Halo, Kawan GNFI
Keterbatasan lahan sering kali menjadi alasan utama bagi banyak institusi atau masyarakat perkotaan untuk tidak bercocok tanam. Padahal, kebutuhan akan pemenuhan gizi dari sayuran segar serta pentingnya ruang terbuka hijau sangat penting bagi lingkungan hidup dan kesehatan.
Solusi cerdas yang kini mulai banyak dilirik adalah sistem pertanian modern tanpa tanah, atau yang lebih dikenal dengan sebutan aeroponik. Melalui momentum pengabdian dan implementasi kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka, sebuah kolaborasi nyata diwujudkan oleh kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Tim Hibah Jarpak MBKM UNS (Universitas Sebelas Maret). Tim menginisiasi sebuah program kerja berkelanjutan bernama “Greenspace Aero Project: Pemanfaatan Lahan Terbatas dengan Membuat Kebun Aeroponik.”
Program pengabdian masyarakat ini dirancang secara khusus untuk diterapkan di lingkungan SLB D YPAC Surakarta. Tujuan dari kegiatan Hibah Jarpak MBKM UNS ini adalah mentransfer pengetahuan serta melatih keterampilan praktis, baik bagi mahasiswa sendiri maupun bagi ekosistem masyarakat sekolah.
Kata aeroponik berasal dari bahasa Yunani, yaitu aer yang berarti udara dan ponos yang berarti daya atau kerja. Secara sederhana, aeroponik adalah sistem budidaya tanaman di mana akar tanaman dibiarkan menggantung di udara dalam suatu wadah tertutup, tanpa menggunakan tanah maupun media cair yang menggenang. Sawi pakcoy mendapatkan pasokan makanan melalui semprotan kabut air yang sangat halus langsung ke akar-akarnya.
Kabut nutrisi ini dihasilkan oleh pompa air bertekanan tinggi yang melewati pipa pencar atau spray nozzle. Melalui metode aeroponik, tanaman mendapatkan pasokan oksigen yang jauh lebih melimpah dibandingkan dengan metode konvensional. Hal inilah yang memicu pertumbuhan vegetasi menjadi jauh lebih cepat, bersih, dan meminimalkan risiko penularan penyakit yang biasa terbawa oleh media tanah.
Komponen utama dari alat ini meliputi pipa lubang tanaman atau netpot sebagai tempat meletakkan tanaman agar posisinya stabil di bagian atas. Di bawahnya terdapat box kargo berupa ruang tertutup tempat akar menggantung bebas sekaligus wadah penampung kabut air agar tidak menguap keluar. Bagian dalam box dilengkapi dengan spray nozzle yang bertugas memecah air nutrisi menjadi partikel kabut halus, serta pipa pompa air beserta pompanya sebagai penggerak yang mendorong larutan nutrisi dari dasar box menuju ke komponen penyemprot.
Pelaksanaan program kerja Greenspace Aero Project oleh Tim Hibah Jarpak MBKM UNS (Universitas Sebelas Maret) ini tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui perencanaan matang dan rangkaian tahapan yang sistematis demi menjamin keberhasilan tumbuh kembang tanaman. Langkah awal adalah melakukan pendekatan edukatif melalui sosialisasi dan pemberian materi kepada pengelola sekolah, guru, serta perwakilan masyarakat di sekitar SLB D YPAC Surakarta. Materi yang disampaikan mencakup pengertian dasar aeroponik, keunggulannya dibandingkan dengan pertanian konvensional, pengenalan alat-alat mekanik, hingga simulasi perhitungan nutrisi tanaman.
Tim melakukan survei pasar dan memesan komponen-komponen esensial yang dibutuhkan seperti box kargo tebal, pipa PVC, pompa air bertekanan tinggi, spray nozzle, netpot, media semai berupa rockwool, serta benih sayuran berkualitas. Setelah instalasi mekanik selesai dirakit, bibit sayuran dipindahkan ke dalam netpot dan dimasukkan ke lubang tanam yang tersedia pada media aeroponik. Pompa mulai dinyalakan secara berkala untuk memastikan akar tanaman mendapatkan semprotan nutrisi secara konsisten, diiringi perawatan harian berupa pemantauan kadar kepekatan nutrisi serta kestabilan keasaman air.
Greenspace Aero Project ini berlangsung secara bertahap selama kurang lebih tiga bulan sepanjang tahun 2026. Di tengah masa pengadaan alat, tim memulai tahap awal pembibitan pada tanggal 6 Maret 2026 dengan menanam benih biji sawi Pakcoy ke media semai rockwool secara presisi. Hanya berselang satu hari, tepatnya pada tanggal 7 Maret 2026, media rockwool yang sudah ditanami biji sawi Pakcoy tersebut segera dipindahkan ke area terbuka demi mendapatkan introduksi sinar matahari awal.
Proses pemeliharaan berkala bibit sawi Pakcoy kemudian berjalan secara intensif dari tanggal 9 Maret hingga 20 April 2026, yang meliputi penyiraman rutin dan pemantauan terhadap serangan hama kecil. Memasuki tanggal 2 April 2026, tim melakukan pemindahan bibit sawi Pakcoy yang sudah cukup kuat dari media rockwool ke dalam wadah pot kecil atau netpot. Tahap pabrikasi fisik dan perakitan media aeroponik oleh Tim MBKM UNS dilaksanakan dalam rentang waktu dari tanggal 18 hingga 21 April 2026, mencakup pemotongan pipa, pemasangan pompa air, penyusunan nosel kabut, hingga pengujian kebocoran wadah.
Setelah instalasi dinyatakan siap, pada tanggal 22 April 2026 dilakukan pemindahan netpot berisi sawi Pakcoy secara massal ke dalam sistem instalasi utama aeroponik yang telah aktif. Tanaman dirawat secara intensif di dalam media aeroponik dengan pengaturan nutrisi makro dan mikro yang ketat mulai tanggal 23 April hingga 7 Mei 2026. Puncak dari seluruh rangkaian program ini ditandai dengan serah terima secara resmi seluruh modul media pembelajaran kebun aeroponik dari Tim Hibah Jarpak MBKM UNS kepada pihak pengelola dan guru SLB D YPAC Surakarta pada tanggal 8 Mei 2026.
Penerapan Greenspace Aero Project membawa dampak positif multidimensi bagi berbagai pihak yang terlibat, khususnya bagi mitra sasaran, mahasiswa, maupun lingkungan sekitar. Bagi pihak SLB D YPAC Surakarta, proyek ini berhasil mengoptimalkan ruang kosong yang semula tidak produktif menjadi kebun mini estetis. Hasil panen sayuran sawi Pakcoy dari kebun ini juga menyumbang pada ketahanan pangan sekolah karena menghasilkan sayuran yang higienis, bebas pestisida berbahaya, dan siap dikonsumsi langsung untuk mendukung pemenuhan gizi seimbang warga sekolah.
Bagi Tim Hibah Jarpak MBKM UNS sendiri, program ini menjadi wadah nyata penerapan ilmu pengetahuan sekaligus pemenuhan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa dapat mengasah kemampuan komunikasi sosial, manajemen proyek, kerja sama tim, hingga menumbuhkan kepekaan empati melalui skema Merdeka Belajar. Keberadaan kebun inovatif ini diharapkan dapat menginspirasi masyarakat luas di sekitar wilayah Surakarta untuk menerapkan metode serupa di rumah masing-masing demi mewujudkan konsep urban farming yang mandiri.
Program pengabdian yang dijalankan oleh Tim Hibah Jarpak MBKM Universitas Sebelas Maret di SLB D YPAC Surakarta ini membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukanlah penghalang besar untuk menciptakan ketahanan pangan dan ruang hijau yang produktif di lingkungan sekolah. Momentum serah terima instalasi yang telah dilaksanakan pada tanggal 8 Mei 2026 bukanlah akhir dari komitmen pengabdian mahasiswa, melainkan menjadi awal dari babak baru bagi seluruh warga SLB D YPAC Surakarta untuk mengelola kebun mandiri secara berkelanjutan.
Harapan besarnya, proyek percontohan dari civitas akademika Universitas Sebelas Maret ini dapat terus berjalan secara konsisten dan memicu lahirnya inovasi-inovasi hijau serupa di berbagai institusi pendidikan serta permukiman padat lainnya demi mewujudkan masa depan lingkungan yang lebih asri, sehat, dan lestari.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


