panglima jilah local hero kalbar yang membuat anak muda kembali bangga menjadi dayak - News | Good News From Indonesia 2026

Panglima Jilah, Local Hero Kalbar yang Membuat Anak Muda Kembali Bangga Menjadi Dayak

Panglima Jilah, Local Hero Kalbar yang Membuat Anak Muda Kembali Bangga Menjadi Dayak
images info

Panglima Jilah, Local Hero Kalbar yang Membuat Anak Muda Kembali Bangga Menjadi Dayak | Foto: unsplash


Ada banyak pahlawan yang namanya tercatat dalam buku sejarah. Namun ada pula pahlawan yang bekerja diam-diam, bukan melalui medan perang atau panggung politik, melainkan lewat upaya menjaga identitas sebuah masyarakat agar tidak hilang ditelan zaman.

Di Kalimantan Barat, salah satu sosok tersebut adalah Panglima Jilah.

Namanya mungkin belum sepopuler tokoh nasional. Namun bagi banyak masyarakat Dayak, khususnya Dayak Kanayatn, Panglima Jilah telah menjadi simbol kebangkitan budaya lokal di tengah derasnya arus globalisasi. Ia menunjukkan bahwa adat bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan kekuatan yang masih relevan untuk menjawab tantangan masa kini.

Ketika banyak generasi muda mulai lebih mengenal budaya luar dibandingkan tradisi daerahnya sendiri, kehadiran sosok seperti Panglima Jilah menjadi menarik untuk dibahas. Ia berhasil membawa budaya Dayak keluar dari ruang-ruang seremonial dan menjadikannya bagian dari percakapan publik yang lebih luas.

baca juga

Dari Tokoh Adat Menjadi Ikon Budaya

Panglima Jilah dikenal sebagai pemimpin Pasukan Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR), organisasi adat Dayak yang aktif bergerak dalam pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat adat.

Dalam beberapa tahun terakhir, namanya semakin sering muncul dalam pemberitaan nasional. IDNTimes pernah melaporkan pertemuannya dengan Presiden Joko Widodo di Solo yang membahas berbagai isu, mulai dari kebudayaan hingga potensi perfilman yang mengangkat budaya Dayak. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa suara masyarakat adat kini semakin diperhitungkan dalam ruang publik Indonesia.

Namun yang membuat Panglima Jilah menarik bukanlah kedekatannya dengan tokoh nasional. Yang lebih penting adalah bagaimana ia mampu menjadikan identitas Dayak sebagai sesuatu yang membanggakan.

Selama bertahun-tahun, masyarakat adat sering kali menghadapi stereotip yang tidak sepenuhnya benar. Budaya mereka dianggap kuno, tertutup, atau tidak relevan dengan perkembangan zaman. Panglima Jilah hadir dengan pendekatan yang berbeda. Ia memperlihatkan bahwa budaya Dayak dapat berjalan berdampingan dengan modernitas tanpa kehilangan jati dirinya.

Mengubah Cara Pandang terhadap Budaya Lokal

Salah satu bentuk kepahlawanan yang jarang dibicarakan adalah kemampuan mengubah cara pandang masyarakat terhadap dirinya sendiri.

Tidak sedikit daerah di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa. Ketika budaya lokal dianggap kurang menarik, generasi muda cenderung menjauh dari tradisi yang diwariskan leluhurnya. Padahal, budaya merupakan fondasi identitas sebuah masyarakat.

ANTARAKalimantanBarat melaporkan bahwa hingga 2025 terdapat 98 karya budaya Kalimantan Barat yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Angka tersebut menunjukkan betapa kayanya warisan budaya yang dimiliki provinsi ini.

Namun pengakuan resmi saja tidak cukup. Budaya hanya akan tetap hidup jika ada masyarakat yang merasa bangga untuk meneruskannya.

Di sinilah peran Panglima Jilah menjadi penting. Melalui berbagai kegiatan adat, festival budaya, hingga pertemuan lintas komunitas, ia berupaya memperlihatkan bahwa menjadi Dayak bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan, melainkan identitas yang layak dirayakan.

Ketika Adat Menjadi Ruang Pertemuan

Menariknya, kiprah Panglima Jilah tidak hanya berbicara tentang pelestarian budaya.

Di Kalimantan Barat yang dikenal memiliki keberagaman etnis dan agama, budaya juga dapat berfungsi sebagai jembatan sosial. Berbagai kegiatan adat yang melibatkan komunitas Dayak sering kali menjadi ruang pertemuan bagi masyarakat dari latar belakang yang berbeda.

Hal ini menunjukkan bahwa budaya tidak selalu menjadi pembatas. Dalam banyak kasus, budaya justru menjadi alat untuk memperkuat kebersamaan.

Pendekatan seperti ini semakin relevan di tengah era digital ketika masyarakat sering kali terjebak dalam polarisasi dan sekat-sekat sosial. Sosok yang mampu membangun dialog melalui budaya memiliki peran yang tidak kalah penting dibandingkan tokoh politik atau pejabat publik.

Kepahlawanan yang Tidak Memerlukan Gelar

Ketika mendengar kata "pahlawan", banyak orang langsung membayangkan seseorang yang berjuang di medan perang atau memimpin gerakan besar. Padahal kepahlawanan memiliki bentuk yang jauh lebih beragam.

Ada yang memperjuangkan pendidikan. Ada yang menjaga lingkungan. Ada pula yang memastikan warisan budaya tetap hidup untuk generasi berikutnya. Panglima Jilah termasuk dalam kategori terakhir.

Ia tidak memperoleh gelar pahlawan nasional. Ia juga tidak dikenal karena jabatan politik tertentu. Namun kontribusinya dalam menjaga eksistensi budaya Dayak memberikan dampak nyata bagi masyarakat Kalimantan Barat.

Dalam konteks inilah istilah localhero menjadi relevan. Seorang localhero tidak harus terkenal secara nasional. Yang terpenting adalah pengaruh yang ia berikan terhadap komunitasnya.

Dan pengaruh tersebut terlihat jelas dari bagaimana identitas Dayak kini makin sering hadir dalam ruang publik, media sosial, festival budaya, hingga berbagai forum nasional.

baca juga

Cerita yang Masih Berlangsung

Berbeda dengan tokoh sejarah yang kisahnya telah selesai ditulis, perjalanan Panglima Jilah masih terus berlangsung.

Ia menjadi pengingat bahwa kepahlawanan tidak selalu lahir dari peristiwa besar yang mengubah jalannya sejarah. Terkadang, kepahlawanan hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: menjaga akar budaya agar tidak tercerabut dari tanah tempat ia tumbuh.

Kalau Kalimantan Barat memiliki banyak tokoh besar seperti Oevaang Oeray yang dikenang sebagai gubernur Dayak pertama atau Rahadi Usman yang tercatat sebagai pejuang daerah, maka Panglima Jilah menawarkan bentuk kepahlawanan yang berbeda.

Ia tidak sedang mengajak masyarakat melihat masa lalu semata. Ia sedang membantu mereka menemukan alasan untuk tetap bangga terhadap identitasnya di masa depan.

Di tengah dunia yang semakin seragam, mungkin itulah salah satu bentuk kepahlawanan yang paling dibutuhkan hari ini.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.