyarakat di berbagai wilayah Pulau Jawa dihadapkan dengan pemadaman listrik bergilir. Bahkan, di beberapa daerah, pemadaman listrik terjadi hampir setiap hari dengan kurun waktu kurang lebih 2-4 jam.
Kejadian ini dipicu oleh gangguan teknis pada dua unit pembangkit listrik besar serta terkendalanya pasokan batu bara untuk operasional PLN. Akibatnya, banyak sektor terganggu.
Banyak masyarakat yang mengeuhkan hal ini akibat kurangnya informasi terkait waktu pemadaman. Tak hanya itu, matinya listrik turut mengganggu rutinitas harian masyarakat hingga operasional usaha mikro.
Membandingkan Efisiensi Solusi Cadangan Listrik
Melihat fenomena ini, Ir. Hasyim Asy'ari, S.T., M.T., IPM, Dosen Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), menekankan bahwa rumah tangga mulai harus memikirkan kemandirian energinya masing-masing.
Menurutnya, golongan yang paling terdampak dari pemadaman listrik ini adalah masyarakat yang belum memiliki cadangan listrik, seperti UMKM. Hal ini membuat produksi harus berhenti sejenak sembari menunggu listrik kembali menyala.
Hasyim menyebut, kondisi ini berbeda dengan institusi atau industri besar yang umumnya sudah memiliki sumber listrik cadangan. Biasanya, industri dengan skala lebih besar memiliki genset untuk memastikan produksi atau kegiatan mereka tetap berjalan.
Namun, genset menghasilkan polusi suara yang cukup bising serta emisi gas buang yang kurang baik bagi kualitas lingkungan sekitar. Oleh karena itu, sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan, Hasyim mendorong masyarakat untuk mulai melirik pemanfaatan energi terbarukan melalui instalasi panel surya.
Teknologi panel surya dianggap lebih unggul karena harganya yang semakin terjangkau dan biaya perawatan rutin yang relatif sangat murah.
“Kejadian ini sebenarnya sangat mendukung penggunaan energi terbarukan atau energi mandiri. Instalasi yang paling cepat dilakukan adalah panel surya karena teknologinya semakin terjangkau, perawatannya murah, dan pemasangannya relatif mudah,” jelasnya disadur dari news.ums.ac.id.
Keunggulan Sistem Hybrid Off-Grid untuk Hunian
Satu sistem yang sangat direkomendasikan untuk memenuhi kebutuhan listrik residensial adalah panel surya dengan tipe hybrid off-grid. Sistem ini memungkinkan energi matahari yang ditangkap pada siang hari untuk langsung dikonversi menjadi daya listrik guna memenuhi kebutuhan rumah.
Keunggulan utamanya terletak pada kemampuan baterai untuk menyimpan cadangan energi yang bisa digunakan saat malam hari atau ketika pemadaman terjadi. Dengan skema hybrid ini, sebuah hunian dapat tetap menyala dan beroperasi secara normal meskipun jaringan distribusi dari PLN sedang mengalami gangguan teknis.
“Kalau rumah sudah menggunakan panel surya hybrid off-grid, ketika siang hari PLN mati, rumah akan tetap menyala normal,” ungkap Hasyim.
Masyarakat Harus Siap Hadapi Pemadaman
Selain menggunakan panel surya, ia mengimbau agar masyarakat lebih siap saat terjadi pemadaman. Beberapa hal yang disarankannya adalah menyediakan sumber penerangan darurat, mengisi penuh daya perangkat elektronik, dan menyesuaikan aktivitas usaha yang bergantung pada listrik.
Di sisi lain, Hasyim meminta PLN selaku penyedia layanan listrik untuk meningkatkan komunikasinya kepada pelanggan. Perlu ada informasi yang gamblang mengenai jadwal dan penyebab pemadaman listrik agar masyarakat bisa melakukan antisipasi.
“Ketika masyarakat mengetahui jadwal dan penyebab pemadaman secara jelas, mereka bisa melakukan persiapan lebih baik sehingga dampaknya dapat diminimalkan,” sebutnya.
Tak luput, PLN juga perlu mendorong pengembangan energi baru terbarukan dan memperluas dukungan terhadap pemanfaatan panel surya di masyarakat. Penggunaan energi alternatif ini bisa membantu mengurangi beban kelistrikan nasional, sehingga bisa terhindar dari blackout.
“Jadi inisiatif warga menggunakan energi terbarukan mandiri akan sangat membantu menstabilkan kelistrikan di titik mereka masing-masing tanpa harus membebani sistem pusat,” tegas Hasyim.
Lebih lanjut, bagi masyarakat yang belum memiliki cadangan listrik, Hasyim menyarankan agar mulai merencanakan investasi energi mandiri sesuai kemampuan, baik melalui genset maupun panel surya.
“Sebagai preferensi, kami sangat mendukung penggunaan panel surya karena selain menjadi cadangan saat listrik padam, juga merupakan bentuk dukungan terhadap pengembangan energi terbarukan di Indonesia,” pungkasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


