duta felari batch 6 gelar webinar training skill development soroti fenomena quarter life crisis di kalangan mahasiswa - News | Good News From Indonesia 2026

Duta FELARI Batch 6 Gelar Webinar Training Skill Development, Soroti Fenomena Quarter-Life Crisis di Kalangan Mahasiswa

Duta FELARI Batch 6 Gelar Webinar Training Skill Development, Soroti Fenomena Quarter-Life Crisis di Kalangan Mahasiswa
images info

@Dokumentasi Duta Felari


Sebanyak 6 Duta FELARI (Festival Luar Negeri) Batch 6 — Berlian, Afita, Chen-Chen, Fatihah, Jhonatan, dan Dia Britania menggelar webinar bertajuk Training Skill Development (TSD) pada Minggu (21/6/2026).

Acara ini menghadirkan Karina Diah sebagai narasumber dan menyasar isu pengembangan diri yang tengah dihadapi banyak mahasiswa Indonesia, baik di dalam maupun luar negeri.

Webinar ini merupakan bagian dari agenda besar Duta FELARI, yang berada di bawah naungan FELARI PPI Dunia. Mereka mengusung tema future ready. Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk membangun mindset dan jiwa kepemimpinan yang adaptif, sekaligus lebih peka terhadap berbagai peluang pengembangan diri yang tersedia di tengah dinamika dunia yang terus berubah.

Webinar ini berangkat dari keresahan bersama yang banyak dialami mahasiswa saat ini. Data menunjukkan 72% mahasiswa mengalami quarter-life crisis, sementara 60% di antaranya tidak mengetahui adanya peluang beasiswa maupun program kepemimpinan yang sebenarnya dapat mereka akses.

Kondisi inilah yang mendasari Duta FELARI Batch 6 menginisiasi webinar TSD, sebagai ruang belajar sekaligus refleksi bagi mahasiswa untuk lebih mengenali potensi dan arah pengembangan dirinya.

Dalam pemaparannya, Karina Diah mengupas perbedaan antara fixed mindset dan growth mindset, serta mengenalkan strategi menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) melalui pendekatan Vision, Understanding, Clarity, dan Ability sebagai bekal mahasiswa menghadapi ketidakpastian zaman.

baca juga

Pendekatan ini diharapkan dapat membantu peserta membangun pola pikir yang lebih adaptif dan berorientasi pada solusi, alih-alih terjebak pada kekhawatiran terhadap perubahan yang serba cepat.

Salah satu pesan yang paling membekas dari sesi ini adalah kalimat yang disampaikan Karina Diah, "Potensi tanpa aksi hanyalah mimpi. Aksi tanpa rencana hanya akan menghasilkan kelelahan. Aksi dengan rencana sama dengan transformasi nyata."

Pesan ini menegaskan pentingnya keselarasan antara mimpi, tindakan, dan strategi yang terencana agar setiap potensi yang dimiliki mahasiswa tidak berhenti menjadi wacana, melainkan benar-benar membuahkan hasil.

Tak hanya teori, Karina Diah turut membagikan action plan nyata yang ia jalani untuk menciptakan dampak, mulai dari bergabung dengan organisasi atau komunitas, menginisiasi proyek sosial, mengikuti program kepemimpinan, hingga membangun personal branding.

Menurutnya, langkah-langkah tersebut menjadi cara konkret agar "gelas kosong" dalam diri setiap individu dapat terisi dengan pengalaman dan kapasitas baru.

Antusiasme peserta juga terlihat pada sesi tanya jawab, terutama saat membahas isu leadership. Salah satu pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana strategi mengajak anggota organisasi agar lebih aktif tanpa harus memaksa.

Menjawab hal ini, Karina Diah berbagi pengalamannya sebagai seorang pemimpin yang memilih pendekatan merangkul, bukan menekan. Baginya, peran seorang nahkoda dalam organisasi bukan untuk mendikte, melainkan menciptakan suasana yang membuat setiap anggota merasa nyaman dan memiliki ruang untuk bertumbuh, sehingga organisasi dapat terasa layaknya rumah kedua.

Sesi ini membuat webinar terasa lebih personal, layaknya forum konsultasi yang membuka ruang cerita dan diskusi dua arah antara narasumber dan peserta.

Pertanyaan lain yang turut menyita perhatian peserta adalah bagaimana cara menghadapi rasa stuck dan low self doubt akibat kegagalan yang pernah dialami. Menanggapi hal ini, Karina Diah membagikan dua cara yang biasa ia terapkan.

Pertama, melakukan afirmasi positif dengan terus meyakinkan diri bahwa sebagai manusia, kita tetap memiliki kapasitas untuk berkarya meski pernah gagal.

Kedua, melakukan hal-hal yang disukai, seperti bermusik, sebagai bentuk self-healing agar tetap memiliki ruang untuk mengatasi rasa tidak mood.

baca juga

Selain itu, Karina Diah juga menekankan pentingnya kepercayaan dan dukungan keluarga sebagai fondasi utama, maupun mencari support system lain yang dapat membantu seseorang bangkit dari keterpurukan.

Kesan positif juga disampaikan oleh salah satu peserta, Zavirra Agnecia. "Webinar ini sangat bermanfaat, inspiratif, dan menambah wawasan saya tentang pentingnya growth mindset, kepemimpinan, serta kesiapan menghadapi peluang di masa depan. Terima kasih kepada panitia dan narasumber atas materi yang menarik dan memotivasi. Semoga kegiatan serupa dapat terus diadakan dengan topik yang semakin beragam dan relevan bagi generasi muda," ungkapnya.

Webinar TSD ini diikuti oleh 23 mahasiswa, baik yang berkuliah di Indonesia maupun mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri.

Antusiasme peserta menjadi bukti nyata semangat FELARI on Duty dalam mengabdi di bidang pendidikan, sekaligus menegaskan bahwa kebutuhan mahasiswa akan ruang belajar mengenai pengembangan diri dan kepemimpinan masih sangat tinggi hingga saat ini.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.