Kawan GNFI, ada satu konsep unik yang lahir dari bumi Kalimantan Barat dan hampir tidak ditemukan di tempat lain di Indonesia: Tidayu. Sebuah akronim yang merangkum tiga etnis utama yang hidup berdampingan di provinsi ini, yaitu Tionghoa, Dayak, dan Melayu.
Bukan sekadar singkatan, Tidayu adalah simbol hidup dari bagaimana keberagaman bisa bertumbuh menjadi identitas kolektif yang dirayakan bersama, bukan sekadar ditoleransi.
Tiga Etnis, Satu Identitas Bersama
Kalimantan Barat memiliki keberagaman budaya yang terdiri dari tiga etnis mayoritas, yaitu Melayu, Dayak, dan Tionghoa.
Ketiganya bukan sekadar hidup berdampingan, melainkan telah membentuk ekosistem budaya yang saling mempengaruhi selama berabad-abad, menciptakan perpaduan unik yang sulit ditemukan di provinsi lain manapun di Indonesia.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman mengungkap bagaimana semangat Tidayu ini bahkan telah diabadikan dalam bentuk fisik yang permanen.
Bundaran 1001 dibangun secara permanen di persimpangan Jalan Sakkok, Jalan Tani, dan Ahmad Yani sebagai representasi dari tiga etnis utama, yaitu etnis Tionghoa, Dayak, dan Melayu (Tidayu). Melambangkan semangat toleransi dan harmoni dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kalimantan Barat.
Lebih dari sekadar monumen, semangat Tidayu juga terpancar melalui berbagai festival budaya yang dirayakan bersama sepanjang tahun, mulai dari Karnaval Agustus hingga Gawe Akbar Festival Seni Budaya Melayu. Tiga komunitas ini saling berpartisipasi dan merayakan keberagaman sebagai kekuatan, bukan ancaman.
Ketika Bahasa Mandarin jadi Jembatan Lintas Etnis
Kawan GNFI, salah satu fenomena paling menarik dari keberagaman Kalimantan Barat adalah bagaimana bahasa menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai komunitas, bukan memisahkan mereka.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, Universitas Tanjungpura Pontianak, mengkaji secara langsung fenomena akulturasi budaya yang terjadi melalui interaksi mahasiswa lintas etnis di Program Studi Pendidikan Bahasa Mandarin.
Studi tersebut menemukan fakta yang menarik: mahasiswa etnis Melayu lebih banyak di prodi Pendidikan Bahasa Mandarin dengan ciri khas penuturan bahasa Melayu sebagai lingua franca dalam interaksi sehari-hari mereka. Artinya, bahasa Melayu berfungsi sebagai jembatan komunikasi lintas etnis, sementara bahasa Mandarin menjadi ruang baru tempat bertemunya berbagai latar belakang budaya.
Yang lebih menarik, mahasiswa yang berbudaya Tionghoa berakulturasi dengan mahasiswa dari etnis lain melalui ruang akademik ini, menciptakan pola interaksi sosial asosiatif yang organik.
Namun, akulturasi ini tidak berarti hilangnya identitas asli masing-masing komunitas. Bahasa asli telah dipelajari sejak kecil sehingga tidak mudah berubah apalagi berganti, sehingga identitas etnis tetap terjaga bahkan di tengah proses akulturasi yang berlangsung.
Cap Go Meh Singkawang, Festival Tionghoa yang Dirayakan Semua Orang
Salah satu manifestasi paling nyata dari harmoni Tidayu adalah perayaan Cap Go Meh di Kota Singkawang, yang telah berkembang jauh melampaui batas komunitas Tionghoa semata.
Riset yang dipublikasikan dalam Jurnal PIPSI (Jurnal Pendidikan IPS Indonesia) secara khusus mengkaji Cap Go Meh sebagai media pendidikan resolusi konflik di tengah keberagaman etnis Kota Singkawang.
Penelitian ini menemukan bahwa festival yang identik dengan komunitas Tionghoa ini justru telah menjelma menjadi ruang publik yang dirayakan lintas etnis. Bahkan, menjadi daya tarik wisata budaya internasional yang mengundang pengunjung dari berbagai negara setiap tahunnya.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah tradisi yang berasal dari satu komunitas bisa bertransformasi menjadi milik bersama, ketika ia dirayakan dalam suasana keterbukaan dan saling menghormati yang telah lama menjadi nilai hidup masyarakat Kalimantan Barat.
Keberagaman Budaya Tionghoa yang Berusia Ribuan Tahun
Kawan, untuk memahami mengapa harmoni Tidayu ini bisa berlangsung begitu lama dan stabil, penting untuk mengetahui seberapa tua akar budaya masing-masing komunitas di Kalimantan Barat.
Penelitian arsitektur yang dipublikasikan dalam JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur, Universitas Tanjungpura, mengungkap bahwa kebudayaan Tionghoa Kalimantan Barat berumur ribuan tahun.
Keberadaan komunitas Tionghoa di Kalbar bukan fenomena baru atau sekadar hasil migrasi modern, melainkan warisan peradaban panjang yang telah berakar jauh sebelum batas-batas negara modern terbentuk.
Kajian ini juga mencatat bahwa kebudayaan Tionghoa Kalimantan Barat mencakup berbagai dimensi kehidupan, mulai dari bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, hingga kesenian, Menjadikannya salah satu warisan budaya paling komprehensif dan kaya di Indonesia.
Pelajaran dari Kalimantan Barat untuk Indonesia
Kawan GNFI, di tengah berbagai diskusi nasional soal toleransi dan keberagaman yang kerap terasa berat dan penuh ketegangan, Kalimantan Barat menawarkan sesuatu yang berbeda: bukti nyata bahwa keberagaman etnis, bahasa, dan budaya tidak harus berujung pada konflik, melainkan bisa tumbuh menjadi identitas kolektif yang dirayakan bersama.
Konsep Tidayu bukan sekadar slogan atau kampanye pemerintah, melainkan produk organik dari proses panjang hidup berdampingan, saling belajar, dan saling menghormati antara komunitas Tionghoa, Dayak, dan Melayu yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Dan mungkin, di situlah letak pelajaran terpenting yang bisa kita ambil dari bumi Khatulistiwa ini: toleransi yang paling kokoh bukan yang dipaksakan dari atas, melainkan yang tumbuh dari bawah, dari keseharian, dari interaksi, dan dari rasa saling mengenal yang tulus.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


