Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur resmi melepasliarkan tiga individu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus morio) ke habitat alaminya di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur, pada Selasa (23/6/2026).
Ketiga orangutan yang diberi nama Bagus, Eboni, dan Ruby tersebut merupakan satwa eks-peliharaan warga yang berhasil diselamatkan.
Sebelum kembali ke alam liar, ketiganya telah menjalani proses rehabilitasi panjang di pusat rehabilitasi Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA).
Proses Rehabilitasi Bagus, Eboni, dan Ruby
Selama masa rehabilitasi, Bagus, Eboni, dan Ruby harus melewati berbagai tahapan krusial, mulai dari sekolah hutan untuk mengasah kemampuan memanjat dan mencari makan, hingga uji kesehatan menyeluruh untuk memastikan mereka bebas dari penyakit menular. Tahap akhir dilakukan di pulau pra-pelepasliaran, di mana interaksi dengan manusia diminimalisir guna mengembalikan naluri liar mereka secara penuh.
“Pelepasliaran ini adalah puncak dari kerja keras bertahun-tahun. Kami memastikan bahwa Bagus, Eboni, dan Ruby telah memiliki kemandirian yang cukup untuk bertahan hidup dan berkembang biak di habitat aslinya,” ujar perwakilan BKSDA Kaltim dalam keterangannya.
Signifikansi Kawasan Ekosistem Esensial (KEE)
Pemilihan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Gunung Batu Mesangat sebagai lokasi rilis didasarkan pada kajian kesesuaian habitat yang mendalam. Wilayah ini dinilai memiliki daya dukung lingkungan yang optimal, ketersediaan pakan alami yang melimpah, serta keamanan dari gangguan aktivitas manusia. Lokasi ini juga dipandang strategis sebagai benteng perlindungan populasi orangutan di Kalimantan Timur.
Upaya konservasi ini melibatkan kolaborasi multipihak, termasuk KPHP Kelinjau, Centre for Orangutan Protection (COP), serta dukungan dari sektor swasta dan masyarakat sekitar. Sinergi ini menunjukkan komitmen kolektif dalam menjaga kelestarian satwa dilindungi di Indonesia.
Meski telah dilepaskan, pengawasan terhadap ketiga orangutan ini tidak berhenti begitu saja. Tim monitoring dari COP akan melakukan pemantauan intensif selama tiga bulan ke depan. Tim akan mengikuti pergerakan satwa, mencatat jenis pakan yang dikonsumsi, serta memantau pola adaptasi mereka di lingkungan baru.
Langkah monitoring ini sangat vital untuk memastikan Bagus, Eboni, dan Ruby benar-benar mampu berintegrasi dengan populasi liar lainnya dan memastikan keberlanjutan ekosistem di kawasan Gunung Batu Mesangat tetap terjaga.
Pelestarian orangutan bukan sekadar menyelamatkan satu spesies, melainkan menjaga keseimbangan paru-paru dunia di tanah Kalimantan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


